7 Cara Menghilangkan Rasa Suka pada Seseorang

Menyukai orang lain itu menyenangkan, tetapi juga bisa sangat menjengkelkan dan melelahkan. Sebagian orang sulit mengakhiri ketertarikan, meski ia sangat menginginkan.

Beberapa alasan mengapa orang ingin berhenti menyukai seseorang adalah, menyadari bahwa dirinya terjerat toxic relationship, menghadapi pahitnya perselingkuhan, perasaan suka yang bertepuk sebelah tangan, merasa tak sepadan, menganggap tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan, orang yang disukai sudah memiliki pasangan atau sebaliknya, ia sendiri sudah punya pasangan.

Di bawah ini adalah beberapa cara yang bisa kita coba untuk menghadapi rasa suka yang mengusik ketenangan dan mengganggu kehidupan.

Menerima Perasaan dan Belajar Mengekspresikan

Sedih, marah dan kecewa biasanya menyiksa mereka yang tidak bisa bersama dengan orang yang diharapkan. Jika Kamu sedang berada di posisi ini, sebelum berurusan dengan menghilangkan rasa suka, penting untuk belajar memberi ruang pada emosi yang dialami.

Izinkan dirimu untuk merasakan kehilangan. Beberapa orang terburu-buru menuntut dirinya sendiri seperti ini, “Aku nggak boleh sedih! Nggak boleh cengeng!”. Menurut pandangan psikoanalisis, penolakan atau ketidakjujuran atas apa yang sebenarnya kita rasakan justru menciptakan beban dan dapat menimbulkan ledakan emosi di kemudian hari.

Oleh sebab itu, bolehkan diri kita sejenak untuk merasakan kesedihan. Tetap terima diri kita bagaimanapun kondisinya dan pahami perasaannya. Kemudian ajak diri kita untuk belajar melepaskan, belajar mengekspresikan/mengalirkan perasaan.

Katarsis (metode melepas beban batin) dapat dilakukan misalnya dengan cara menuliskan apapun yang terlintas di pikiran, menangis, bercerita kepada orang yang dapat kita percaya, memukul bantal atau benda lain yang aman, hingga berteriak di pinggir pantai atau tempat lain yang memungkinkan.

Netralnya emosi atau leganya perasaan, akan membuat pikiran lebih jernih melihat persoalan, sehingga mudah menemukan strategi penyelesaian.

Mengumpulkan Alasan Penguat untuk Melepaskan

Hogg & Vaughan (2011) menjelaskan bahwa rasa suka terhadap orang lain berasal dari pertimbangan pikiran yang terjadi dengan cepat, yang memicu reaksi hormon-hormon penghasil rasa senang.

Karakteristik fisik (cantik, tampan, seksi, tubuh yang kuat, dll.), status sosial (kaya, mapan), sikap yang baik (ramah, hangat, perhatian) atau kualitas diri (rajin, pintar, dapat dipercaya dsb.) adalah beberapa hal yang kita tangkap dari orang lain, yang kemudian dapat memunculkan ketertarikan.

Oleh sebab itu, salah satu cara menghadapi rasa suka yang tidak pada tempatnya atau yang tidak seharusnya, dapat dilakukan dengan melibatkan logika atau mekanisme pikiran. Kita perlu memikirkan atau mengumpulkan alasan tentang mengapa tidak perlu menindaklanjuti rasa suka itu.

Memetakan alasan, mengingat konsekuensi/risiko yang mungkin harus kita tanggung, akan menyediakan penyeimbang, atau pengontrol supaya kita tidak terlalu silau (terpesona) oleh daya tariknya. Kita lebih mampu mengendalikan diri, bukan malah kita yang dikendalikan oleh perasaan.

Berhati-hati dengan Persepsi Ideal yang Kita Yakini

Proses munculnya rasa suka terjadi dengan cepat di otak, sehingga kita tak sempat menyadarinya. Tidak heran jika orang sering menyebut ini dengan istilah ‘jatuh’ cinta, karena seolah-olah terjadinya memang tiba-tiba.

Akan tetapi, kenyataannya kita tidak secara ajaib, tidak begitu saja menyukai seseorang tanpa alasan. Kita sebenarnya menangkap kualitas-kualitas tertentu pada orang lain, mempersepsi atau memaknainya, kemudian meyakini kebenarannya.

Menurut teori ABC (Antecedent-Belief-Consequences), apa yang kita rasakan ditentukan oleh keyakinan atau pemaknaan yang kita ciptakan di dalam pikiran. Selama ini mungkin kita menganggap bahwa yang menentukan perasaan adalah keadaan (situasi/apa yang terjadi/hal di luar diri kita).

Anggapan itu kurang tepat jika dilihat dari sudut pandang teori ABC. Teori ini mengatakan bahwa sebenarnya ada jarak antara kejadian (antecedent) dengan perasaan yang muncul (consequences). Penentu perasaan bukanlah apa yang terjadi, bukan hal-hal di luar diri, melainkan pemaknaan atau apa yang kita yakini tentang apa yang terjadi (belief).

Begitu pula saat menyaksikan foto seseorang yang cantik/tampan atau menunjukkan suatu pencapaian di sosial media. Jika kemudian muncul pemikiran (belief), “Dia sepertinya baik, aku pasti akan bahagia bersamanya”, kita perlu waspada.

Pemikiran bahwa orang itu baik adalah belief atau pemaknaan yang bisa memunculkan perasaan senang atau tertarik kepadanya, padahal belief kita belum tentu benar. Apalagi jika itu hanya berdasarkan kesan yang kita tangkap di dunia maya.

Oleh sebab itu, kita perlu berhati-hati dengan self image (citra diri) orang lain yang kita yakini. Sering kita salah menilai orang lain, termasuk ketika menilai orang yang kita sukai. Biasanya kita fokus pada sisi-sisi positifnya (yang belum tentu benar), sehingga menjadi sangat tertarik kepadanya.

Kadang kita mempercayai bayangan, terjebak oleh ilusi pikiran yang terlalu ideal tentang diri maupun kehidupan orang lain.

Fokus Mengembangkan Diri

Ingin menggusur dia dari pikiranmu? Fokuslah melanjutkan kehidupan. Tata kembali pikiran dan perasaan.

Ingat tujuan-tujuan yang ingin Kamu raih dalam hidupmu. Bukankah masih ada banyak hal yang ingin dilakukan, dilanjutkan, dikembangkan atau diwujudkan? Bukankah masih ada aspek kehidupan lain yang penting untuk kita pikirkan?

Pusatkan perhatian dan energi yang Kamu miliki untuk mengembangkan diri, melakukan hobi yang bermanfaat, dan melanjutkan tanggung jawab untuk belajar, berkarya atau bekerja.

Menjadi manusia yang produktif akan membuat pikiran kita teralihkan. Bukan hanya itu, menjadi produktif juga akan meningkatkan rasa percaya diri, meningkatkan skill yang kita miliki, memperluas pengetahuan dan meningkatkan kualitas kita sebagai manusia.

Mengisi Waktu dengan Teman dan Keluarga

Ada saat ketika upaya menghilangkan perasaan suka kepada seseorang membuat orang merasa sendirian, terpuruk, hampa dan kesepian. Sebagian orang bahkan merasa seperti tidak bisa hidup tanpa orang yang disukainya. Setelah semua kenangan yang pernah dilalui bersama, berat baginya untuk melepas kecenderungan perasaan kepada mantan pasangan.

Pada sebagian kasus lainnya, orang yang berupaya menghapus rasa suka setelah disakiti, dikhianati atau diputus oleh pasangannya, menghadapi situasi yang mana ia sering menyalahkan atau meragukan dirinya sendiri. “Ini salahku. Aku kurang …”, “Aku gagal menjadi pasangan yang baik”, “Aku mungkin memang tidak layak untuk dicintai”, “Apakah aku memang seburuk itu sehingga pantas ditinggalkan?”.

Dalam kondisi seperti itu, berinteraksi dengan orang-orang yang menyayangi dan peduli kepada kita, orang-orang yang sangat penting bahkan berjasa dalam hidup kita, akan membantu proses pemulihan. Teman dan keluarga bisa menjadi social support yang menguatkan.

Menjaga Jarak dan Mengurangi Interaksi

Beberapa hal yang dapat meningkatkan perasaan suka kepada seseorang adalah: proximity (seberapa dekat kita dengan dirinya), familiarity (seberapa kita merasa sudah mengenalnya), dan similarity (seberapa kita merasa memiliki kesamaan dengannya) (Hogg & Vaughan, 2011).

Hal-hal di atas memberi petunjuk kepada kita, tentang apa yang perlu dihindari agar rasa suka tak semakin tinggi. Dua diantaranya adalah menjaga jarak dan mengurangi interaksi.

Sering bertemu, sering berkomunikasi dan berinteraksi, masih sering kepo dengan kabarnya, memantau akun sosial medianya, adalah contoh-contoh perilaku yang akan menghambat proses melepas perasaan suka kepada seseorang.

Hal itu disebabkan karena adanya mere exposure effect. Mere exposure effect menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap suatu objek, dapat meningkatkan ketertarikan kita terhadapnya

Contoh sederhana penerapan konsep ini dapat dengan mudah kita temukan di dunia periklanan. Iklan suatu produk atau jasa ditampilkan secara berulang agar orang semakin familiar dan secara tak sadar juga semakin tertarik dengannya.

Begitu pula yang terjadi dalam interaksi kita dengan manusia lainnya. Semakin sering berinteraksi dengan seseorang, semakin kita merasa familiar atau kenal dengannya, semakin merasa nyaman dan lebih menyukainya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika beberapa orang mengeluh sulit berhenti menyukai apabila mereka masih sering bertemu dan berinteraksi dengan orang yang disukai. Menghilangkan perasaan suka, juga lebih sulit lagi jika dua orang itu sering bicara, bercerita atau curhat satu sama lain.

Self disclosure atau keterbukaan kepada orang lain (saling berbagi informasi yang sifatnya mendalam, bertukar pikiran, menceritakan apa yang sedang dirasakan) akan meningkatkan perasaan positif, meningkatkan ketertarikan, dan menimbulkan kepercayaan (Hogg & Vaughan, 2011).

Jika ingin menghilangkan perasaan suka terhadap seseorang, maka self disclosure dengan orang yang disukai perlu dihindari. Sebaliknya, jika ingin melanggengkan hubungan dengan seseorang, keterbukaan dengannya penting untuk dipertahankan.

Tidak Memaksa Diri untuk Cepat Melupakan

Kecepatan menjadi orientasi dan ambisi manusia masa kini. Dalam urusan perasaan juga demikian. “Bagaimana cara cepat untuk melupakan mantan?”, adalah salah satu pertanyaan yang sering saya terima.

Biasanya saya akan menjawabnya bukan dengan jawaban, tetapi dengan pertanyaan. “Kalau Kamu tidak bisa tidur, lalu kamu teriakkan dalam pikiran untuk segera tidur, apakah Kamu bisa segera tidur?”

“Tidak, malah semakin overthinking, semakin tidak bisa tidur”, jawab mereka.

Kemudian, saya akan bertanya lagi, “Kalau Kamu melarang anak kecil bermain di atas sofa dengan mengatakan jangan lompat-lompat di situ, apa yang terjadi?”

“Anak itu justru akan melakukan apa yang kita larang”, jawab mereka.

Begitu pula cara kerja alam bawah sadar kita. Perspektif psikoanalisis mengatakan bahwa kita merekam dan menyimpan seluruh hal yang pernah kita alami, hadapi, pikirkan dan rasakan di alam bawah sadar. Alam bawah sadar juga tidak mengenal kata “tidak” atau “jangan” meski kita sudah sering mengatakannya.

Saat kita mencoba memberi perintah kepada pikiran, “Lupakan Si Xxx!”, atau “Jangan ingat-ingat Si Xxx lagi!”, maka namanya justru akan semakin sering muncul. Semakin kita mengusir pikiran tentang seseorang, ia akan semakin sering timbul di mana saja, kapan saja, semaunya.

Selain itu, saat kita berkali-kali memberi perintah dengan mengatakan, “Lupakan Si Xxx!” kepada diri sendiri, sebenarnya kita sedang memperkuat ingatan tentang dirinya. Pada kalimat perintah itu, kita menyebut namanya atau membayangkan gambaran wajahnya. Kita sendirilah yang tanpa sadar mempertegas jalur di saraf pikiran untuk mengingat dirinya.

Oleh sebab itu, akan lebih baik jika kita tidak memaksa diri untuk melupakan dengan cara demikian. Hal yang perlu dilakukan adalah, menyadari apa yang kita pikirkan. Cukup diamati keberadaannya supaya kita lebih mudah mengarahkannya.

Kita memang tidak bisa mengendalikan apa yang muncul atau apa yang terlintas di dalam pikiran. Namun demikian, begitu kita menyadari isi pikiran, kita bisa memilih tindakan atau respon yang tepat untuk dilakukan.

Alamillo (2017) menyarankan jika ingin melupakan seseorang, gantilah namanya dengan kata yang mirip. Misalnya jika namanya adalah “Jamie”, gantilah dengan kata “Jelly”.

Nama Jamie perlu kita ganti karena nama itu telah terhubung dengan perasaan kita. Untuk menghindari semakin menempelnya nama Jamie di dalam ingatan, kita perlu menggantinya dengan kata yang tak berkaitan dengannya.

Saran lain yang diberikan oleh Alamillo (2017) adalah luangkan waktu untuk mengingat seseorang yang disukai itu. Ini mungkin terlihat berlawanan dengan tujuan (untuk melupakan). Namun, inilah yang sebenarnya diperlukan oleh memori yang berusaha kita tolak, yang berusaha kita tekan ke alam bawah sadar. Hal yang dibutuhkan adalah diberi ruang, disadari atau “didengarkan”.

Jangan lupa, bahwa setiap kali nama “Jamie” muncul, ganti dengan “Jelly”. Jika nama itu muncul di saat kita sedang tak mau diganggu, maka tundalah memikirkan tentang dia dengan cara mengatakan, “Baik, aku akan memikirkan Jelly nanti malam pukul 08.00.”

Ketika waktu menunjukkan pukul 08.00, lakukan apa yang ingin dilakukan (memikirkannya, menangisinya, menulis cerita tentangnya, dsb). Seiring waktu, Kamu akan bosan melakukannya. Suatu hari nanti, Kamu akan menengok kembali pengalaman ini dan menertawakan diri sendiri karena sibuk memikirkan Jelly, setiap pukul delapan, di malam hari.

Selamat mencoba!