6 Cara Membahagiakan Orang Tua Tanpa Prestasi

Pernahkah Kamu melihat pencapaian orang lain kemudian merasa insecure? Orang lain sudah sampai mana, Kamu masih di situ-situ saja. Orang lain sudah punya segalanya, sedangkan Kamu belum punya apa-apa.

Kamu sebenarnya sudah berusaha, sudah mencoba berbagai macam cara untuk sukses dan berprestasi. Namun sayang sekali, masih gagal lagi dan lagi.

Kalau situasi hidup kita sedang dalam fasei itu, apakah artinya kita tidak mungkin bisa membahagiakan orang tua?

Mari, simak poin-poin berikut ini. Semoga Kamu mendapatkan jawaban, atas apa yang selama ini Kamu pertanyakan.

Memahami Bahasa Cinta Orang Tua

Konsep lima bahasa cinta (five love languages) dikemukakan oleh Dr. Chapman, seorang penulis dan konselor. Ia menjelaskan bahwa memahami bahasa cinta (bagaimana cara atau gaya seseorang dalam menyampaikan dan memahami cinta) dapat diterapkan di banyak konteks hubungan.

Memahami apa jenis bahasa cinta orang-orang yang kita cintai (pasangan, anak, orangtua, sahabat, dsb.) akan meningkatkan kualitas hubungan kita dengan mereka. Memahami bahasa cinta orang lain akan membuat mereka merasa bahagia, merasa dirinya dicintai, merasa berharga dan merasa dianggap penting.

Kira-kira yang mana jenis bahasa cinta orang tua kita?

Berikut adalah lima macam bahasa cinta menurut Dr. Chapman.

Words of Affirmation

Orang dengan bahasa cinta words of affirmation lebih merasa dicintai dan akan merasa bahagia jika ia mendapatkan ungkapan cinta dalam bentuk kata-kata seperti:

  • “Aku cinta sama kamu.”
  • “Kamu itu penting banget buat aku.”
  • Pujian/penghargaan atas pencapaiannya (“Kamu hebat, aku bangga sama kamu”).
  • Kata-kata indah atau quotes.
  • Note bertuliskan kata-kata lucu nan syahdu, chat, puisi atau mungkin sebuah surat cinta.

Jika orang tua kita termasuk orang dengan bahasa cinta word of affirmation, maka kita bisa menggunakan kata-kata untuk menumbuhkan bunga di hati mereka.

Sebagai anak, kita dapat mengatakan, “Terima kasih ya, Mama dan Papa sudah merawat dan mendidik aku dengan sangat baik selama ini. Aku sayang banget sama Mama dan Papa.”

Kita juga bisa menuliskan kalimat pendek seperti, “Love you, Ma”, di sticky notes kemudian menempelnya di kaca rias atau pintu kulkas. Selain itu, orang tua dengan bahasa cinta words of affirmation juga akan merasa bahagia jika kita mengirim chat berisi ungkapan cinta, ucapan terima kasih atas jasanya, pujian, kata-kata indah, dsb.

Quality Time

Jika bahasa cinta yang dominan pada orang tua kita adalah quality time, maka beliau akan merasa bahagia jika bisa menikmati waktu bersama orang yang dicintainya, termasuk kita, anaknya. Kehadiran anak di dekatnya, yang mau fokus berinteraksi dengannya, sudah cukup untuk membuatnya bahagia.

Seorang anak yang mau meluangkan waktu untuk mendengarkannya dengan penuh perhatian dan tidak sambil bermain gadget, akan membuat orang tua merasa dicintai, dianggap penting, dan merasa bahagia.

Physical Touch

Jika orang tua kita termasuk seseorang dengan bahasa cinta tipe physical touch, beliau akan merasa bahagia jika bisa dekat secara fisik dengan anaknya. Orang tua akan merasa bahagia jika anaknya mau memeluknya, mencium pipinya, memijat pundaknya, dll.

Sebagian anak yang sudah dewasa, jarang mengekspresikan rasa sayangnya kepada orang tua dengan cara ini. Mereka merasa malu atau aneh karena menganggap bahwa kontak fisik dengan orang tua adalah sesuatu yang kekanakan atau mungkin terasa berlebihan.

Namun jika setelah kita amati perilaku orang tua kita sendiri, setelah kita mencoba merenungkan kembali cara orang tua kita mengekspresikan cinta, ternyata kita menyimpulkan bahwa bahasa cintanya adalah physical touch, maka kita perlu belajar untuk juga mengekspresikan cinta kita kepadanya dengan cara yang sama.

Acts of Service

Jika orang tua kita termasuk orang yang memiliki bahasa cinta acts of service, maka beliau akan merasa bahagia jika anaknya melakukan sesuatu (tindakan nyata bukan hanya kata-kata) untuk membantunya, meski itu hanya hal sederhana.

Menolong mengambilkan sesuatu, mengantar atau menjemput, membantu membersihkan rumah, membantu mengangkat galon air, dsb. adalah contoh perilaku positif yang akan membuat orang tua dengan bahasa cinta acts of service merasa bahagia.

Receiving Gifts

Jika orang tua kita adalah tipe orang dengan bahasa cinta receiving gifts, maka untuk membahagiakannya kita bisa memberinya sesuatu sebagai hadiah.

Bagi orang dengan bahasa cinta tipe ini, sebenarnya tidak terlalu penting apakah hadiah itu murah atau mahal. Ia cenderung melihat adanya cinta dan akan bahagia ketika orang lain mau berusaha memberinya sesuatu. 

Memahami Ekspektasi Mereka terhadap Diri Kita

Salah satu alasan yang membuat anak merasa sedih bahkan menganggap dirinya sendiri gagal adalah ketika ia merasa tidak mampu memenuhi harapan orang tuanya.

Mungkin anak ini gagal mendapatkan nilai yang bagus di sekolah. Mungkin saja anak ini tidak pernah menang kompetisi. Mungkin saja ia gagal mendapatkan pekerjaan idaman. Mungkin juga anak ini belum punya rumah megah, mobil mewah, atau harta melimpah.

Kenyataan-kenyataan itu membuatnya mengira bahwa orang tuanya pasti kecewa terhadap dirinya. Setiap hari anak ini hidup dalam kegelapan dan terus merasa bersalah karena belum mencapai prestasi hidup satu pun.

Meski demikian, di beberapa kasus terdapat ketidaksesuaian antara apa yang dipikirkan oleh anak, dengan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh orang tua. Anak mengira belum bisa membahagiakan orang tua karena belum mencapai prestasi, sedangkan orang tua ternyata tidak mengharapkan itu dari anaknya.

Jadi, tidak ada salahnya jika seorang anak bertanya dan berbicara dengan orang tuanya tentang apa sebenarnya harapan mereka untuk dirinya. Bisa jadi kita sedang salah sangka. Bisa jadi ekspektasi orang tua kita sebenarnya sederhana, namun kita sendirilah yang memperumitnya! 

Menghindari Perilaku Berisiko

Kita bisa membahagiakan orang tua tanpa prestasi dengan berlari. Ya, berlari dan menjauh dari hal-hal buruk yang membahayakan.

Menghindari tawuran, menghindari tindak kekerasan, menghindari minuman beralkohol, menghindari narkotika, menghindari pergaulan bebas dan menghindari perilaku tak bermanfaat lainnya.

Jika seorang anak merasa belum mampu membahagiakan orang tua, paling tidak ia sudah berusaha agar tak menghancurkan hati dan harapan mereka.

Manusia, termasuk orang tua, memiliki kecenderungan menyalahkan dirinya sendiri (self blame) ketika hal buruk menimpa orang yang dicintainya. Ketika anak melakukan hal buruk, bisa jadi orang tuanya justru jauh lebih menderita.

Orang tua mungkin akan menyalahkan dirinya karena merasa tak berhasil mendidik anaknya. Orang tua bisa sangat kecewa dan sedih ketika anaknya melanggar aturan dan menerobos batas-batas dalam kehidupan.

Oleh sebab itu, jika Kamu termasuk anak yang mampu menjaga diri sampai hari ini, sebenarnya itu juga sudah sebuah prestasi yang perlu dihargai.

Bersikap Santun dan Menghormati Orang Tua

Apa yang Kamu rasakan jika saat sedang mengantre di kasir, tiba-tiba seseorang menyerobot barisan? Kemudian saat satpam mencoba mengingatkan, orang itu justru membentak si satpam dan berkata-kata kasar.

Sesabar-sabarnya manusia, dalam situasi semacam itu pasti akan terbit rasa marah di dalam hatinya, walau ia hanya memendamnya. Seandainya orang yang sedang terburu-buru itu bicara baik-baik dan minta izin dengan orang lain dalam barisan, mungkin ia justru akan diperbolehkan mendahului antrean.

Sikap yang positif saat berinteraksi dengan orang lain adalah hal mendasar yang secara umum kita inginkan. Sikap dan perilaku positif akan membuat siapa saja merasa nyaman. Begitu pula dengan para orang tua. Mereka akan bahagia apabila anaknya pandai menempatkan diri, mau menghormati, serta mampu bertutur dan bersikap dengan santun.

Kemampuan untuk berinteraksi secara positif dengan orang lain juga menjadi salah satu komponen yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki kecerdasan emosi.

Apakah Kamu termasuk orang yang cerdas secara emosi? Maukah Kamu terus belajar meningkatkan kecerdasan emosi?

Mungkin, kita merasa biasa saja secara intelektual. Mungkin, kita adalah manusia golongan rata-rata yang belum punya prestasi apa-apa. Mungkin, kita hanyalah butir-butir marimas yang tidak begitu terlihat di muka bumi ini. 

Biar pun demikian, asal kita mau terus belajar mengelola emosi, terus berlatih bersikap baik kepada orang lain terutama orang tua, bukan tidak mungkin itu akan menjadi jalan untuk membahagiakan mereka. Setuju?

Menjaga Kepercayaan dan Nama Baik Keluarga

Kepercayaan ibarat kaca yang harus diperlakukan dengan penuh kehati-hatian. Sekali dipecahkan, akan sulit dikembalikan. Inilah alasan mengapa penting sekali bagi seorang anak untuk berpikir sebelum bertindak.

Penting juga baginya untuk selalu menyadari bahwa bersama namanya, ada nama orang tua dan keluarga. Setiap langkah kebaikan atau kejahatan yang dilakukannya, akan terhubung dengan nama ayah, ibu, dan keluarganya.

Jika kepercayaan yang diberikan oleh orangtua dijaga dengan baik oleh anaknya, mereka pasti akan merasa lega dan bahagia. Mengapa demikian? 

Pada dasarnya, tidak ada manusia yang senang dikhianati. 

Oleh sebab itu, jika Kamu mampu menjaga kepercayaan dan nama baik orang tua meski berada jauh dari mereka, berarti Kamu anak yang luar biasa.

Mungkin Kamu memang belum mampu mempersembahkan sebuah prestasi untuk mereka. Tetapi Kamu sudah menjaga salah satu permata paling mahal di dunia, yang bahkan tidak dapat dibeli dengan apapun, yaitu nama baik dan rasa percaya.

Bersikap Disiplin dan Bersungguh-sungguh

Dalam hidup ada hal-hal yang dapat kita kendalikan, namun lebih banyak yang tidak. Prestasi, keberhasilan, komentar orang lain, pikiran orang lain dan perasaan orang lain, adalah contoh hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan. Sedangkan sikap kita, cara berpikir kita, cara kita merasa, upaya kita, kesungguhan kita, kedisiplinan kita, ada dalam kendali kita sendiri.

Memikirkan secara terus menerus hal-hal yang berada di luar kendali, sama dengan menyiksa diri sendiri. 

Oleh sebab itu, jika seorang anak ingin membahagiakan orang tua, salah satu caranya adalah fokus pada apa yang bisa dikendalikan olehnya. Ia perlu memusatkan perhatian dan energinya untuk tekun, disiplin, bersungguh-sungguh dan menghargai proses, bukan malah sibuk mematok hasil.

Semoga suatu hari nanti jerih payahnya akan membuatnya sampai pada titik yang dicita-citakan. Semoga suatu hari nanti ia bahagia dan mampu membahagiakan orang tuanya. 

Kalau pun ia tidak berhasil mencapai impian, pasti setiap peluh, air mata, kesungguhan dan kerja keras yang dilakukan, telah dicatat oleh semesta sebagai kebaikan atas dirinya dan kedua orang tuanya. Tidak ada keseriusan yang sia-sia.

Tuhan, berilah aku keikhlasan untuk menerima segala yang tak bisa kuubah, keberanian untuk mengubah segala yang bisa kuubah, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan di antara keduanya” — (Reinhold Niebuhr).