Bagaimana Cara Meningkatkan Kreativitas?

Kemampuan berpikir kreatif adalah salah satu dari sekian banyak anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia. Kemampuan tersebut membuat kita bisa hidup dengan mudah dan nyaman di dunia dengan berbagai fasilitasnya.

Orang-orang yang memiliki kreativitas tinggi mampu mencurahkan pemikiran atau gagasan, menciptakan karya atau melakukan tindakan-tindakan yang berdampak pada kehidupan kita.

Kemampuan berpikir kreatif menurut American Psychological Association adalah proses mental yang membuat manusia dapat berinovasi, menemukan solusi, atau memadukan berbagai unsur di berbagai bidang.

Sebuah solusi atau karya kreatif tidak harus sesuatu yang benar-benar belum pernah ada sebelumnya, namun dapat menggunakan objek atau ide-ide yang telah ada, kemudian membentuk hubungan yang baru di antara mereka. Mesin, gagasan sosial, teori ilmiah, dan karya seni adalah beberapa contoh hasil pemikiran kreatif manusia.

Memiliki kreativitas yang tinggi akan memampukan kita membuat karya yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Pertanyaannya, apa saja yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kreativitas? Mari, simak beberapa strategi di bawah ini!

Meningkatkan Pengetahuan dan Pengalaman

Salah satu cara untuk mengembangkan kreativitas adalah terus belajar dan memperbanyak pengalaman atau latihan. Weisberg (2006) menjelaskan bahwa pengalaman di masa lalu serta pengetahuan yang telah dimiliki akan meningkatkan kreativitas (kedalaman berpikir serta kemampuan memecahkan masalah).

Saat manusia menangkap sebuah kenyataan atau permasalahan di lingkungan melalui panca indra, kita akan menganalisis input sensoris itu. Kemudian, kita akan mempersepsi atau memaknai informasi yang masuk.

Hasil yang didapat dari proses mempersepsi atau memaknai informasi pada setiap orang, bisa sama atau berbeda, tergantung pengetahuan atau pengalaman yang sudah dimiliki sebelumnya.

Weisberg (2006) mencontohkan, jika ada dua orang menyaksikan pertandingan sepak bola, yang mana orang pertama mempunyai banyak pengetahuan seputar permainan sepak bola, sedangkan orang kedua tidak terlalu familiar dengan sepak bola, kemungkinan besar orang pertamalah yang akan mampu melihat lebih dalam pertandingan sepak bola di hadapannya.

Ia mungkin mampu mengkritisi bahkan memprediksi jalannya pertandingan. Sedangkan orang kedua yang kurang paham tentang sepak bola, hanya melihat pertandingan itu tak lebih dari bola yang diperebutkan dan terus berpindah dari kaki ke kaki.

Semakin kita memahami atau pernah mengalami sesuatu, otak akan semakin mudah memanggil informasi sebelumnya yang sudah tersedia, begitu kita membutuhkannya. Dengan kata lain, kekayaan pengetahuan dan pengalaman (dapat diperoleh secara alami atau disengaja dengan latihan) akan memudahkan seseorang memahami dan memberikan rekomendasi atau solusi (mengembangkan kreativitas).

Pernah melihat bagaimana seorang tukang service elektronik bekerja? Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan solusi dari rusaknya perangkat elektronik kita. Mereka adalah contoh nyata orang yang memiliki kreativitas berpikir yang tinggi pada bidangnya, karena memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman yang terekam dalam memorinya.

Mengambil Jarak dari Hal Biasa

Mengapa pensil dapat digunakan untuk menulis? Mengapa sandal membuat kaki kita terlindungi? Bagaimana hujan terjadi? Bagaimana rumput bisa tetap tumbuh meski diinjak berulang kali?

Pensil, sandal, hujan, dan rumput adalah contoh hal-hal yang mungkin kita anggap biasa karena sudah sangat familiar dengannya. Di satu sisi, keterbiasaan atau familiaritas dapat mengantarkan kita menjadi seorang ahli yang mampu menghasilkan ide atau karya kreatif. Di sisi yang lain, kita juga perlu menjauh dari kebiasaan agar mampu melihat perbedaan, kesalahan, atau kemungkinan-kemungkinan.

Dalam bukunya, The Art of Creative Thinking, John Adair menganjurkan salah satu cara mengembangkan kreativitas yaitu dengan meletakkan pengetahuan atau mungkin kesoktahuan kita sejenak, untuk melatih kreativitas.

Adair (2007) menjelaskan bahwa manusia sering terjebak oleh apa yang dianggapnya sudah biasa. Kita merasa sudah tahu segalanya tentang pensil, sandal, hujan, dan rumput. Pada saat merasa sudah tahu itulah, kita menutup diri dari kesempatan untuk berpikir kreatif dengan objek-objek tersebut.

Oleh sebab itu, kita perlu mengambil jarak dari pengetahuan kita sendiri agar mampu menyadari apa-apa yang mungkin selama ini belum diketahui. Coba pikirkan, bukankah air minum sebenarnya bisa direbus sendiri di rumah? Meski demikian, orang kreatif tak terjebak dengan kebiasaan itu. Ia justru memikirkan cara untuk mengemasnya sedemikian rupa, hingga kita mau membelinya.

Latih kreativitas berpikirmu dengan mengambil waktu sejenak dengan hal-hal yang dianggap biasa, kemudian kerahkan konsentrasi dan fokus perhatian untuk mencari apa yang mungkin belum Kamu ketahui darinya.

Memelihara Rasa Ingin Tahu

Only through curiosity can we discover opportunity.” — Clarence Birdseye

Pernah mengamati perilaku balita? Anak-anak melihat dunia dengan kacamata yang berbeda dengan orang dewasa. Mereka melihat apa yang ada di sekelilingnya dengan kekaguman dan keingintahuan. Tidak heran jika para orangtua biasanya merasa kewalahan karena diberondong pertanyaan oleh anak balitanya.

Menumbuhkan kembali rasa ingin tahu juga menjadi salah satu cara untuk mengembangkan kreativitas. Rasa ingin tahu dapat diwujudkan dengan membuat sebanyak-banyaknya pertanyaan terhadap segala sesuatu. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu harus kita ungkapkan kepada orang lain, tetapi dapat kita tujukan kepada diri sendiri.

Kemampuan untuk bertanya, akan membuat kita terlatih untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang diberikan oleh orang lain. Pertanyaan yang kita ciptakan juga akan membuat kita terdorong untuk mencari jawaban, membuka peluang lahirnya gagasan, atau karya yang baru.

Siapkan Buku untuk Mencatat Idemu

Ide dan inspirasi bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Pernah terbangun di malam hari dan terpikirkan sesuatu yang sangat menarik? Pernah mengikuti sebuah seminar kemudian menangkap suatu informasi penting? Pernah membaca buku dan menemukan kata-kata yang luar biasa?

Jangan biarkan temuan-temuan semacam itu menguap begitu saja. Catatlah segera karena tanpa melakukannya, kita biasanya mudah lupa. Catatan-catatan itu mungkin belum menghasilkan apa-apa hari ini. Akan tetapi suatu hari saat membacanya kembali, mungkin kita akan menemukan makna yang berbeda. Mungkin pula kita akan mampu menghubungkan atau merangkainya menjadi sesuatu yang baru dan berguna.

Adair (2007) menjelaskan bahwa mencatat ide-ide yang muncul atau inspirasi yang diperoleh dari luar diri kita, adalah cara untuk menyatukan komponen-komponen itu agar menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri kita. Dengan kata lain, mencatat ide dan inspirasi itu seperti sedang mengumpulkan bahan untuk menghasilkan produk kreatif.

Jangan Menunggu Datangnya Inspirasi

Saat ingin membuat sesuatu, tidak jarang kita menunggu hadirnya mood atau suasana perasaan yang positif dan inspirasi. Masalahnya, kita tidak tahu dan sering tak mampu mengendalikan kapan suasana perasaan yang mendukung serta inspirasi itu akan datang dan pergi.

“Genius is one percent inspiration and ninety nine percent perspiration.” — Thomas Alva Edison

Merujuk pada kisah Thomas Alva Edison, sang penemu bola lampu, ia terus melakukan percobaan meski berkali-kali menghadapi kegagalan. Ia bahkan tak menyebut kegagalan sebagai kegagalan, melainkan penemuan terhadap cara yang keliru untuk menyalakan bola lampu.

Jadi, Edison tidak tiba-tiba membuka mata dan mengetahui bagaimana cara dan bahan apa yang tepat untuk membuat bola lampu, kan?

Karya kreatifnya adalah buah dari keputusan untuk bertindak dan proses panjang dalam melakukan analisis, menyimpulkan, berimajinasi dan mengevaluasi tiada henti.

Melakukan Meditasi

Meditasi tak melulu dilakukan dengan duduk bersila sambil memejamkan mata. Inti dari poin ini adalah tenangkan pikiran dengan berbagai cara yang menurutmu sesuai dengan dirimu.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa perasaan yang tenang dan positif memang memudahkan munculnya ide segar daripada saat kita sedang sedih, marah, atau kecewa. Jika saat ini suasana perasaan yang negatif menghambat produktivitas dan Kamu tak sanggup menentangnya, maka berdamailah dengannya.

Luangkan waktu untuk mendamaikan perasaan, jangan memaksa diri untuk mencari jawaban atau menelurkan gagasan.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Cina pada 2014 menyimpulkan bahwa integrative body mind training atau meditasi singkat yang dilakukan secara rutin selama 30 menit selama tujuh hari, efektif untuk meningkatkan kreativitas. Orang-orang yang rutin bermeditasi menurut penelitian ini memiliki atensi atau kemampuan konsentrasi yang lebih baik, memiliki kemampuan lebih tinggi untuk meregulasi emosi, serta mampu menunjukkan performa kreatif yang lebih baik.

Gunakan Six Hats Technique

Six hats technique adalah upaya untuk melihat suatu permasalahan dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Konsep ini dikembangkan oleh Edward de Bono. Teknik ini dapat digunakan untuk memfasilitasi diri sendiri dalam berpikir kritis serta mengoptimalkan proses diskusi kelompok saat akan mengambil sebuah keputusan.

  • Black Hat: Cobalah untuk menggunakan perspektif yang negatif. Tanyakan, “Manakah bagian yang mungkin tidak berfungsi atau tidak berhasil?” Pertanyaan ini akan membantu kita mengantisipasi atau menyiapkan rencana cadangan dan menelusuri secara mendalam kemungkinan tentang mengapa sesuatu mungkin kurang tepat.
  • Blue Hat: Menggunakan topi biru berarti, berusahalah mengarahkan diskusi yang terjadi di dalam pikiranmu sendiri, maupun yang sedang kamu lakukan bersama orang lain, agar tak melenceng dan fokus ke tujuan akhir yang ingin dicapai.
  • Green Hat: Saat menggunakan topi hijau, bebaskan dirimu dari aturan, batasan, atau pun penghakiman atas ide-ide yang tersedia. Bukalah kemungkinan seluas-luasnya untuk menampung alternatif ide, pemikiran, atau rencana.
  • Red Hat: Menggunakan topi berwarna merah artinya, gunakan perasaan, emosi dan intuisimu. Apa yang dikatakan oleh hatimu saat merespon permasalahan yang menarik perhatianmu? Menggunakan topi merah juga berarti membayangkan atau mempertimbangkan bagaimana reaksi diri kita dan kemungkinan reaksi emosi orang lain jika suatu hal dilakukan/diputuskan.
  • White Hat: Lihatlah situasi yang sedang dihadapi secara objektif. Apa saja fakta dan data yang ada? Fokuskan pikiran pada informasi yang sudah tersedia, termasuk informasi dari masa lalu/masa sebelumnya untuk memetakan kemungkinan yang bisa terjadi pada masa berikutnya.
  • Yellow Hat: Saat menggunakan topi kuning, kita diminta untuk berpikir positif/optimis dan yakin pada rencana, ide, atau pemikiran yang sebelumnya telah disusun. Tanyakan, “Akan seperti apa hasilnya jika semua rencana ini berjalan dengan baik? 

Berpikir dengan Mind Mapping

Membuat peta pikiran atau mind mapping adalah cara lain yang dianjurkan untuk mengembangkan kreativitas. Teknik ini akan memudahkan kita melakukan brainstorming secara mandiri.

Mind map akan menstimulasi otak untuk mengalirkan ide-ide. Mind map juga memberikan kita kecepatan saat menuliskan ide, sehingga lebih banyak yang dapat direkam dan rendah risiko adanya ide yang terlewatkan. Tidak hanya itu, mind map mendorong kita memahami hubungan antarbagian sehingga kita mampu melihat suatu konsep, gagasan, topik atau permasalahan secara utuh dan teratur.

Pudjiastuti (2018) melakukan penelitian tindakan kelas kepada siswa kelas enam di salah satu sekolah dasar di Indonesia. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penggunaan mind map meningkatkan kualitas pembelajaran, meningkatkan kreativitas siswa, serta meningkatkan pemahaman mereka.

Jauhi Narkoba

Beberapa orang mengatakan bahwa mengembangkan kreativitas dapat dilakukan dengan cara ini. Benarkah? Griffiths (2017) menjelaskan bahwa tidak ditemukan bukti yang memadai untuk mendukung pernyataan tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Griffiths dan timnya mengungkap fakta tidak adanya hubungan antara penggunaan narkoba dengan peningkatan kreativitas manusia. Penggunaan narkoba justru menurunkan level kesadaran, sehingga lebih sulit bagi seseorang untuk memahami dan memecahkan suatu permasalahan.

Begitu pula jika narkoba dikonsumsi oleh seniman. Narkoba tidak meningkatkan kreativitas mereka. Mengonsumsi narkoba hanya akan mengubah bentuk atau mengubah gaya karya mereka, menjadi berbeda dari biasanya. Akan tetapi, tidak ditemukan peningkatan kualitas yang signifikan. Kalau bisa berkarya tanpa narkoba, kenapa harus merusak diri dan memperpendek umur dengannya?

Selamat berjuang mengembangkan kreativitas!

Saya adalah blogger dan penulis lulusan S1 Psikologi Universitas Airlangga. Selain menulis saya juga aktif sebagai asisten psikolog di Pusat Layanan Psikologi BE Psychology.