6 Manfaat Mempelajari Perkembangan Peserta Didik

Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Pernah mendengar kalimat tersebut?

Proses menjadi lebih baik atau adanya peningkatan, mencerminkan terjadinya perkembangan pada diri seseorang. Hurlock (1980), mengartikan perkembangan sebagai serangkaian perubahan yang progresif dan terjadi karena kematangan pengalaman. Perkembangan mencakup perubahan di lebih dari satu aspek kemampuan dan bersifat maju atau meningkat.

Sedangkan Santrock (2011) berpendapat bahwa perkembangan yang merupakan pola perubahan sejak manusia dilahirkan hingga akhir hayat memang erat kaitannya dengan peningkatan. Akan tetapi, dalam kaca mata perkembangan sepanjang hayat (life span development), perkembangan juga mencakup terjadinya penurunan (ketika manusia menua atau meninggal).

Dalam konteks pendidikan, kita sepakat bahwa proses pembelajaran pada siswa sangat penting dilakukan untuk membantu dan mendukung mereka memahami lingkungan, mengasah potensi yang mereka miliki, sekaligus memberikan bekal agar siap menghadapi tantangan ketika mereka tumbuh dewasa nanti.

Dalam proses mencapai tujuan tersebut, umumnya akan terjadi suatu dinamika kenaikan maupun penurunan, perbedaan proses maupun hasil belajar antarsiswa, serta perbedaan performa belajar pada satu siswa itu sendiri dari waktu ke waktu. Hal tersebut menggambarkan apa yang dimaksud dengan perkembangan peserta didik.

Dalam artikel ini, istilah perkembangan peserta didik merujuk pada konteks yang spesifik, yaitu proses dan perkembangan capaian belajar peserta didik selama di sekolah, serta perkembangan diri peserta didik sebagai individu yang menjadi bagian dari masyarakat penduduk dunia, sepanjang hayatnya.

Lantas apa manfaat yang akan kita dapatkan jika mempelajari perkembangan peserta didik? Pentingkah memahami perkembangan peserta didik dalam menyukseskan pembelajaran?

Berikut adalah beberapa manfaat mempelajari perkembangan peserta didik yang akan dirasakan oleh orangtua dan para pendidik.

Menghargai Proses dan Progress Siswa

Penghargaan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia, tidak terkecuali para siswa. Merujuk pada konsep hierarchy of needs yang diungkapkan oleh Abraham Maslow, setiap manusia tidak hanya memerlukan makan dan minum untuk bertahan hidup, tetapi juga memerlukan penghargaan dari orang lain.

Manfaat mempelajari perkembangan peserta didik salah satunya adalah menemukan informasi tentang apa yang sudah dan apa yang belum dicapai oleh siswa. Dari sana orangtua dan guru dapat mencermati sejauh mana siswa telah berusaha mengerahkan kemampuannya (berproses), terlepas dari apapun hasil yang dicapai olehnya.

Meski peserta didik mungkin saja dianggap belum mencapai standar perkembangan, apabila proses yang dilakukan dihargai, bukan tidak mungkin pada waktu berikutnya ia akan lebih bersemangat untuk menjalani proses belajar serta tetap memiliki rasa percaya terhadap kemampuan dirinya.

Sebaliknya, apabila orangtua dan pendidik mengabaikan begitu saja proses perkembangan maupun peningkatan hasil yang didapat atau yang mampu dikerjakan oleh siswa, hilanglah kesempatan untuk menghargai dan membersamai proses belajar mereka.

Kalimat-kalimat sederhana seperti, “Terima kasih ya, Kamu sudah belajar dengan sungguh-sungguh”, dapat mendekatkan orangtua atau guru dengan siswa secara emosi dan membuat mereka merasa dilihat, dianggap penting atau dihargai.

Menentukan Tujuan Belajar Sesuai Kebutuhan

Santrock (2011) mengatakan bahwa terdapat perkembangan yang secara garis besar dialami oleh seluruh manusia di muka bumi ini, namun ada pula jenis perkembangan yang dilalui secara berbeda oleh masing-masing individu.

Hal itu terjadi karena kita semua adalah manusia, sehingga memiliki kesamaan dengan manusia lain dalam hal tertentu, tetapi pada saat yang bersamaan, kita juga memiliki perbedaan atau keunikan dibanding dengan orang lain.

Oleh sebab itu, memahami perkembangan peserta didik, misalnya memahami perkembangan kemampuan kognitifnya, akan memudahkan orangtua dan pendidik menentukan target belajar yang sesuai dengan kemampuan anak.

Anak usia dini, dengan anak usia sekolah dasar, sekolah menengah dan mahasiswa, tentu memiliki perkembangan kognitif yang berbeda. Memahami perbedaan umum semacam ini akan membantu pendidik menetapkan tujuan dengan tepat sesuai dengan karakteristik masing-masing di setiap tingkatan.

Selain itu, dalam konteks yang lebih spesifik, misalnya dalam mempelajari bahasa, kemampuan berbahasa antara siswa yang satu dengan yang lain mungkin akan berbeda. Bisa jadi terdapat jarak kemampuan antara satu siswa dengan siswa lainnya. Dalam contoh kasus seperti ini, tujuan belajar antarsiswa pada dasarnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Menentukan Metode Pembelajaran yang Tepat

Manfaat mempelajari perkembangan peserta didik berikutnya adalah memudahkan orangtua maupun pendidik untuk menentukan metode pembelajaran yang tepat.

Dengan merujuk pada teori perkembangan menurut sejumlah tokoh dalam psikologi perkembangan seperti Piaget, Vygotsky, Bruner, Bandura dll., orangtua dan guru akan mendapat gambaran tentang seperti apa perjalanan perkembangan anak tahap demi tahap, serta bagaimana cara mencapai perkembangan itu sendiri.

Bandura misalnya, menjelaskan bahwa perkembangan dapat dicapai seorang anak apabila ia diberi kesempatan untuk belajar dari model yang tepat. Kemampuan anak akan meningkat ketika ia diberi kesempatan untuk mengamati perilaku orang lain.

Teori perkembangan yang diungkapkan oleh Bandura juga memberi peringatan kepada orangtua dan para pendidik bahwa perilaku yang mereka tampilkan di hadapan anak, berpeluang ditiru oleh anak. Dengan demikian orangtua dan guru dapat mempertimbangkan metode yang tepat ketika berinteraksi atau berkomunikasi dengan anak.

Dalam konteks pembelajaran di kelas, ketika diketahui bahwa hasil belajar siswa ternyata masih belum sesuai dengan yang seharusnya mampu mereka capai, dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk mencoba menerapkan metode belajar lain yang diperkirakan akan lebih sesuai.

Mendeteksi Kemungkinan Adanya Hambatan Belajar

Proses belajar mengajar seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tidak selalu berjalan dengan lancar. Seperti saat berada di perjalanan menuju suatu tempat, mungkin saja bahan bakar kendaraan habis, jalannya berlubang, terjadi hujan, mogok dsb.

Fenomena seperti itu juga tidak jarang terjadi dalam proses belajar mengajar. Beberapa anak mengalami mogok belajar. Sebagian lagi mengalami masalah dalam pergaulan yang akhirnya menurunkan semangat mereka untuk belajar di sekolah. Sebagian lagi, berjuang keras menghadapi label ‘bodoh’ yang dengan ringannya diucap oleh orang lain padahal mereka tidak tahu apa-apa.

Anak-anak yang mengalami hambatan belajar (seperti disleksia, diskalkulia, disgrafia), anak dengan autisme, anak dengan ADHD, anak yang mengalami depresi dan kecemasan, serta anak gifted, akan menunjukkan perbedaan performa belajar (bisa lebih rendah atau lebih tinggi) dengan rata-rata anak lainnya.

Oleh sebab itu, memahami perkembangan peserta didik akan memudahkan orangtua dan guru mendeteksi apabila ada sesuatu yang terjadi pada peserta didik. Baik yang berupa penurunan performa belajar yang ekstrim dari sebelumnya, atau perbedaan mencolok yang dibandingkan dengan anak seusianya, serta peningkatan atau keberhasilan yang luar biasa setelah dibandingkan dengan standar perkembangan yang seharusnya. 

Mengidentifikasi Faktor yang Berpengaruh terhadap Perkembangan

Dalam konsep bioekologi Bronfenbrenner dijelaskan bahwa individu atau anak bersifat saling mempengaruhi dengan lingkungannya. Apabila anak menunjukkan keterlambatan perkembangan, maka sebenarnya perlu diperhatikan faktor lain di luar dirinya yang mungkin menjadi penyebabnya.

Keluarga yang kurang memberikan stimulasi kepada anak, rendahnya kondisi sosial ekonomi, ketidakhadiran salah satu figur ayah atau ibu karena terlalu sibuk bekerja, perubahan era yang membuat anak zaman sekarang menjadi sangat terbiasa dengan internet dan aneka gadget, hingga regulasi pemerintah dalam dunia pendidikan, adalah beberapa faktor eksternal yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan peserta didik.

Dengan demikian, ketika orangtua dan guru memahami perkembangan peserta didik, mereka akan mendapat gambaran yang lebih utuh dan mendalam tentang apa saja yang mungkin berkontribusi terhadap meningkat atau menurunnya kemampuan peserta didik. 

Hal tersebut akan memberikan kesempatan bagi orangtua dan guru mengintervensi atau mengambil tindakan/penanganan yang lebih tepat. Bukan serta merta menyalahkan siswa atau si anak jika memang ternyata ada hal lain yang mempengaruhi keadaan dirinya.

Memberikan Umpan Balik dan Tindak Lanjut yang Tepat untuk Membantu Siswa

Setelah orangtua dan guru dapat memahami apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan atau ditunjukkan oleh seorang anak atau siswa, dapat diambil langkah berikutnya yaitu pemberian umpan balik atau feedback. 

Umpan balik atau pun bentuk tindak lanjut lainnya, misalnya berupa stimulasi maupun upaya optimalisasi, dapat direncanakan dan mulai diterapkan pada siswa.

Umpan balik atau feedback akan membantu siswa mengetahui dan memahami proses belajar mereka dan sejauh mana perkembangan dirinya. Siswa juga akan memahami apa yang sudah tepat dan belum tepat dari yang sudah dilakukan olehnya selama ini.

Tidak menutup kemungkinan bahwa peserta didik, tidak menyadari kesalahannya atau justru tidak menyadari apa kelebihan yang dimilikinya. Sebagian orang mampu mengevaluasi diri mereka sendiri, sebagian lagi kesulitan dan perlu bantuan orang lain.

Sebagian orang paham betul apa kelebihan atau keunggulan dirinya, sebagian lagi justru berkecil hati alias rendah diri meski punya segudang potensi. Keadaan-keadaan tersebut akan dapat dikenali baik oleh orang itu sendiri atau orang lain yang memahami konsep-konsep perkembangan. 

Oleh sebab itu, orangtua dan pendidik dapat membantu anak atau siswa dengan cara menyampaikan saran dan atau arahan tentang apa dan bagaimana tindakan yang seharusnya dilakukan hari demi hari, ke depan. 

Orangtua dan guru akan lebih mudah menempatkan diri, menentukan sikap dan memilih respon perilaku yang tepat saat berinteraksi dengan anak atau peserta didik, apabila mereka mau memahami perkembangannya.“The more you learn about your children, the better you can deal with them” (Santrock, 2011).

Saya adalah blogger dan penulis lulusan S1 Psikologi Universitas Airlangga. Selain menulis saya juga aktif sebagai asisten psikolog di Pusat Layanan Psikologi BE Psychology.