Memahami Metode Pembelajaran

Setiap proses yang dijalani oleh manusia tentu berujung pada keinginan agar mencapai tujuan. Begitu pula dalam proses pembelajaran. Terdapat interaksi antara pengajar dengan pembelajar yang dilakukan dengan cara-cara tertentu untuk mendapatkan hasil sesuai target yang sebelumnya sudah ditetapkan.

Tanpa mengetahui tujuan serta cara mencapai tujuan, kita akan sulit mencapai keberhasilan. Oleh sebab itu, memahami metode pembelajaran menjadi salah satu langkah awal yang penting untuk dilakukan.  

Definisi Metode Pembelajaran

Metode dalam KBBI daring diartikan sebagai cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki, cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Sedangkan pembelajaran diartikan sebagai proses belajar.

Santrock (2011) menjelaskan bahwa pembelajaran (learning) adalah pengaruh yang relatif permanen pada perilaku, pengetahuan dan keterampilan berpikir yang diperoleh dari pengalaman.

Dengan demikian, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. 

Di dalam pembelajaran terjadi interaksi antara pengajar, pembelajar dan sumber belajar. Metode pembelajaran menjadi cara yang digunakan oleh pengajar untuk berinteraksi dengan pembelajar untuk melangsungkan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai tujuan. 

Perbedaan Model, Media, Metode, Strategi dan Teknik Pembelajaran

Terminologi atau istilah metode pembelajaran sering digunakan secara bergantian atau disamakan dengan istilah teknik pembelajaran, padahal keduanya memiliki perbedaan. Reksiana (2019) juga menjelaskan bahwa istilah metode pembelajaran sering tumpang tindih dengan istilah model pembelajaran.

Hal ini menyebabkan kerancuan dan membuat sebagian orang merasa bingung membedakan antara model pembelajaran, media pembelajaran, metode pembelajaran, strategi pembelajaran dan teknik pembelajaran.

Untuk menghindari kesalahan dalam memahami konsep, mari telusuri perbedaan mendasar penggunaan istilah-istilah tersebut.

  • Model pembelajaran: Merupakan seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek, sebelum, sedang dan sesudah pembelajaran dilakukan. Ini adalah kerangka konseptual yang menggambarkan seluruh proses pembelajaran. Ada pula yang menggunakan istilah pendekatan pembelajaran untuk menyebut model pembelajaran. Dua pendekatan utama dalam pembelajaran adalah student centered learning (pembelajaran berpusat pada siswa) dan teacher centered learning (pembelajaran berpusat pada guru).
  • Media pembelajaran: Merupakan sarana atau alat yang digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran.
  • Strategi pembelajaran: Merupakan serangkaian aktivitas dalam proses pembelajaran yang dapat dibagi menjadi dua yaitu strategi ekspositori dan discovery (Sanjaya, 2016). Strategi ekspositori adalah aktivitas pembelajaran yang lebih didominasi dengan pemaparan atau pemberian materi oleh pengajar. Sedangkan strategi pembelajaran discovery lebih didominasi dengan aktivitas yang mendorong siswa untuk aktif menemukan sendiri pemahaman terhadap materi yang dipelajari. 
  • Metode pembelajaran: Merupakan cara yang digunakan oleh pengajar untuk berinteraksi dengan siswa/pembelajar agar mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran adalah implementasi dari strategi pembelajaran (Sanjaya, 2016). 
  • Teknik pembelajaran: Merupakan langkah-langkah spesifik untuk menerapkan metode pembelajaran. Suatu metode pembelajaran dapat diterapkan dengan teknik yang berbeda sesuai dengan konteks, kebutuhan, atau ketersediaan sumber daya.

Ciri Metode Pembelajaran yang Efektif

Mariyaningsih & Hidayati (2018) menyebutkan beberapa indikator yang menunjukkan bahwa suatu metode pembelajaran efektif untuk digunakan. Beberapa ciri tersebut adalah:

  • Terjadi peningkatan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
  • Membuat siswa merasa tertantang untuk menemukan alternatif pemecahan masalah.
  • Membangkitkan rasa ingin tahu siswa
  • Membuat siswa lebih aktif atau lebih terlibat dalam pembelajaran.
  • Merangsang kreativitas siswa.
  • Guru mampu melaksanakannya (sesuai dengan sumber daya yang ada).

Macam-Macam Pendekatan Pembelajaran (Learning Approach)

Memahami pendekatan pembelajaran perlu dilakukan karena sudut pandang yang digunakan dalam pembelajaran akan ikut menentukan jenis metode pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan. Berikut macam-macam pendekatan dalam pembelajaran menurut Santrock (2011).

Behavioral Approach

Behaviorisme adalah pandangan yang menjelaskan bahwa perilaku harus dijelaskan dengan pengalaman yang tampak, bukan dengan proses mental. Oleh sebab itu pendekatan ini menekankan pada pengalaman, khususnya penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment) sebagai penentu perilaku dan terjadinya pembelajaran.

Social Cognitive Approach

Menekankan pada interaksi antara faktor perilaku, lingkungan dan orang (pikiran) sebagai penentu pembelajaran.

Information-Processing Approach

Menekankan pada bagaimana individu memproses informasi melalui pemusatan perhatian (atensi), ingatan (memori), pemikiran (thinking), dan proses-proses kognitif lainnya.

Cognitive Constructivist Approach

Menekankan pada bagaimana individu membangun sendiri pemahaman dan pengetahuan.

Social Constructivist

Menekankan pada adanya kolaborasi dengan orang lain untuk menghasilkan pengetahuan dan pemahaman.

Jenis-Jenis Metode Pembelajaran

Jenis Jenis Metode Pembelajaran
Ilustrasi jenis-jenis metode pembelajaran via Pixabay

Terdapat banyak ragam metode pembelajaran yang dapat digunakan secara terpisah maupun dipadukan satu dengan lainnya. Berikut adalah beberapa jenis metode pembelajaran yang dapat dipertimbangkan untuk digunakan.

Ceramah

Dalam metode pembelajaran yang juga sering disebut dengan lecturing ini, pengajar atau guru memposisikan diri sebagai pelaku utama penyampai materi. Guru berbicara di depan siswa dan menjelaskan materi dalam uraian kata-kata. Siswa berperan sebagai pendengar. 

Krohnert (1990) mengungkapkan bahwa metode ini akan efektif jika pembicara/guru/pengajar sangat menguasai materi serta mampu berbicara dengan cara yang menarik atau mengesankan sepanjang waktu ia menjelaskan. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam metode ceramah antara lain: 

  • Menggunakan sejumlah analogi atau perumpamaan supaya lebih mudah dipahami
  • Memilih bahasa yang tepat (tidak menggunakan istilah-istilah asing/yang terlalu rumit)
  • Menyampaikan gagasan dengan urutan yang tepat (runtut).
  • Melakukan kontak mata dengan pendengar/siswa.
  • Menggunakan nada bicara yang tepat dan penekanan pada bagian yang penting. 
  • Memilih materi yang bermakna atau yang dianggap penting oleh pendengar sehingga mereka mau mendengarkan.

Apabila hal-hal itu tidak diupayakan untuk dipenuhi, maka metode ceramah menjadi kurang efektif. Selain itu, metode yang menjadikan siswa cenderung pasif ini, rentan membuat mereka merasa jenuh atau bosan.

Oleh sebab itu, metode ceramah juga disarankan untuk digunakan dengan perpaduan. Sebagai contoh, metode ceramah dipadukan dengan tanya jawab dengan siswa atau dipadukan dengan diskusi kelompok.

Diskusi

Metode pembelajaran ini dilakukan dengan cara saling bertukar pendapat. Metode diskusi akan memberikan kesempatan yang sama kepada semua anggota kelompok untuk berbicara atau menyampaikan apa yang diketahuinya serta mendengarkan pendapat orang lain yang sedang berbicara. 

Keunggulan metode diskusi adalah cara ini dapat melatih siswa untuk memproses informasi, bukan hanya menerimanya begitu saja. Dalam diskusi, peran pengajar/guru adalah mendesain dan memfasilitasi jalannya diskusi. Tiga macam diskusi yang disebutkan dalam Krohnert (1990) adalah:

  • Structured discussion: merupakan kegiatan diskusi yang dilakukan dengan menugaskan kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Diharapkan cara ini akan memotivasi setiap anggota kelompok untuk berkontribusi karena setiap diri mereka merasa punya tanggung jawab yang sama untuk menemukan jawaban/mencapai tujuan.
  • Open forum discussion: ini adalah diskusi yang tidak terstruktur, bebas untuk semuanya. Setiap siswa/pembelajar/peserta boleh menyampaikan pendapatnya secara terbuka dan didengarkan oleh semua orang yang berada di tempat/forum/kelas.
  • Panel discussion: ini metode diskusi yang mirip dengan metode ceramah. Perbedaannya, di sini ada lebih dari satu orang yang akan berbicara dengan sub topik masing-masing dan siswa/pembelajar/peserta akan mendengarkan. Terdapat fasilitator yang akan memandu jalannya diskusi.

Pada dasarnya, diskusi adalah metode pembelajaran yang sangat direkomendasikan karena ini bukan hanya memampukan siswa memahami suatu materi, tetapi juga melatih kemampuan berpikir mereka.

Kemampuan berpikir adalah dasar untuk menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Namun tidak jarang diskusi terhambat karena siswa kurang mau terlibat. Apabila ini terjadi, Kemp (2020) memberikan beberapa tip untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam diskusi. Beberapa diantaranya adalah:

  • Awali diskusi dengan pemanasan. Sebuah game sederhana atau melakukan gerakan-gerakan yang lucu di awal sesi, dapat menciptakan suasana positif, hangat, terbuka dan bersemangat.
  • Biasanya siswa enggan terlibat dalam diskusi karena mereka tidak tahu harus bicara apa. Mereka kesulitan menentukan kata pertama. Akan lebih baik jika topik diskusi diberikan sehari sebelumnya (atau beberapa waktu sebelumnya) supaya mereka punya waktu yang cukup untuk mencari tahu informasi dan menyusun pendapatnya.
  • Kurang hidupnya diskusi juga dapat disebabkan karena kurangnya rasa percaya diri siswa untuk berbicara. Apabila ini adalah masalahnya, maka guru dapat meminta siswa untuk berpasang-pasangan dan saling menyampaikan pendapatnya. Kemudian mereka bertugas menjadi penyampai pendapat orang lain. Ini adalah cara awal agar siswa punya keberanian dulu, berlatih berbicara dulu meski yang disampaikan masih belum pendapatnya sendiri.

Praktikum/Eksperimen

Merupakan metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara mempraktekan secara langsung materi yang dipelajari. Praktikum/eksperimen biasanya mendorong siswa untuk melakukan suatu prosedur percobaan agar mereka mengetahui proses tentang bagaimana sesuatu bisa terjadi serta mendapatkan bukti atas apa yang dipelajari.

Manfaat yang bisa didapat dengan metode eksperimen adalah:

  • Dapat digunakan untuk memperkenalkan suatu ide/konsep baru atau mengklarifikasi ide/konsep yang masih sulit dipahami oleh siswa.
  • Jika hasil eksperimen itu mengejutkan, siswa bukan hanya akan menerima suatu konsep/gagasan/ide tetapi mereka siap memilikinya. Dengan kata lain, eksperimen memperbesar kemungkinan siswa akan lebih paham dan lebih ingat apa yang mereka pelajari.
  • Tugas yang biasanya diberikan setelah eksperimen (misalnya menulis laporan eksperimen) akan mendorong siswa untuk memunculkan keingintahuan berikutnya, melakukan eksperimen lanjutan atau memperluas pemikirannya untuk menerapkan gagasan yang didapat ke permasalahan/konteks lain. 

Resitasi (Membuat Ringkasan)

Metode pembelajaran ini dilakukan dengan cara membaca buku atau sumber bacaan lainnya kemudian menuliskan informasi-informasi penting yang ditangkap.

Metode pembelajaran ini mendorong siswa untuk fokus atau mencermati pesan utama yang disampaikan pada setiap bagian bacaan, memahami maksudnya, kemudian mempertahankannya dalam ingatan dan menuangkan kembali ke dalam tulisan dengan bentuk yang lebih ringkas.

Field Trip

Field trip adalah metode pembelajaran yang dilakukan dengan merancang sebuah perjalanan ke lokasi yang dianggap sesuai dengan materi yang dipelajari.

Proses pembelajaran dengan metode ini tidak dilakukan hanya dengan membayangkan apa yang dipelajari, melainkan dengan melihat/mengamati secara langsung suatu objek.

Short & Lloyd (2017) menjelaskan bahwa field trip akan memberikan kesempatan belajar kepada siswa secara langsung dari “tangan pertama”. Field trip akan memampukan kita memahami dunia dengan melihat secara langsung dunia.

Ini akan menghasilkan pengalaman belajar dan efek mental yang berbeda. Sebagai contoh, mahasiswa yang diberikan kesempatan secara langsung untuk mewawancarai penyintas kamp konsentrasi akan memiliki pengalaman belajar yang lebih utuh dan mendalam dibanding dengan mereka yang hanya menerima informasi itu dengan diceritakan oleh dosennya di dalam kelas.

Mind Mapping

Jenis Jenis Metode Pembelajaran - mindmapping
Ilustrasi via Pixabay

Mind mapping adalah metode pembelajaran yang dilakukan dengan membuat peta pikiran yang diilustrasikan secara visual. Konsep-konsep pada suatu materi dituliskan informasi pokoknya kemudian dikelompokkan dan dihubungkan dengan cabang-cabang informasi terkait.

Rosciano (2015) menjelaskan bahwa metode mind mapping bisa digunakan untuk menciptakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk berpikir reflektif, berlatih berpikir kontekstual, mampu menghubungkan/menemukan pola dalam suatu permasalahan, serta menyalurkan kreativitas mereka.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 93% mahasiswa setuju bahwa mind mapping membuat mereka lebih kreatif, 97% mahasiswa menilai bahwa metode ini efektif dan bermanfaat bagi mereka serta membuat mereka mampu memahami materi dengan perspektif yang lebih luas (Rosciano, 2015). 

Role Plays

Metode pembelajaran role plays dilakukan dengan mendesain sebuah contoh situasi. Biasanya siswa akan diminta untuk memperagakan sebuah skrip.

Dalam role plays setiap anggota kelompok juga dapat diminta untuk berperilaku/bertindak sesuai dengan gambaran situasi yang disediakan berdasarkan pengalaman yang telah dialaminya, berdasarkan pengetahuan baru yang sudah diterimanya atau dengan menggunakan keterampilan yang baru saja dilatihkan kepadanya.

Hal yang penting untuk diperhatikan oleh guru/fasilitator dalam metode pembelajaran role plays menurut Krohnert (1990) adalah: 

  • Berikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja lebih banyak supaya mereka lebih mau terlibat dari awal sampai akhir.
  • Kurangi instruksi atau arahan karena dapat mengganggu atau mengacaukan fokus mereka.
  • Biarkan siswa menggunakan imajinasinya untuk memainkan peran.
  • Berikan feedback segera setelah role play berakhir serta tegaskan kembali poin-poin penting yang perlu dipelajari berdasarkan role play yang telah dilakukan.

Sosiodrama

Sosiodrama merupakan metode pembelajaran yang dilakukan dengan mendramatisasikan tingkah laku manusia yang melibatkan interaksi antara dua orang atau lebih tentang suatu tema.

Metode sosiodrama berupaya untuk melibatkan siswa ke dalam pembelajaran secara fisik, mental dan intelektual (Susiati, 2019). Berikut adalah beberapa langkah untuk melaksanakan sosiodrama:

  • Menentukan tema pokok yang akan digunakan.
  • Memberi gambaran situasi atau masalah yang akan dimainkan kepada siswa.
  • Menentukan pemain dan waktu yang disediakan.
  • Memberi waktu kepada siswa untuk membayangkan dan menghayati karakter yang akan diperankan olehnya.
  • Sosiodrama mulai dilaksanakan.
  • Mengadakan evaluasi.

Awaliyah, Taufiq & Hafina (2019) melakukan penelitian yang menguji efektivitas sosiodrama untuk meningkatkan anger management skill (kemampuan mengelola kemarahan) pada siswa.

Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa metode sosiodrama efektif meningkatkan kemampuan mengelola kemarahan pada siswa. 

Secara psikis sosiodrama adalah metode yang mampu memfasilitasi individu untuk mengekspresikan pikiran maupun perasaan negatif yang dipendam ke dalam perkataan maupun perbuatan. Ini dapat mengurangi beban yang mungkin selama ini bertumpuk pada diri mereka.

Selain itu, sosiodrama juga membantu orang untuk lebih sadar pada apa yang sebenarnya mereka pikirkan dan rasakan sehingga terjadi proses berpikir yang lebih membangun/lebih jernih. Ini akan memudahkan individu menentukan respon yang lebih tepat untuk menyikapi persoalan.

Simulasi

Simulasi adalah metode pembelajaran yang berusaha mereplikasi atau menirukan suatu kejadian agar siswa mendapatkan pengalaman yang serupa dengan kejadian sebenarnya.

Simulasi menciptakan pengalaman yang seolah-olah nyata. Lateef (2010) menyebutkan bahwa beberapa keterampilan yang dapat ditingkatkan dengan adanya simulasi adalah:

  • Keterampilan fungsional atau keterampilan teknis tertentu.
  • Kemampuan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
  • Kemampuan interpersonal dan keterampilan komunikasi dalam tim.

Metode simulasi sering digunakan dalam proses pendidikan dalam bidang kesehatan, militer dan penerbangan. Adanya metode simulasi memungkinkan pengulangan untuk memenuhi kebutuhan belajar terhadap kejadian yang berisiko, serta kejadian yang tidak biasa.

Dengan kata lain, simulasi meningkatkan kesempatan belajar menghadapi sesuatu yang rumit, namun juga mengurangi risiko bagi pembelajar maupun objek yang dipelajari (Lateef, 2010).

Gallery Walk

Gallery walk adalah metode pembelajaran yang dilakukan dengan membuat situasi kelas menjadi seperti galeri. Guru menyajikan beberapa permasalahan, gambar, dokumen atau pertanyaan yang bermakna di kertas besar atau papan yang di tempel di dinding.

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan mereka diminta untuk berdiskusi selama beberapa waktu kemudian memberikan respon, pendapat atau usulan kelompoknya pada satu papan kemudian bergeser ke papan berikutnya.

Metode ini juga dapat digunakan dengan cara meminta kelompok siswa yang menyajikan karya kelompoknya kemudian mereka saling bergiliran berkunjung dan merespon karya kelompok lainnya. Metode pembelajaran gallery walk mendorong terjadinya diskusi dengan cara yang unik.

Penelitian yang dilakukan oleh Chin, Khor & Teh (2015) mendapatkan hasil bahwa 66,7% siswa setuju bahwa gallery walk adalah cara belajar yang menarik, walau hanya 28,6 % siswa yang mengatakan bahwa metode ini lebih efektif daripada metode belajar biasanya (penjelasan langsung oleh guru).

Metode gallery walk dapat digunakan pada saat:

  • Setelah membaca cerita, digunakan untuk mendiskusikan ide, tema dan karakter dalam cerita.
  • Setelah praktikum di laboratorium, digunakan untuk mendiskusikan temuan hasil percobaan.
  • Mendiskusikan fakta-fakta sejarah.
  • Setelah siswa membuat poster, lukisan, majalah dinding atau karya visual lainnya.
  • Memecahkan persoalan matematika atau persoalan bidang lainnya.

Peer Tutoring

Metode pembelajaran peer tutoring dilakukan dengan cara memberikan kesempatan kepada sesama siswa untuk menjadi pengajar bagi siswa lainnya.

Cara ini dapat digunakan untuk membantu kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, yang mana kesulitan tersebut masih dapat dipecahkan dengan kemampuan siswa lainnya.

Seorang tutor sebaya dapat melakukan peran sebagaimana seorang guru dengan memberikan penjelasan, mendengarkan kesulitan yang dialami temannya, memandu temannya memecahkan suatu permasalahan, berdiskusi dan sebagainya.

Keunggulan metode ini menurut Gibbon (1988) terletak pada aspek motivasi yang ditimbulkan. Ketika siswa dikondisikan untuk menjadi pengajar, mau tidak mau ia harus belajar.

Situasi tersebut menghasilkan dorongan lebih besar pada siswa untuk melakukan proses belajar agar ia mampu mengajar. Metode tutor sebaya juga akan membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna. 

Seorang tutor sebaya tidak hanya belajar bagaimana mencerna suatu materi, tetapi juga belajar bagaimana menjelaskan apa yang dipahaminya dengan bahasa dan cara yang baik supaya temannya bisa menangkap maksudnya. Secara tidak langsung metode ini membuat siswa belajar meningkatkan keterampilan interpersonal.

Di sisi lain, metode tutor sebaya juga menguntungkan bagi siswa yang menjadi pelajarnya. Siswa akan lebih leluasa untuk bertanya kepada temannya yang seusia dengannya karena ada persepsi bahwa mereka setara, mereka adalah teman.

Associative Learning

Jenis Jenis Metode Pembelajaran - associative learning

Melalui metode ini pembelajaran dapat terjadi saat dua pengalaman atau dua kejadian dihubungkan.

Contohnya, associative learning dapat terjadi saat guru tersenyum atau menyampaikan kalimat apresiasi kepada siswanya saat ia menanyakan pertanyaan yang bagus (siswa menghubungkan antara sebuah kejadian menyenangkan yaitu mendapatkan apresiasi guru, dengan mempelajari sesuatu di sekolah yaitu bagaimana membuat pertanyaan yang bagus). 

Classical Conditioning

Ini adalah bentuk associative learning yang terjadi saat suatu stimulus netral menjadi terhubung dengan stimulus yang bermakna dan menghasilkan respon yang sama. Pengkondisian klasik bisa terjadi dalam pengalaman positif maupun negatif yang dirasakan oleh siswa. 

Sebagai contoh, stimulus berupa diputarnya lagu yang disukai oleh siswa di sekolah, bisa membuat mereka merasa bahwa kelas adalah tempat yang menyenangkan, aman dan nyaman. Awalnya, siswa mungkin merasa biasa saja terhadap lagu yang diputar.

Namun ketika para siswa mulai menyanyikan lagu itu bersama-sama dengan teman sekelasnya, terjadilah momen menyenangkan dan terhubunglah pengalaman berupa kesenangan itu dengan perasaan bahwa kelas adalah tempat yang aman dan nyaman.

Sebaliknya, pengkondisian klasik juga bisa terjadi dalam pengalaman negatif yang dirasakan dalam proses belajar siswa. Siswa bisa mengembangkan perasaan takut jika mereka disalahkan atau dimarahi.

Contohnya, saat siswa mendapat nilai ujian yang jelek dimarahi atau disalah-salahkan atas ketidakberhasilannya dalam mengerjakan ujian, mereka bisa terkondisikan untuk merasa cemas terhadap ujian.

Siswa tersebut kemudian menjadi cemas setiap menghadapi ujian karena ia telah menghubungkan antara ujian dengan pengalaman tidak menyenangkan.

Operant Conditioning

Pengkondisian operan adalah bentuk pembelajaran yang terjadi saat konsekuensi atas suatu perilaku menghasilkan perubahan pada kemungkinan/probabilitas terjadinya perilaku. Konsekuensi-konsekuensi, hadiah dan hukuman adalah kesatuan yang membentuk perilaku.

Contohnya, saat seorang siswa menulis puisi dengan baik, guru meresponnya dengan mengatakan, “Saya sangat bangga dengan hasil karyamu. Ini adalah puisi yang sangat indah.” Kalimat ini dapat disebut sebagai bentuk reinforcement (penguatan/hadiah) jika pada kesempatan berikutnya siswa itu berusaha lebih keras untuk membuat karya yang lebih baik lagi.

Applied Behavior Analysis 

Ini merupakan penerapan dari pengondisian operan untuk mengubah perilaku (terjadinya pembelajaran). Applied behavior analysis dalam dunia pendidikan penting untuk dua hal, yaitu: meningkatkan munculnya perilaku yang diharapkan dan menurunkan perilaku yang tidak diharapkan.

Berikut adalah cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan munculnya perilaku yang diharapkan pada anak/siswa menurut Santrock (2011):

  • Memilih bentuk-bentuk penguatan yang efektif. Tidak semua bentuk reinforcement (penguatan) tepat bagi seluruh siswa. Mungkin seorang siswa sudah terdorong untuk mengulangi perilaku baiknya hanya dengan dipuji, tetapi yang lain tidak. Misalnya, siswa yang lain mungkin lebih cocok dengan hadiah berupa pemberian izin untuk melakukan aktivitas yang disukai seperti boleh browsing di internet, boleh keluar kelas sebentar dsb. Bentuk-bentuk penguatan yang alami seperti pujian atau pemberian keistimewaan tertentu (privilege) lebih disarankan daripada yang berupa materi seperti pemberian permen atau uang.
  • Membuat penguatan menjadi suatu kesatuan dengan perilaku yang diharapkan dan tepat waktu. Contohnya, guru dapat mengatakan,”Toni, jika kamu sudah menyelesaikan sepuluh soal matematika maka kamu boleh pergi bermain di luar.” Kalimat itu akan memberikan informasi yang jelas dan spesifik tentang apa yang harus Toni lakukan untuk mendapatkan hadiahnya. Begitu Toni menyelesaikan tugasnya, hadiah harus segera diberikan agar Toni melihat adanya hubungan atau kesatuan antara perilaku positif dengan konsekuensi yang diperolehnya.
  • Memilih waktu yang terbaik untuk memberikan penguatan kepada siswa. Dapat dipahami bahwa dalam proses pembelajaran, tentu akan sulit untuk setiap saat memberikan penguatan pada perilaku baik siswa. Oleh sebab itu, penguatan bisa diberikan secara terpola pada waktu-waktu tertentu.
  • Membuat kesepakatan tertulis dengan siswa. Disarankan untuk membuat “peraturan” kelas tidak hanya satu pihak/ditentukan sendiri oleh guru, melainkan disusun bersama/disepakati bersama dengan saran/masukan dari siswa. Pada kesepakatan itu dapat dituliskan, “Siswa setuju untuk menjadi warga sekolah yang baik dengan melakukan …, …, dan … kemudian guru setuju untuk melakukan …, …, … jika siswa melaksanakannya.
  • Menggunakan penguatan negatif (negative reinforcement) dengan efektif. Kita perlu bijak dalam menggunakan penguatan negatif. Misalnya, guru bermaksud mendorong siswa mengerjakan tugas menulis puisi dengan cara melarang siswa mengikuti teman-temannya yang sedang membuat poster sebelum ia menyelesaikan tugas sebelumnya (menulis puisi). Siswa mungkin akan menangis, protes, atau berusaha kabur saat mendapat negative reinforcement berupa larangan itu. Ia mungkin sebenarnya kesulitan menghadapi tugas sebelumnya dan perlu bimbingan lebih dari guru.
  • Menggunakan prompt dan shaping. Menggunakan prompt berarti menambahkan stimulus atau petunjuk sebelum sebuah respon muncul. Sedangkan shaping artinya upaya membentuk perilaku baru dengan cara memberi penguatan pada perilaku yang mendekati target (meski belum sesuai target sebenarnya).

Berikut adalah cara yang dapat digunakan untuk mengurangi munculnya perilaku yang tidak diharapkan pada anak/siswa menurut Alberto & Troutman (2009 dalam Santrock, 2011):

  • Memberikan reinforcement pada perilaku yang berbeda. Guru dapat memberikan penguatan pada perilaku yang lebih diharapkan dan berbeda. Misalnya, guru memberikan penguatan ketika siswa menggunakan komputer untuk belajar daripada untuk bermain game, saat siswa mau mengantri, saat siswa mau mengangkat tangan sebelum bertanya dsb.
  • Mengakhiri pemberian penguatan. Banyak perilaku buruk cenderung diulangi oleh siswa justru karena mereka mendapat penguatan secara tak sadar dari gurunya. Penguatan tak sadar itu bisa berupa perhatian berlebih dari guru terhadap perilaku negatif siswa (menyalahkan, mengancam atau berteriak kepada siswa). Begitu guru menyadari bahwa ia telah memberi perhatian terlalu banyak pada perilaku negatif siswa, ia perlu belajar mengesampingkan perilaku negatif dan lebih memberi perhatian jika muncul perilaku positif/perilaku yang diharapkan.
  • Menerapkan time out dan response cost. Time out adalah menjauhkan siswa atau menghilangkan penguatan positif yang bisa diterimanya karena ia telah berperilaku negatif. Contohnya, siswa yang memukul temannya diminta untuk duduk sendiri menjauh selama beberapa waktu dari teman-temannya. Sedangkan response cost biasanya berupa penalti sebagai konsekuensi atas perilaku negatif. Misalnya, waktu istirahat siswa dikurangi sepuluh menit karena ia terlambat mengumpulkan tugas. 

Itulah beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk membantu mencapai tujuan dalam kegiatan belajar-mengajar. Sudahkah Anda menemukan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan?

Saya adalah blogger dan penulis lulusan S1 Psikologi Universitas Airlangga. Selain menulis saya juga aktif sebagai asisten psikolog di Pusat Layanan Psikologi BE Psychology.