12 Contoh Perilaku Abnormal

Perilaku manusia dapat dikategorikan sebagai perilaku normal dan sebagian lagi dapat dikelompokkan ke dalam perilaku abnormal. Perilaku normal membuat manusia mampu menjalankan fungsinya dengan baik serta memberikan dampak yang baik bagi dirinya maupun orang lain.

Sebaliknya, perilaku abnormal sering menimbulkan hambatan pada diri orang yang mengalami maupun orang lain yang berinteraksi dengannya. Oleh sebab itu, perilaku abnormal menjadi kajian penting dalam psikologi klinis. Psikologi klinis berupaya memahami perilaku abnormal dan mencari cara untuk menanganinya agar individu dapat pulih atau memiliki kemampuan untuk mengoptimalkan potensi dirinya guna menghadapi kesulitan atau permasalahannya.

Karakteristik Perilaku Abnormal

Kapan sebuah perilaku dapat dikatakan abnormal? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan perilaku abnormal?

Davison, dkk. (2014) menggunakan beberapa karakteristik untuk menjawab pertanyaan di atas. Perilaku dapat dikatakan abnormal jika jarang secara statistik, melanggar norma, menimbulkan ketidaknyamanan pada individu yang bersangkutan, menimbulkan ketidakmampuan atau disfungsi, serta merupakan respon yang tak diharapkan/tidak sesuai.

Kejarangan Statistik

Perilaku disebut abnormal jika perilaku itu jarang ditemukan. Davison, dkk. (2014) mencontohkan, episode depresi hanya terjadi pada satu persen orang dari keseluruhan populasi manusia.

Dapat dibayangkan pula kurva normal untuk menjelaskan ciri kejarangan statistik ini. Pada kurva normal, hanya sedikit sekali kelompok orang yang ada di kutub ekstrim kanan maupun kiri. Mayoritas orang berada di tengah-tengah kurva normal.

Seseorang dianggap normal jika perilakunya tidak menyimpang jauh dari rata-rata perilaku orang pada umumnya.

Melanggar Norma

Ciri lain dari perilaku abnormal adalah jika perilaku seseorang melanggar aturan sosial atau melanggar norma yang berlaku sehingga dapat mengganggu kenyamanan, menimbulkan kecemasan atau bahkan mengancam keselamatan orang lain.

Menimbulkan Tekanan pada Orang yang Mengalaminya

Karakteristik perilaku abnormal berikutnya adalah perilaku tersebut membuat orang yang mengalaminya merasa tertekan. Bukan hanya orang lain yang menanggung dampak dari perilakunya, ia sendiri juga merasakan ketidaknyamanan karenanya.

Orang-orang yang memiliki perilaku abnormal mengalami distres (jenis stres yang berdampak negatif pada manusia). Tidak jarang mereka merasa tersiksa atau menderita dengan apa yang dialaminya.

Disabilitas atau Disfungsi Perilaku

Perilaku abnormal menimbulkan hambatan pada keberfungsian individu yang mengalaminya. Ada beberapa hal yang sebelumnya mampu dilakukan, menjadi sulit dilakukan.

Terganggunya keharmonisan dalam rumah tangga, penurunan produktivitas kerja, kesulitan berkonsentrasi saat belajar, tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari secara mandiri (makan, tidur, dan bersih diri) adalah contoh bentuk ketidakmampuan yang dapat dialami oleh individu dengan perilaku abnormal.

Menunjukkan Respon yang Tidak Diharapkan

Suatu perilaku abnormal umumnya juga berupa respon yang tidak sesuai atau respon yang tidak diharapkan. Contohnya, orang yang mengalami kecemasan akan merespon suatu stimulus dengan rasa khawatir dan perilaku cemas yang berlebihan, yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Meski orang yang mengalami kecemasan mengetahui bahwa apa yang dikhawatirkan belum tentu terjadi, tetap sangat sulit baginya untuk bersikap tenang dan yakin bahwa semua akan baik-baik saja atau tidak semengerikan yang ada di benaknya.

Contoh lainnya, orang yang mengalami fobia juga merespon sesuatu yang tidak berbahaya dengan ketakutan luar biasa.

Balon bukan benda yang berbahaya dan respon wajar yang kita harapkan ketika orang melihat balon adalah perilaku biasa saja, santai, tidak perlu berteriak dsb. Namun orang yang fobia dengan balon akan menunjukkan reaksi yang tidak diharapkan seperti menjerit, berkeringat dingin, berlari kencang dan sangat ketakutan saat melihat balon.

Lima ciri di atas dapat membantu kita mengenali perilaku abnormal. Meski demikian, tidak semua ciri tersebut selalu dialami oleh seseorang yang berperilaku abnormal.

Seorang psikopat misalnya, ia tidak merasa tertekan oleh perilaku abnormal yang dilakukannya. Seorang psikopat yang tidak memiliki rasa bersalah, akan tetap tenang-tenang saja atau tidak mengalami distres pribadi ketika menyaksikan penderitaan orang lain.

Contoh Perilaku Abnormal

Penting untuk diperhatikan bahwa contoh-contoh berikut dijelaskan secara ringkas dan terbatas sebagai edukasi atau agar dapat dipelajari, bukan untuk mendiagnosis diri sendiri.

Apabila Kamu merasa memiliki kemiripan keadaan dengan salah satu atau lebih gangguan psikologi di bawah ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater.

Beberapa contoh perilaku abnormal adalah sebagai berikut.

Demensia

Demensia oleh orang awam biasanya disebut dengan istilah pikun. Umumnya demensia dialami oleh orang lanjut usia. Kesulitan mengingat banyak hal terutama peristiwa yang baru terjadi, adalah gejala utama demensia.

Dalam PPDGJ III dijelaskan bahwa demensia adalah suatu sindrom yang diakibatkan oleh penyakit/gangguan otak yang bersifat kronis-progresif yang ditandai dengan terganggunya: daya ingat, daya pikir, orientasi, daya tangkap, kemampuan berhitung, kemampuan belajar, kemampuan berbahasa dan kemampuan menilai (judgement).

Penurunan kemampuan-kemampuan tersebut mengakibatkan seseorang menjadi terganggu aktivitas hariannya seperti mandi, berpakaian, makan, bersih diri, buang air besar dan buang air kecil. Demensia umumnya juga disertai dan ada kalanya diawali dengan menurunnya kemampuan mengendalikan emosi, perilaku sosial dan motivasi hidup. 

Fobia

Kata fobia diambil dari nama dewa Yunani yaitu Phobos, yang takut kepada musuh-musuhnya. Fobia artinya ketakutan dan penolakan terhadap objek atau situasi yang sebenarnya tidak berbahaya (Davison, dkk., 2014).

Dalam DSM IV-TR disebutkan bahwa orang yang mengalami fobia:

  • Mengalami ketakutan yang berlebihan, tidak beralasan dan menetap, yang dipicu oleh suatu objek atau situasi.
  • Keterpaparan dengan pemicu menyebabkan kecemasan yang intens.
  • Orang tersebut menyadari bahwa ketakutannya tidak realistis.
  • Objek atau situasi tersebut dihindari atau dihadapi dengan kecemasan yang tinggi.

Beberapa contoh fobia adalah:

  • Claustrophobia (ketakutan pada ruang tertutup)
  •  Agoraphobia (ketakutan pada tempat umum)
  •  Acrophobia (ketakutan pada ketinggian)
  • Ergasiophobia (ketakutan menulis)
  • Pnigophobia (ketakutan tersedak)
  • Fobia sosial (takut dengan keberadaan orang lain) 

Gangguan Kecemasan Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder)

Orang yang mengalami GAD terus menerus merasa cemas meski itu tentang hal-hal kecil. Sebenarnya rasa cemas atau khawatir itu wajar dimiliki oleh setiap manusia. Namun demikian, orang yang mengalami GAD memiliki kekhawatiran yang parah.

Mereka menghabiskan sangat banyak waktu untuk mengkhawatirkan berbagai hal dan menganggap kekhawatiran mereka sebagai sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Contohnya, mereka sangat khawatir dengan kesehatan mereka, sangat khawatir jika terlambat menghadiri suatu pertemuan atau sangat khawatir tidak mampu menyelesaikan banyak pekerjaan. Hal-hal tersebut sebenarnya dapat diantisipasi atau masih dapat dikendalikan dengan upaya kita.

Menjaga kesehatan bisa dilakukan dengan makan makanan yang sehat dan olahraga teratur. Keterlambatan dapat dicegah dengan berangkat lebih awal. Menyelesaikan banyak pekerjaan dapat dilakukan satu demi satu, tanpa menunda-nunda. Akan tetapi, orang dengan GAD merasa tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghindari apa yang mereka khawatirkan sehingga mereka menjadi sangat mudah cemas.

Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

OCD juga merupakan salah satu jenis gangguan kecemasan yang mana seseorang dipenuhi dengan pikiran yang menetap dan berulang, yang tidak dapat dikendalikan sehingga individu terpaksa terus menerus mengulang tindakan tertentu.

Kondisi tersebut membuat orang yang mengalaminya merasa sangat tertekan dan terganggu keberfungsiannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam DSM IV-TR disebutkan bahwa orang yang mengalami OCD:

  • Memiliki obsesi yaitu pikiran yang berulang dan menetap, impuls-impuls atau dorongan yang menyebabkan kecemasan.
  • Memiliki kompulsi yaitu perilaku dan tindakan mental repetitif (berulang) yang dilakukan seseorang untuk menghilangkan ketegangan.

Dalam Davison, dkk. (2014) dicontohkan sebuah kasus orang yang mengalami OCD. Ia adalah wanita berusia 46 tahun. Wanita ini sangat takut mengalami kontaminasi dan terkena penyakit. Menurutnya kuman bisa berada di mana pun. Ia tidak nyaman bersentuhan dengan kayu, surat, benda-benda yang dikemas dengan kaleng dan segala sesuatu yang mengandung unsur berwarna perak.

Untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut, wanita ini melakukan berbagai ritual kompulsif yang menghabiskan hampir seluruh waktunya. Di pagi hari ia bisa menghabiskan waktu hingga empat jam untuk berulang kali mandi. Ia juga selalu mengelupas dulu lapisan luar sabunnya supaya sepenuhnya terbebas dari kuman.

Saat makan juga demikian. Ia makan dengan cara mengunyah setiap suapan sebanyak 300 kali. Itu dilakukannya dengan maksud menghilangkan kemungkinan kontaminasi kuman pada makanannya. 

Posttraumatic Stress Disorder (PTSD)

PTSD adalah kondisi yang berupa respon ekstrim terhadap satu atau beberapa peristiwa yang sangat menekan (peristiwa traumatis) yang dialami atau disaksikan secara langsung seperti : kematian atau ancaman kematian, cedera parah, kekerasan seksual atau kejadian lain yang mengancam keselamatan seseorang. Kejadian itu kemudian menciptakan ketakutan yang ekstrem dan rasa tak berdaya.

Dalam Davison, dkk. (2014) disebutkan tiga kategori utama gejala PTSD adalah sebagai berikut.

  • Seperti mengalami kembali kejadian traumatis

Individu sering teringat dengan kejadian traumatis yang pernah dialami atau disaksikan (mengalami kilas balik) dan mengalami mimpi buruk tentang itu. Individu juga bisa sangat menderita secara emosional ketika berinteraksi dengan stimulus yang menyimbolkan kejadian itu.

Misalnya petir yang mengingatkan dengan medan peperangan, tanggal tertentu yang mengingatkan dengan kejadian kekerasan seksual dsb.

  • Menghindari stimulus yang berkaitan dengan kejadian traumatis atau mati rasa/kehilangan responsivitas

Individu berusaha menghindari memikirkan tentang traumanya atau berusaha menghindari segala hal yang bisa mengingatkan ia pada kejadian traumatis itu. Individu juga bisa mengalami amnesia terhadap kejadian itu sebagai mekanisme mental yang tak disadari untuk menghindari mengingat kejadian traumatis.

Sedangkan mati rasa adalah menurunnya ketertarikan kepada orang lain, merasa terasing, serta sulit merasakan emosi positif. Hal ini akan menciptakan hambatan pada orang yang mengalami PTSD untuk berinteraksi dengan orang lain.

  • Meningkatnya ketegangan

Ketegangan yang dialami orang dengan PTSD berupa gejala seperti, sulit tidur atau sulit mempertahankan tidur (sering terbangun saat sedang tidur), sulit konsentrasi, sangat was-was dan mudah terkejut berlebihan.

Bipolar

Bipolar adalah salah satu gangguan suasana perasaan (mood) yang ditandai dengan episode berulang yang mana suasana perasaan seseorang dan tingkat aktivitasnya mengalami perubahan yang ekstrim.

Pada waktu tertentu orang dengan bipolar mengalami peningkatan suasana perasaan yang positif disertai dengan penambahan energi dan aktivitas (mania atau hipomania) dan pada lain waktu terjadi penurunan suasana perasaan disertai dengan penurunan energi dan aktivitas (depresi).

Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan terganggunya emosi, pikiran dan perilaku. Orang dengan skizofrenia mengalami kondisi yang mana berbagai pikiran tidak saling berhubungan secara logis, memiliki persepsi dan perhatian yang keliru, afek (respon emosi) yang datar atau tidak sesuai, serta berbagai gangguan motorik (gerak anggota tubuh) yang terlihat aneh.

Orang yang mengalami skizofrenia menarik diri dari orang lain dan terpisah dari realitas atau kenyataan. Mereka hidup dalam fantasi yang penuh dengan delusi dan halusinasi (Davison, dkk., 2014).

Delusi atau waham adalah keyakinan yang berlawanan dengan kenyataan. Contoh delusi: meyakini bahwa isi pikirannya dimasuki oleh pikiran orang lain, meyakini bahwa orang lain bisa membaca pikirannya, meyakini bahwa perilaku dan perasaannya dikendalikan oleh kekuatan diluar dirinya.

Sedangkan halusinasi adalah distorsi persepsi yang berupa suatu pengalaman indrawi tanpa adanya stimulasi dari lingkungan. Contohnya, mendengar pikirannya diucapkan oleh suara lain yang bukan dirinya, mendengar suara-suara yang saling berdebat, mendengar suara-suara yang mengomentari perilakunya dll.

Depresi

Depresi merupakan kondisi yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang mendalam, perasaan tidak berarti dan bersalah, perilaku menarik diri dari orang lain, sulit tidur, kehilangan selera makan, kehilangan hasrat seksual, dan minat serta kehilangan kesenangan dalam aktivitas yang biasanya dilakukan.

Davison, dkk. (2014) menyebutkan, apabila orang yang mengalami depresi dihadapkan pada masalah, mereka akan sangat sulit memikirkan cara menyelesaikannya. Setiap momen dalam hidup mereka menjadi terasa sangat berat dan kepala mereka terus menerus dipenuhi dengan pikiran menyalahkan diri sendiri.

Orang yang mengalami depresi merasa sangat berkecil hati, kehilangan harapan serta inisiatif, selalu khawatir dan pesimis sepanjang waktu. Orang yang mengalami depresi juga bisa mengabaikan kebersihan dan penampilan serta mengeluhkan sakit tubuh tetapi tanpa penyebab fisik yang jelas.

Gangguan Makan (Anoreksia Nervosa dan Bulimia Nervosa)

Gangguan makan anoreksia dan bulimia memiliki kesamaan, yaitu orang yang mengalaminya merasa sangat ketakutan mengalami kelebihan berat badan. Lalu apa yang membedakan keduanya?

Anoreksia Nervosa

Orang yang mengalami anoreksia mengalami beberapa hal berikut:

  • Menolak mempertahankan berat badan normal (biasanya berat badannya kurang dari 85% dari berat badan yang dianggap normal bagi usia dan tinggi badannya). Penolakan itu dilakukan dengan cara-cara seperti: diet berlebih, memuntahkan makanan dengan sengaja, menggunakan obat pencahar dan olahraga secara berlebihan.
  • Sangat takut jika berat badannya bertambah dan rasa takut itu tidak berkurang dengan turunnya berat badan. Mereka tidak pernah merasa sudah cukup kurus.
  • Memiliki pandangan menyimpang tentang bentuk tubuhnya. Dalam kondisi kurus pun mereka tetap merasa kelebihan berat badan atau merasa beberapa bagian tubuhnya terlalu gemuk.
  • Pada perempuan, kondisi tubuh yang terlalu kurus kemudian menyebabkan amenorea (berhentinya menstruasi).

Bulimia Nervosa

Bulimia berasal dari bahasa Yunani yang berarti “lapar seperti sapi jantan.” Ini adalah gangguan psikologi yang mana individu mengkonsumsi banyak makanan secara cepat, kemudian diikuti dengan perilaku kompensatori seperti, muntah, puasa, atau olahraga berlebihan untuk mencegah bertambahnya berat badan (Davison, dkk., 2014).

Dalam DSM IV TR disebutkan bahwa orang yang dengan bulimia nervosa mengalami:

  • Makan secara berlebihan secara berulang
  • Menguras makanan secara berulang (memuntahkan makanan dengan sengaja) untuk mencegah bertambahnya berat badan.
  • Perilaku tersebut dilakukan sekurang-kurangnya terjadi dua kali seminggu selama sekurang-kurangnya tiga bulan.
  • Penilaian terhadap dirinya sendiri sangat bergantung pada bentuk tubuh dan berat badan.

Gangguan Preferensi Seksual

Fetisisme

Fetisisme mencakup ketergantungan pada benda-benda mati untuk menimbulkan gairah seksual. Orang yang mengalami fetisisme memiliki dorongan seksual yang berulang dan intens terhadap berbagai benda mati seperti: sepatu perempuan, stoking, jas hujan, sarung tangan, pakaian dalam dll.

Pedofilia dan Incest

Pedofilia adalah kondisi yang mana orang dewasa mendapatkan kepuasan seksual melalui kontak fisik dan seringkali adalah hubungan seksual dengan anak-anak yang belum puber, yang tidak memiliki hubungan darah dengan dirinya.

Incest adalah kondisi yang mana orang dewasa mendapatkan kepuasan seksual melalui kontak fisik dan seringkali adalah hubungan seksual dengan anak-anak yang memiliki hubungan darah dengannya (memiliki hubungan keluarga). Misalnya, seorang ayah yang tertarik kepada anak gadisnya.

Voyeurisme

Voyeurisme adalah kondisi yang mana seseorang memiliki keinginan tinggi untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat (mengintip) orang lain yang sedang tanpa busana atau sedang melakukan hubungan seksual.

Eksibisionisme

Eksibisionisme adalah preferensi tinggi dan berulang untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan memamerkan alat kelamin kepada orang yang tidak dikenal, yang tidak menginginkannya. Pada orang yang mengalami eksibisionisme, ia merasakan gairah seksual ketika berfantasi memamerkan alat kelamin atau dengan benar-benar menunjukkannya kepada orang lain.

Froteurisme

Froteurisme adalah gangguan yang berupa perilaku menyentuh bagian tubuh seseorang (yang tidak menaruh curiga kepadanya) untuk memenuhi hasrat seksual. Contoh perilaku seorang froteur adalah: menggesekkan alat kelamin ke paha perempuan, menyentuh payudara atau alat kelamin. Biasanya tindakan seperti itu dilakukan di tempat umum, halte, trotoar atau di dalam bis yang sesak dengan penumpang.

Sadisme Seksual dan Masokisme Seksual

Karakteristik utama pada orang yang mengalami sadisme seksual adalah, ia memiliki keinginan kuat untuk mendapatkan atau meningkatkan kepuasan seksual dengan menimbulkan rasa sakit atau penderitaan psikologis pada orang lain.

Sedangkan ciri utama masokisme seksual adalah orang tersebut memiliki keinginan kuat untuk mendapatkan atau meningkatkan kepuasan seksual dengan menjadikan diri sendiri sebagai subjek rasa sakit.

Sadistis dapat memperoleh kenikmatan orgasmic sempurna dengan menimbulkan rasa sakit pada pasangannya. Sedangkan seorang masokis dapat terpuaskan sepenuhnya dengan membiarkan dirinya disakiti.

Gangguan Penyalahgunaan dan Ketergantungan Alkohol

Orang-orang yang mengalami ini sangat sulit lepas dari minuman beralkohol dan tidak minum alkohol sehari saja bisa berdampak dramatis pada diri mereka.

Hal itu terjadi karena tubuh mereka sudah sangat terbiasa dengan alkohol sehingga upaya pemutusan konsumsinya membuat mereka mengalami: kecemasan, depresi, lemah, tidak bisa diam, tidak bisa tidur, tremor otot, hingga meningkatnya denyut nadi, tekanan darah dan suhu tubuh.

Ketergantungan seperti itu menyebabkan banyak masalah dalam kehidupan orang yang mengalaminya. Hubungan sosial mereka berantakan, pekerjaan tidak terselesaikan, muncul perilaku agresif dsb.

Gangguan Kepribadian Antisosial

Gangguan kepribadian antisosial ditunjukkan dengan adanya gangguan tingkah laku sebelum usia 15 tahun seperti: membolos, lari dari rumah, sering berbohong, mencuri, melakukan pembakaran, dan sengaja merusak barang milik orang lain, yang kemudian pola perilaku seperti itu terus berlanjut pada masa dewasa.

Orang dewasa yang mengalami gangguan kepribadian antisosial menunjukkan perilaku tidak bertanggung jawab dengan bekerja secara tidak konsisten, melakukan pelanggaran hukum, mudah tersinggung dan agresif (mudah melakukan kekerasan fisik kepada orang lain), tidak mau membayar hutang dan bersikap ceroboh (Davison, dkk., 2014).

Saya adalah blogger dan penulis lulusan S1 Psikologi Universitas Airlangga. Selain menulis saya juga aktif sebagai asisten psikolog di Pusat Layanan Psikologi BE Psychology.