Cara Bersikap Dewasa dalam Kehidupan Sehari-hari

“Enak ya, jadi orang dewasa!”

Apakah saat kecil dulu Kamu pernah berpikir begitu? Bagaimana kabarmu sekarang? Bagaimana rasanya menjadi orang dewasa?

Menjadi dewasa ternyata bukan hanya tentang bertambahnya angka pada usia. Menjadi dewasa juga bukan berarti tumbuh lebih tinggi, berpakaian lebih rapi, tidak perlu pusing dengan PR sekolah, bukan pula berarti bebas melakukan apa saja.

Menjadi orang dewasa justru mengharuskan kita semakin banyak belajar, termasuk belajar bersikap dewasa. Berikut adalah beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk bersikap lebih dewasa dalam kehidupan sehari-hari. Selamat membaca!

Memahami Arti Dewasa

Akan sulit bagi kita untuk melakukan sesuatu yang masih abu-abu atau yang tidak jelas apa maksud sebenarnya. Ibarat sebuah pekerjaan, akan lebih mudah dilakukan jika sudah jelas job description-nya.

Begitu pula jika kita ingin bisa bersikap dewasa. Kita perlu memahami dulu apa artinya, supaya mendapat petunjuk untuk mencapainya. Jadi, apa maksudnya bersikap dewasa?

Selain kriteria usia dan kematangan biologis, KBBI menunjukkan kepada kita bahwa dewasa juga bermakna matang secara pikiran, cara pandang, dsb. Definisi ini selaras dengan yang dijelaskan dalam istilah psychological maturity.

Dalam kamus psikologi, psychological maturity berarti kemampuan untuk menghadapi pengalaman hidup secara efektif dan tangguh, serta mampu melakukan tugas-tugas perkembangan (sosial, kognitif dan biologis) dengan baik, sesuai dengan tingkat usianya.

Bersikap dewasa atau matang secara psikis, artinya sanggup merespon pengalaman-pengalaman hidup kita dengan tepat serta mampu melaksanakan tanggung jawab yang melekat pada diri kita.

Arti dewasa juga dapat kita pelajari dari kriteria yang diungkapkan oleh tokoh psikologi, Gordon Allport. Menurutnya, ada enam kriteria sehingga seseorang dapat dikatakan sebagai pribadi dewasa yang normal, matang, dan sehat secara emosi yaitu:

  1. Orang yang dewasa tidak hanya mementingkan dirinya, tetapi juga mau memikirkan dan melakukan sesuatu demi kepentingan banyak orang.
  2. Orang yang dewasa berusaha menjalin hubungan/relasi yang hangat, dekat, penuh kasih sayang dan bersikap toleran dengan orang lain.
  3. Orang yang dewasa memiliki tingkat penerimaan diri (self acceptance) yang tinggi, sehingga ia cenderung lebih stabil secara emosi.
  4. Mempersepsi hidup secara realistis (sesuai dengan kenyataan), mau belajar dan berlatih untuk mengembangkan keterampilan, serta berkomitmen terhadap pekerjaan.
  5. Memiliki selera humor dan mampu melihat dirinya secara objektif (mampu menyadari dan menilai diri sendiri).
  6. Memiliki pemahaman filosofis/prinsip hidup yang dapat mengarahkan dirinya menghadapi masa depan (Schultz & Schultz, 2017).

Rutin Mengevaluasi Diri Sendiri

Salah satu sebab mengapa orang dikatakan belum dewasa, bahkan dicap childish adalah ketika ia merasa selalu benar, bahkan merasa paling benar. Orang seperti ini tentu menyebalkan sekali.

Mereka cenderung sulit menerima kritik dan saran dari orang lain, namun ia sendiri tak mampu mengevaluasi diri. Oleh sebab itu, kita perlu berusaha meluangkan waktu untuk mengevaluasi diri.

Evaluasi diri penting agar kita mengetahui sudah sejauh mana kita melangkah dan apakah kita sudah melangkah ke arah yang tepat. Evaluasi diri juga sangat penting untuk menjaga hubungan yang baik dengan orang lain dan lingkungan.

Bisa saja kita melakukan kesalahan yang belum kita sadari. Pada momen evaluasi diri inilah, kita berusaha mengamati diri dan menilai apakah cara kita bersikap, bertutur, berpikir, berperilaku, merespon orang lain, dan mengambil keputusan-keputusan sudah tepat atau belum.

Jangan sampai kita mudah mendeteksi kesalahan orang lain, namun sulit menemukan kekurangan pada diri sendiri. Jangan sampai menunjuk hidung orang lain dengan satu jari, dan lupa bahwa empat jari yang lain sebenarnya mengarah kepada diri kita sendiri.

“Bukan ketidaktahuan yang memberimu masalah, melainkan apa yang kau tahu dengan pasti namun ternyata salah.” — Mark Twain

Belajar Cara Mengelola Emosi

Cara bersikap dewasa dalam kehidupan sehari-hari yang juga tidak kalah pentingnya untuk kita pelajari adalah manajemen emosi. Percaya atau tidak, mau mengakui atau tidak, tindakan kita sering ditentukan oleh emosi. Contohnya?

Rasa takut tidak punya uang menggerakkan orang untuk bekerja. Rasa takut tidak naik kelas atau takut mendapat nilai jelek, menggerakkan siswa untuk giat belajar atau mencontek temannya. Rasa marah membuat kita menghindari bertemu seseorang.

Rasa sedih juga bisa membuat orang malas makan atau sebaliknya, melampiaskan kesedihan dengan makan sebanyak-banyaknya. Rasa tertekan juga bisa menurunkan kinerja dan menghambat produktivitas.

Terdapat banyak strategi untuk mengelola emosi. Salah satunya adalah dengan menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan ketika kita menghadapi sesuatu yang memantik reaksi emosi.

Mengambil jeda sejenak sebelum merespon adalah salah satu cara untuk menurunkan tensi emosi. Dengan melakukannya fungsi logika akan kembali naik, sehingga kita lebih mampu berpikir dengan jernih dan merespon secara terkendali.

“Jangan terburu-buru bersedih. Baca dulu dengan teliti hatimu. Sedih yang salah sumber masalah.” — Joko Pinurbo

Berpikir Sebelum Bertindak

Ingin mendapatkan sesuatu sesegera mungkin atau saat itu juga adalah salah satu karakter anak-anak. Masih belum sempurnanya kemampuan untuk mengontrol diri membuat mereka terkadang menjadi impulsif. Kalau menginginkan sesuatu, mereka segera beraksi tanpa berpikir adanya konsekuensi.

Oleh sebab itu, cara bersikap dewasa yang perlu kita pelajari selanjutnya adalah membiasakan diri berpikir sebelum bertindak. Kita perlu terus berlatih untuk membuat pertimbangan dengan matang dan jangka panjang sebelum melakukan sesuatu.

Misalnya, ketika kita pergi berbelanja. Pusat-pusat perbelanjaan pasti akan menggoda konsumen dan melakukan berbagai strategi supaya kita akhirnya membelanjakan uang sebanyak-banyaknya dan mendatangkan keuntungan besar bagi mereka.

Jika tidak terbiasa berpikir sebelum bertindak, mungkin kita akan terkejut ketika sampai di rumah. Dompet atau saldo tabungan bisa terkuras drastis untuk membeli barang-barang yang diinginkan namun sebenarnya tidak dibutuhkan.

“Berpikirlah seperti seorang pemberani, bertindaklah seperti seorang pemikir.” — Henri Bergson

Mengambil Tanggung Jawab Pribadi

“Hidupku jadi menderita karena dia!”, “Situasi ini membuatku terpuruk!”, “Aku kayak gini karena mereka!”, “Aku nggak punya pilihan!”

Familiar dengan kalimat-kalimat di atas?

Pada titik tertentu di perjalanan yang sedang kita tempuh ini, mungkin kita merasa menjadi korban kehidupan. Bisa jadi kita memang benar-benar menjadi korban, tetapi mungkin pula kita yang terlalu menghayati peran sebagai korban.

Sikap atau tindakan orang lain yang buruk terhadap diri kita, tentu terasa menyakitkan. Setiap kegagalan atau rencana yang berantakan karena perubahan situasi yang mendadak dan tidak terprediksi, pasti sangat mengecewakan.

Dalam situasi pandemi misalnya, para siswa dan mahasiswa yang sudah jauh-jauh hari berimajinasi tentang momen wisuda secara nyata, harus pasrah dengan wisuda lewat layar laptopnya. Sementara itu, sebagian pekerja diberhentikan dari pekerjaannya. Sebagian pengusaha harus rela turun omset, bahkan gulung tikar dan memulai dari nol akibat perubahan situasi ini.

Sebenarnya masuk akal jika dalam keadaan terpuruk, kita menyalahkan orang lain atau keadaan. Boleh jadi, memang begitulah kenyataannya. Akan tetapi, jika kita terus membiarkan diri berada dalam kegelapan sambil mengumpat kepada kenyataan, kapan kita dapat mengubah keadaan?

Jika kita terus menerus bertahan di posisi sebagai korban dan menghayati ketidakberdayaan, kapan kita akan sampai pada apa yang kita dambakan?

Oleh sebab itu, mengambil tanggung jawab pribadi perlu kita lakukan. Agar mampu bersikap dewasa, kita perlu mengumpulkan keberanian untuk menerima kenyataan, tanpa menyalahkan orang lain, keadaan, apalagi menyalahkan Tuhan.

“Apapun yang terjadi, betapapun kerasnya dunia ini menekanku, di dalam diriku ada sesuatu yang lebih kuat, yang lebih baik, dan mampu melawan, menekan balik.” — Albert Camus

Bersikap Bodo Amat

Seni Bersikap Bodo Amat adalah salah satu buku karya Mark Manson yang sangat laris di pasaran. Singkat cerita, buku tersebut mengajarkan kepada kita untuk menetapkan prioritas.

Hidup sering menjadi rumit karena kita memedulikan hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Kehidupan orang lain, komentar orang lain, hingga iklan-iklan produk keluaran terbaru, adalah tiga dari sekian banyak contoh yang diberikan olehnya.

Kalau kita tidak mampu bersikap bodo amat terhadap persoalan yang tidak ada pengaruhnya bagi diri kita, energi kita akan habis tersedot ke sana. Pikiran kita akan lelah untuk memikirkan yang tak perlu dipikirkan.

Bersikap bodo amat juga dapat diterapkan untuk mencapai keberhasilan. Keberanian untuk bersikap bodo amat terhadap kesulitan dan banyaknya rintangan, akan mendekatkan kita dengan tujuan.

Bersikap bodo amat bukan berarti tidak boleh berempati kepada orang lain. Sikap bodo amat yang dimaksud adalah kemampuan kita untuk memilah apa yang dapat kita kendalikan dan tidak, serta apa yang perlu kita pikirkan dengan serius dan tidak.

“Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan banyak hal, tetapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar, mendesak, dan penting.” — Mark Manson

Berupaya Mendengarkan dan Memahami Orang Lain

Mendengarkan dan memahami orang lain juga menjadi cara untuk bersikap dewasa dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat dua macam cara untuk mendengarkan yaitu, mendengarkan untuk memahami dan mendengarkan untuk merespon.

Biasanya, orang menggunakan cara yang kedua, bukan yang pertama. Saat mendengarkan orang lain, kita biasanya sibuk memikirkan akan menjawab apa. Bukannya memperhatikan perkataan dan bahasa tubuh yang disampaikan oleh orang lain, kita justru sibuk dengan diri sendiri, dengan pikiran kita sendiri.

Terdapat perbedaan antara mendengar dan mendengarkan. Mendengarkan (listening) artinya berupaya menangkap makna atau memahami pesan dari orang lain. Sedangkan mendengar berarti sekedar menangkap bunyi tanpa terlalu mendalami maksud/pesan di baliknya.

Lalu, mengapa mendengarkan menjadi salah satu cara untuk bersikap dewasa?

Raab (2017) mengungkapkan bahwa active listening akan membuat hubungan kita dengan orang lain menjadi lebih positif. Orang yang didengarkan akan merasa nyaman, dipedulikan, dan merasa terbantu dengan keberadaan kita. Sedangkan diri kita, akan mendapat kesempatan untuk melatih keterampilan yang sangat berharga, yaitu mendengarkan.

Keterampilan mendengarkan tidak kalah pentingnya dengan kemampuan berbicara. Kemampuan ini perlu dimiliki terutama oleh orang-orang yang ingin menjadi pemimpin, terapis, konselor, psikolog dan berbagai profesi lain yang berhubungan dengan manusia.

Kemampuan mendengarkan akan membuat kita lebih mudah memahami keadaan dan kebutuhan manusia. Bukankah hampir semua pekerjaan pasti bersentuhan dengan manusia? Tukang batu sekalipun, perlu berinteraksi dengan manusia yang menggunakan jasanya.

Mendengarkan secara aktif juga menjadi salah satu cara untuk mengembangkan diri kita dan membantu perkembangan diri orang lain yang kita dengarkan.

Beberapa cara untuk menjadi pendengar yang lebih baik menurut Rabb (2017) adalah:

  1. Gunakan sudut pandang yang sama dengan orang yang sedang berbicara.
  2. Dengarkanlah untuk memahami pesan dan maknanya.
  3. Bangun empati.
  4. Hindari menghakimi orang lain.
  5. Lihat mata lawan bicara.
  6. Perhatikan kata-kata yang terhubung dengan bagaimana perasaannya saat itu.
  7. Perhatikan nada bicara, ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya.
  8. Konfirmasikan atau ulangi apa yang ia sampaikan dengan kalimat kita, agar ia semakin yakin bahwa kita memang memperhatikan dan peduli kepadanya.
  9. Tunjukkan bahwa kita memang betul-betul mendengarkan misalnya dengan menganggukkan kepala, atau dengan mengatakan “O.. iya”, “Lalu?” dsb. 

Berani Mengakui Kesalahan dan Memberikan Pemaafan

Cara untuk bersikap dewasa dalam kehidupan sehari-hari berikutnya adalah berani mengakui kesalahan, meminta maaf, dan mau memberikan pemaafan.

Maaf adalah kata yang oleh sebagian orang sulit sekali diucapkan. Sementara sebagian yang lain, mudah mengucapkan, tetapi tanpa kesungguhan.

Ego biasanya melarang kita untuk meminta maaf dengan cara menciptakan kesan bahwa seolah-olah posisi kita menjadi lebih rendah, jika meminta maaf. Padahal keberanian mengakui kesalahan dan kesungguhan untuk meminta maaf memerlukan jiwa yang besar.

Berani mengakui kesalahan adalah sikap dewasa yang menunjukkan bahwa kita memiliki niat baik untuk memperbaiki kesalahan/kekacauan/masalah yang telah terjadi.

Meminta maaf tidak cukup dilakukan hanya dengan perkataan. Meminta maaf perlu dibuktikan dengan tindakan, misalnya dengan mengganti kerugian yang dialami orang lain. Selain itu, bersikap dewasa juga dapat dilakukan dengan cara memberi pemaafan kepada orang-orang yang pernah menyakiti kita.

Memberikan maaf memang bukan perkara yang mudah. Apalagi jika yang menyakiti adalah orang terdekat, sosok-sosok yang sebenarnya sangat dicintai, orang-orang yang diharapkan melindungi, tetapi justru menghasilkan banyak luka secara psikologi.

Seorang anak bisa sangat sedih dan marah ketika orangtuanya sering membandingkan ia dengan anak tetangga. Bagi sebagian orang, mungkin ini terdengar sepele atau receh, ya?

Saya cukup sering berinteraksi dengan orang-orang yang mengalami guncangan psikis semasa kecilnya, karena merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi orang tua. Masalahnya, kesedihan dan kemarahan dari masa kecil itu masih mereka bawa hingga dewasa.

Beban-beban emosi yang tak terselesaikan, yang belum dilepaskan, bisa menjadi bom waktu di kemudian hari. Beberapa orang “hanya” mengalami masalah psikis ringan, namun beberapa yang lain mengalami somatisasi, kecemasan, hingga depresi.

Oleh sebab itu, mari terus berusaha dan belajar untuk memaafkan siapa saja. Memaafkan orang lain adalah bukti bahwa kita menyayangi diri sendiri. Memaafkan orang lain berarti kita berhenti merepotkan diri sendiri, dengan meletakkan koper-koper emosi yang tidak perlu kita bawa lagi.

Pemaafan adalah jalan untuk mencapai kelegaan, kedamaian, kemerdekaan, dan kesehatan.

“Jika hatimu bagai gunung berapi yang siap memuntahkan lahar, bagaimana kau berharap di dalamnya ada bunga yang mekar?” — Rabindranath Tagore

Bijak Mengelola Ekspektasi

Ekspektasi selalu mewarnai hari-hari kita. Kepada diri sendiri, kita memiliki ekspektasi. Kepada orang lain, kita juga berekspektasi. Kepada masa depan, kita menetapkan aneka angan-angan. Bahkan kepada masa lalu, sebagian orang masih juga berharap.

Ekspektasi alias harapan atau standar-standar tertentu yang ingin diwujudkan, akan menuntun manusia membuat perencanaan dan mengambil tindakan. Hanya saja kita perlu waspada dan memperhatikan bahwa ada tuntutan-tuntutan yang justru bisa menghasilkan penderitaan.

Sebagian ekspektasi yang kita miliki menghasilkan penderitaan karena kita salah meletakkan harapan. Sebagian ekspektasi yang lain, menghasilkan kepedihan karena kita bahkan tidak menyadari keberadaannya. Mereka diam-diam mengganggu pikiran kita.

Albert Ellis menyebutnya sebagai irrational belief. Ini adalah pemikiran-pemikiran tidak masuk akal yang sering menyebabkan kegelisahan atau ketidaknyamanan. Menurut Ellis, secara tidak sadar manusia menuntut dirinya sendiri dan orang lain untuk:

  1. Selalu bertindak dengan tepat dan mendapat pengakuan sesuai dengan yang sudah dikerjakan.
  2. Setiap orang harus bertindak dengan cara yang menyenangkan, penuh perhatian dan adil kepada diriku. Jika tidak, berarti ia pantas dihukum.
  3. Hidup ini harus selalu berjalan dengan baik, mudah, dan indah, sehingga aku tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan segala yang kuinginkan.

Apabila suatu hari Kamu merasa sangat kecewa atau sangat marah karena suatu kejadian, coba cek, bisa jadi sebenarnya jauh di dalam pikiranmu bersemayam irrational belief.

Contohnya, saat seseorang berlarut-larut dalam kesedihan karena ia tidak diterima di sekolah, kampus, atau di tempat kerja impiannya, sebenarnya tanpa sadar pikirannya sedang dikuasai oleh irrational belief nomor tiga, yaitu bahwa hidup ini harus selalu berjalan dengan baik, mudah dan indah.

Seandainya pikiran/ekspektasi tak masuk akal itu dilepaskan, ia akan lebih mudah menerima keadaan. Ia akan mengatakan, “Memang hidup ini tidak selalu mudah dan tidak selalu indah, maka tidak apa-apa jika aku tak berhasil. Tidak berhasil bukan berarti kalah atau hancur. Aku sedang diberi kesempatan untuk belajar menghadapi hidup yang sebenarnya.”

Oleh sebab itu, mengelola ekspektasi menjadi salah satu cara untuk bersikap dewasa dalam kehidupan sehari-hari. Bijak mengelola ekspektasi akan membuat kita lebih mudah lepas dari kesedihan dan lebih berani melanjutkan perjuangan.

Belajarlah Filsafat

Mungkin saran yang satu ini terdengar ganjil bagi orang-orang yang belum terbiasa. Filsafat dianggap sebagai ilmu kelas berat oleh sebagian orang. Sebagian lagi menganggap bahwa filsafat termasuk ilmu yang kurang jelas. Ada pula yang menganggapnya terlalu sulit, bahkan merepotkan (merumitkan pemikiran).

Namun demikian, filsafat berarti kecintaan akan kebijaksanaan. Bukankah orang yang dewasa adalah orang yang bijaksana? Yaitu orang yang tahu betul apa yang seharusnya ia lakukan demi kebaikan, sesuai dengan keadaan.

Filsafat akan menuntun kita memilih jalan berpikir yang tepat. Dalam psikologi kognitif dikatakan bahwa salah satu sebab mengapa orang menderita secara psikis adalah karena ada cara berpikir yang tidak benar.

Mengapa orang dianggap kurang mampu bersikap dewasa, salah satu sebab utamanya juga karena ada yang kurang tepat dari cara atau pola berpikirnya. Oleh sebab itu, kita perlu belajar caranya berpikir. Belajar filsafat itu menyenangkan. Tidak percaya? Coba dulu saja di sini.

Selamat mendewasa!

Saya adalah blogger dan penulis lulusan S1 Psikologi Universitas Airlangga. Selain menulis saya juga aktif sebagai asisten psikolog di Pusat Layanan Psikologi BE Psychology.