7 Contoh Teori Behaviorisme dalam Kehidupan Sehari-hari

Albert, seorang anak berusia delapan bulan yang sebelumnya tidak takut sama sekali dengan tikus putih, ternyata dapat dibuat menjadi takut kepada tikus putih, bahkan segala objek yang berbulu putih seperti kelinci dan topeng Santa Claus. Inilah eksperimen dalam penelitian yang dilakukan oleh bapak behaviorisme, John B. Watson.

Tentu saja, percobaan seperti itu bukan untuk ditiru di rumah, ya. Penelitian Watson secara metode telah melanggar kode etik dan menjadi kontroversi. Akan tetapi, hasil penelitiannya memang menjadi penemuan penting yang mengawali berkembangnya behaviorisme.

Behaviorisme adalah aliran dalam psikologi yang mengatakan bahwa perilaku manusia dibentuk oleh stimulus dan respon. Menurut behaviorisme, perilaku manusia dapat diprediksi dan dapat dikondisikan tanpa melibatkan kesadaran (proses mental/proses berpikir reflektif).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Watson, Albert kecil menjadi takut dengan tikus putih karena setiap kali ia melihat tikus putih, Watson memukulkan palu ke benda logam sehingga Albert mendengar suara bising yang mengagetkan.

Pengondisian itu membuat penglihatan terhadap tikus putih (hal yang sebenarnya tidak menakutkan bagi Albert) dan suara bising logam (hal yang menakutkan bagi Albert) menjadi dua komponen yang terhubung. Albert menjadi takut setiap melihat tikus putih walau suara bising logam itu tidak lagi diperdengarkan.

Lalu bagaimana kita dapat memanfaatkan konsep-konsep dalam behaviorisme secara positif? Berikut adalah beberapa contoh penerapan teori behaviorisme dalam kehidupan sehari-hari.

Penerapan Teori Behaviorisme untuk Meningkatkan Penjualan

Salah satu cara untuk meningkatkan penjualan dapat dilakukan dengan cara memberikan bonus bagi staf penjualan yang dapat mencapai target. Pemberian bonus akan memperkuat perilaku staf penjualan untuk lebih aktif melakukan pendekatan dan penawaran kepada pembeli.

Contoh lain penerapan behaviorisme yang terkait dengan penjualan adalah diterapkannya giveaway dengan persyaratan seperti memberikan like, comment dan share pada postingan sebuah online shop. Hadiah, voucher atau iming-iming lain adalah bentuk stimulus yang diberikan untuk mendorong munculnya respon berupa partisipasi para followers dalam mempublikasikan suatu produk.

Selain itu, penerapan teori behaviorisme juga dapat kita cermati pada diputarnya musik di pusat-pusat perbelanjaan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Millman (1982), musik dapat berpengaruh terhadap perilaku pembeli.

Jika musik yang diputar temponya cepat, pembeli juga cenderung berjalan lebih cepat, memilih barang dengan cepat (segera mengambil barang yang memang sudah direncanakan), tanpa menghabiskan waktu untuk melihat-lihat dulu barang lainnya.

Sedangkan jika musik yang diputar temponya lambat, pembeli cenderung juga berjalan lebih lambat, menghabiskan banyak waktu untuk melihat-lihat barang lain yang ditawarkan, sehingga memperbesar peluang pembeli untuk berbelanja lebih banyak.

Penerapan Teori Behaviorisme untuk Mengurangi Perilaku Merokok

Merokok adalah salah satu perilaku yang diakui buruk dan berbahaya bagi kesehatan, tetapi tidak sedikit orang yang tetap melakukan. Terlepas dari apakah Kamu termasuk orang yang merokok atau tidak, membela rokok atau malah membencinya, setidaknya kita dapat mengambil pelajaran darinya.

Setiap bungkus rokok yang beredar saat ini, telah disertai dengan peringatan “Merokok menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.”

Selain itu, bungkus rokok juga menampilkan gambar yang cukup menyeramkan. Paru-paru yang rusak, tenggorokan yang bolong, bahkan gambar nisan kuburan.

Untuk apa upaya itu dilakukan?

Martini (2020) menjelaskan bahwa gambar-gambar tersebut sampai saat ini masih efektif untuk menekan konsumsi rokok.

Gambar tertentu yang ditampilkan merupakan salah satu contoh penerapan behaviorisme. Tulisan peringatan dan gambar yang mengerikan, sebenarnya adalah upaya menciptakan rasa takut.

Di balik peringatan dan gambar mengerikan di bungkus rokok, terselip harapan agar stimulus yang pasti terlihat oleh setiap orang yang akan membuka bungkus rokok itu, akan terhubung dengan rasa takut, kemudian mampu menciptakan respon berupa perilaku menghindari atau setidaknya mengurangi konsumsi rokok.

Penerapan Teori Behaviorisme untuk Menghadapi Anak Tantrum

Setiap orang tua tentu akan bahagia jika memiliki anak yang berperilaku baik, disiplin dan patuh pada aturan yang berlaku. Sebaliknya, orangtua akan resah dan mudah marah jika anaknya terlalu sering membuat ulah.

Menurut behaviorisme, kita dapat mempengaruhi atau membentuk perilaku anak dengan banyak cara. Salah satu konsep dasar dalam behaviorisme adalah reinforcement atau pemberian penguatan pada perilaku tertentu yang diharapkan.

Contohnya, ketika anak diajak pergi ke mall kemudian ia meminta mainan dengan harga yang sangat mahal. Mainan yang sejenis dengan itu sebenarnya juga sudah dimiliki oleh anak di rumah, sehingga orang tua tidak ingin membelikan mainan yang diminta si anak.

Sayangnya, ketika keinginannya tidak dituruti, si anak mulai menangis dan melakukan aksi protes kepada orangtuanya. Si anak menangis semakin kencang sambil memukul-mukul orang tuanya kemudian berguling-guling di lantai.

Dalam situasi yang mana anak sedang tantrum seperti contoh tersebut, apa yang akan Kamu lakukan jika ada di posisi orang tuanya?

Menurut konsep behaviorisme, jika orang tua menuruti keinginan si anak, artinya ia sedang memberikan penguatan atau reinforcement untuk perilaku buruk anak. Di lain hari, lebih besar kemungkinan si anak akan mengulangi perilaku buruknya lagi.

Anak akan menggunakan tantrum sebagai senjata untuk mengendalikan orangtuanya (membuat orangtuanya menuruti keinginannya). Sebaliknya, jika orangtua menunjukkan sikap yang tenang dan tidak menuruti keinginan si anak, artinya ia tidak memberi penguatan kepada perilaku buruk anaknya.

Beberapa waktu kemudian, anak akan berhenti menangis karena ia tahu bahwa tantrum tidak membawa keberhasilan bagi misi meminta mainan. Ini juga akan memperkecil kemungkinan si anak mengulanginya kembali di lain waktu.

Bersikap tenang saat anak tantrum di depan umum tidak selalu mudah. Sebagian orangtua tidak siap mental menanggung rasa malu dan khawatir akan dipandang buruk oleh orang lain yang melihat di sana. Sebagian orang tua akhirnya memilih untuk segera menuruti saja keinginan anak daripada dianggap tidak peduli atau tidak sayang anak.

Tindakan yang dianjurkan dalam psikologi ketika anak tantrum adalah memberi kesempatan kepada si anak untuk mengekspresikan emosinya, sambil tetap mengamati/menjaganya, supaya tidak melakukan hal yang berbahaya. Jika anak sudah cukup tenang, barulah orangtua mengajaknya bicara, mendengarkan pendapatnya, kemudian meluruskan (memberi penjelasan).

Penerapan Teori Behaviorisme untuk Stimulasi Anak

Salah satu stimulasi yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk mengajarkan anak berbicara adalah dengan merespon bayi yang mulai melakukan babbling. Respon dapat diberikan dengan memperhatikan si bayi ketika ia bersuara, tersenyum kepadanya, atau mengajak si bayi berbicara.

Perilaku orangtua yang merespon bayi yang sedang babbling, akan membuat si bayi mengulanginya lagi dan lagi. Seiring waktu, ia akhirnya dapat membuat suara yang lebih jelas seperti “da”, “ma”, “ba” yang jika semakin sering diulang, akan semakin mirip dengan kata yang dapat dikenali oleh orang dewasa, seperti “mama”, “baba”, “dada.”

Gambaran situasi di atas disebut dengan shaping atau pembentukan perilaku. Di dalam shaping, reinforcement ditujukan secara spesifik kepada perilaku tertentu yang ingin didukung kemunculannya.

Penerapan Teori Behaviorisme untuk Membuat Siswa Lebih Aktif

Masih dengan salah satu konsep dasar dalam behaviorisme yaitu reinforcement, kita dapat mempengaruhi perilaku siswa di sekolah.

Apabila ingin membuat siswa lebih aktif dan lebih mau terlibat dalam pembelajaran, guru dapat memberikan penguatan terhadap perilaku positif yang diharapkan misalnya: memberikan isyarat jari jempol kepada siswa yang mau bertanya, memberi pujian kepada siswa yang berani mengungkapkan pendapat, memberikan tambahan poin penilaian kepada siswa yang tepat waktu mengerjakan tugas, dsb.

Dalam konsep habit strength dikatakan bahwa semakin sering reinforcement diberikan atas perilaku, itu akan memperkuat koneksi stimulus-respon. Oleh sebab itu, guru dapat membuat daftar perilaku positif yang ingin dikuatkan kemunculannya pada siswa, kemudian secara konsisten segera memberikan penguatan apabila siswa menunjukkan perilaku yang sesuai dengan harapan.

Penerapan Teori Behaviorisme untuk Mengurangi Perilaku Negatif Siswa

Konsep dasar lainnya yang ada dalam behaviorisme adalah extinction. Berkebalikan dengan reinforcement, extinction bertujuan melemahkan perilaku yang tidak diharapkan.

Konsep extinction dapat digunakan salah satunya untuk mengurangi munculnya perilaku negatif siswa saat berada di dalam kelas. Kadang-kadang dalam satu kelas, ada satu atau dua siswa yang suka membuat kegaduhan. Ada siswa yang sengaja melakukannya untuk mencari perhatian dari guru.

Jika menemui tipe siswa yang membuat kegaduhan (berperilaku negatif) untuk mencari perhatian, maka perilaku guru yang menegur atau bahkan menghukumnya, bisa jadi akan membuat siswa itu semakin ingin mengulangi perilaku negatifnya.

Semakin ia merasa diperhatikan, perilaku negatifnya bisa semakin sering muncul. Oleh sebab itu, extinction dapat dilakukan dengan cara guru mengabaikan perilaku negatif siswa itu. Guru hanya memberi perhatian kepadanya jika ia menunjukkan perilaku positif.

Contoh lain dari penerapan extinction yang disebutkan oleh Miltenberger (2012) dalam bukunya adalah sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Hasazi & Hasazi (1972). Mereka meneliti seorang anak laki-laki berusia delapan tahun yang sering salah menulis angka (misalnya ia seharusnya menulis 12 ditulis 21, padahal anak ini sedang menjawab soal 7+5).

Para peneliti itu menemukan bahwa semakin si anak laki-laki diberi perhatian lebih saat ia salah menulis jawaban (gurunya memberikan bantuan ketika si anak salah menulis jawaban), ia semakin sering mengulangi kesalahannya.

Oleh sebab itu, extinction dilakukan dengan cara meminta guru menahan diri memberi perhatian lebih dan bantuan ketika si anak salah menulis. Guru diminta lebih fokus untuk memberi penguatan jika si anak menuliskan angka dengan benar.

Penerapan Teori Behaviorisme di Media Sosial

Sosial media menawarkan berbagai keuntungan yang dulu sulit, bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Akan tetapi, kita juga perlu hati-hati atau waspada.

Fitur like pada Facebook atau love pada Instagram ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi berfungsi memberikan apresiasi, namun di sisi lain apresiasi itu sendiri membuat manusia rentan merasa cemas dan kecewa ketika ia hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak memperolehnya.

Like dan love adalah stimulus, sedangkan perasaan senang atau puas yang muncul ketika kita mendapatkannya adalah bentuk respon. Semakin sering kita memposting sesuatu, dan semakin sering (semakin terbiasa) kita mendapatkan like dan love, tanpa sadar kita juga sedang membangun risiko menjadi manusia yang haus akan pengakuan atau validasi orang lain.

Mari, cermati diri dan sadari perilaku kita sendiri, supaya tidak terjebak oleh pengondisian yang membahayakan kesehatan mental.

Saya adalah blogger dan penulis lulusan S1 Psikologi Universitas Airlangga. Selain menulis saya juga aktif sebagai asisten psikolog di Pusat Layanan Psikologi BE Psychology.