Perbedaan Emosi dan Perasaan

Emosi dan perasaan sering dianggap sebagai dua hal yang sama. Itu membuat penggunaan kedua kata ini saling menggantikan satu dengan yang lain dalam ungkapan yang kita sampaikan di kehidupan sehari-hari.

Benarkah kedua kata itu memiliki persamaan makna?

Emosi dan perasaan sebenarnya mewakili dua hal yang berbeda namun berkaitan. Sebagian orang berpendapat bahwa bukan masalah besar jika kita menggunakan istilah yang kurang tepat, asalkan lawan bicara dapat menangkap maksudnya.

Meski demikian, dalam ranah keilmuan menelusuri maksud sebenarnya, mengetahui dengan jelas pembeda antara satu istilah dengan istilah lain menjadi penting sebagai upaya mencapai akurasi atau ketepatan pemahaman.

Apa Itu Emosi Dalam Psikologi?

Emosi adalah pengalaman subjektif (yang disadari oleh pikiran/kognisi), yang disertai dengan sensasi fisik (komponen fisiologis), dan ekspresi ke luar diri atau perilaku yang tampak (komponen perilaku) (Weiten, 2013).

Dalam KBBI, emosi merupakan kata benda yang artinya luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat, serta keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan, keberanian) yang bersifat subjektif.

Farnsworth (2020) menjelaskan bahwa emosi secara teknis dapat diartikan sebagai reaksi neurologis terhadap stimulus emosional.  Emosi adalah respon yang terjadi di daerah subkortikal otak (yaitu amigdala, yang merupakan bagian dari sistem limbik) dan neokorteks (ventromedial prefrontal korteks, yang berurusan dengan pikiran sadar, penalaran dan pengambilan keputusan).

Bagian otak yaitu amigdala, memiliki peran yang sangat penting dalam munculnya emosi. Amigdala mengatur pelepasan neurotransmiter di hipokampus (sebuah area otak yang berperan penting bagi pembentukan dan penguatan ingatan/memori).

Itu menjadi sebab mengapa sebuah pengalaman yang melibatkan emosi di dalamnya seperti pengalaman patah hati, dihukum, lulus sekolah, mendapatkan pekerjaan pertama, hingga menanti kelahiran anak, menjadi sangat kuat dalam ingatan kita, sulit sekali dilupakan, dan cenderung dapat diingat dalam waktu yang lama.

Teori Emosi

Berikut ini beberapa teori psikologi yang menjelaskan bagaimana emosi dapat dialami oleh manusia seperti dijelaskan dalam Weiten (2013).

Teori James-Lange

Menurut William James dan Carl Lange, emosi adalah pengalaman yang diperoleh sebagai hasil dari persepsi kita terhadap respon fisik/tubuh. Jika selama ini kita umumnya menganggap bahwa jantung berdetak lebih cepat karena kita merasa takut, teori James Lange menyatakan sebaliknya, kita merasakan takut karena jantung berdetak lebih kencang.

Teori ini menekankan faktor fisiologis sebagai penentu atas emosi yang kita rasakan. Menurut teori ini, pola aktivitas tubuh yang berbeda akan menghasilkan jenis emosi yang berbeda.

Teori Cannon-Bard

Walter Cannon dan Philip Bard tidak yakin dengan penjelasan atas terjadinya emosi seperti yang dijelaskan dalam teori James-Lange. Walter Cannon menyatakan bahwa manusia bisa merasakan reaksi fisiologis tanpa mengalami suatu emosi. Ia juga menyatakan bahwa emosi yang berbeda-beda seperti senang, marah dan takut justru memiliki pola reaksi tubuh/fisiologis yang sama.

Menurut teori Cannon Bard, emosi terjadi ketika talamus (bagian otak) mengirim sinyal secara bersamaan ke korteks dan sistem saraf otonom. Korteks menghasilkan pengalaman emosi yang bisa kita sadari, sedangkan sistem saraf otonom membuat kita merasakan sensasi tertentu di tubuh.

Teori ini mengatakan bahwa kita merasa takut dan jantung berdetak lebih cepat karena ada stimulus yang menakutkan. Antara rasa takut dan perubahan fisik (percepatan detak jantung) terjadi secara bersamaan bukan berurutan.

Teori Schachter’s Two Factor

Stanley Schachter menyatakan bahwa pengalaman emosi itu bergantung pada dua faktor yaitu autonomic arousal (perubahan fisiologis/sensasi di tubuh) dan pemaknaan atau interpretasi kita terhadap autonomic arousal tersebut.

Schachter menyatakan bahwa ketika tubuh kita teraktivasi, kita akan menggunakan lingkungan sebagai penjelasan. Ketika situasinya macet, kita akan melabel suatu sensasi tubuh sebagai pertanda marah. Ketika situasinya merayakan ulang tahun, maka kita akan menyebut diri kita sedang senang.

Schachter setuju dengan James-Lange bahwa suatu emosi bisa disimpulkan dari perubahan tubuh/fisiologis yang dialami, namun ia juga setuju dengan Cannon-Bard bahwa tidak ada perbedaan pola reaksi tubuh yang jelas pada jenis emosi yang berbeda-beda.

Menurut Schachter, manusia lebih melihat ke luar daripada ke dalam dirinya untuk membedakan ragam emosi. Saat mendapat nilai yang jelek, kita cenderung menggunakan nilai jelek itu (faktor eksternal) sebagai penjelasan atas emosi sedih yang kita rasakan (“Aku sedih karena nilaiku sangat jelek”). Jarang kita menempuh jalur berpikir yang mengutamakan melihat kondisi internal seperti, “Nafasku terasa lebih berat dan badanku lemas, berarti aku sedang sedih.”

Schachter menjelaskan bahwa pemaknaan kita terhadap sensasi di dalam tubuh sebenarnya juga tidak lepas dari pemaknaan kita atas situasi di luar diri yang sedang terjadi. Schachter menyatakan bahwa faktor kognitif (pemaknaan) menjadi penentu utama bagaimana seseorang mengalami suatu emosi. Contohnya, “Tubuhku terasa lebih panas dan kamu memang sangat menyebalkan, berarti aku sedang marah.”

Enam Emosi Dasar Manusia

perbedaan emosi dan perasaan - emosi dasar manusia

Psikolog Paul Ekman pada tahun 1970 melakukan penelitian untuk mengidentifikasi enam emosi dasar yang secara universal dialami oleh semua orang dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda. Enam emosi dasar itu adalah sebagai berikut.

Happiness

Ini adalah jenis emosi yang paling banyak diinginkan atau dicari oleh semua orang. Happiness dapat diartikan sebagai kondisi emosi yang menyenangkan, yang dicirikan dengan perasaan puas, gembira, dan merasa sejahtera. Emosi senang biasanya juga ditunjukkan dengan ekspresi wajah yang tersenyum, bahasa tubuh yang tenang atau santai, serta nada bicara yang antusias atau bersemangat.

Sadness

Kesedihan adalah keadaan emosi yang ditandai dengan perasaan kecewa, sedih, putus asa, kehilangan ketertarikan terhadap sesuatu, merasa lemah, lesu dan perilaku menangis. Meski kesedihan sering membuat manusia merasa tidak nyaman, ia juga bisa mendorong manusia untuk mengerahkan kemampuannya untuk menyelesaikan suatu masalah (melakukan mekanisme koping).

Fear

Ini adalah jenis emosi yang mendorong kita untuk menentukan respon fight (menghadapi) atau flight (pergi) terhadap sesuatu yang sifatnya menimbulkan ancaman. Takut dicirikan dengan otot yang menegang, jantung dan pernafasan yang semakin cepat, teriakan atau justru suara yang tercekat dan gerak tubuh yang menjauhi sumber ketakutan bahkan bersembunyi darinya.

Disgust

Emosi jijik ditandai dengan gerak tubuh yang menjauhi sumber penyebab rasa jijik, muntah, menutup hidung atau mulut, serta mengerutkan hidung atau mulut. Emosi jijik hadir biasanya saat kita berinteraksi dengan bau, rasa atau penglihatan yang tidak menyenangkan.

Anger

Emosi marah ditandai dengan perasaan benci, frustasi maupun permusuhan dengan orang lain. Saat emosi marah dialami, orang akan menunjukkan dengan ekspresi wajah yang cemberut atau melotot, pergi begitu saja atau menjaga jarak, bicara dengan cepat atau teriak, berkeringat dan wajah memerah, hingga perilaku agresif seperti membanting, menggebrak, memukul atau menendang.

Meski emosi marah dikenal sebagai emosi negatif, marah kita perlukan agar mampu mempertahankan diri jika ada ketidakadilan atau hak yang tak terpenuhi. Marah juga dapat mendorong kita untuk mengambil suatu tindakan dan mencari solusi.

Surprise

Terkejut dirasakan oleh manusia ketika ia mengalami sesuatu yang tak terduga. Emosi ini bisa negatif, positif atau netral tergantung pada konteksnya. Kita bisa merasa terkejut ketika mendapat hadiah atau menang undian, tetapi kita juga bisa merasa terkejut ketika seseorang tiba-tiba muncul dari balik pintu sambil memakai kostum hantu. 

Kecerdasan Emosi

Kecerdasan emosi atau emotional intelligence adalah kemampuan manusia untuk memahami emosinya sendiri dan orang lain, serta menggunakannya secara cerdas untuk dapat menjalani hidup yang lebih baik.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa emosi memiliki pengaruh yang kuat terhadap keputusan dan perilaku kita. Daniel Goleman menjelaskan bahwa orang yang cerdas secara emosi memiliki kemampuan untuk:

  • Sadar diri (memahami emosi yang dirasakan sehingga mengetahui apa yang tepat untuk dilakukan).
  • Mengelola diri (mampu mengatasi emosi, bukan malah dikendalikan oleh emosi, tidak terlarut oleh apa yang dirasakan, terbiasa berpikir sebelum bertindak).
  • Memotivasi diri (mampu mengarahkan energi dalam dirinya untuk bergerak mencapai tujuan-tujuan dalam hidupnya).
  • Berempati (memiliki kepekaan terhadap apa yang dirasakan dan dialami oleh orang lain, mau mempertimbangkan kebutuhan atau keadaan orang lain dan tidak hanya mementingkan diri sendiri).
  • Bersosialisasi (memiliki kemampuan yang baik untuk membaca situasi sosial, menempatkan diri, menjalin relasi, melakukan komunikasi dan interaksi yang positif dengan orang lain).

Dalam istilah kecerdasan emosi, emosi digunakan untuk mewakili sebuah kapasitas mental yang mencakup pemikiran, perasaan dan tindakan atau perilaku, ke dalam maupun ke luar diri yang bertujuan mencapai kehidupan yang positif bersama-sama dengan orang lain.

Apa Itu Perasaan?

Dalam KBBI dijelaskan, perasaan berasal dari kata rasa yang berarti: hasil atau perbuatan merasa dengan pancaindera, keadaan batin, kesanggupan untuk merasa atau pertimbangan batin saat menghadapi sesuatu.

Jika makna kata rasa di atas disandingkan dengan definisi emosi dalam Bahasa Indonesia yang telah dituliskan pada bagian sebelumnya, dapat kita lihat bahwa perasaan lebih fokus pada aspek afeksi atau rasa, atau yang biasanya kita sebut dengan hati, sedangkan emosi mencakup aspek lain yaitu kognisi/pikiran serta perilaku.

Perbedaan Emosi dan Perasaan

apa perbedaan emosi dan perasaan

Selain perbedaan makna secara bahasa, terdapat sudut pandang lain untuk membedakan emosi dan perasaan. Farnsworth (2020) menyebutkan bahwa emosi berkaitan dengan reaksi tubuh yang timbul karena neurotransmitter dan hormon yang dilepaskan oleh otak, sedangkan perasaan adalah pengalaman sadar atas reaksi emosi itu.

Perasaan dipicu oleh emosi dan dibentuk oleh pengalaman pribadi, keyakinan, ingatan dan pikiran yang terkait dengan emosi tertentu. Perasaan adalah produk lain dari otak yang merasakan emosi dan memberikan makna tertentu kepada emosi itu (Farnsworth, 2020).

Dengan kata lain, emosi yang kita rasakan atau maknai, itulah yang dapat kita sebut sebagai feeling. Miller (2017) menjelaskan bahwa membedakan emosi dan perasaan bisa dilakukan berdasarkan waktunya. Emosi muncul pertama, kemudian setelah reaksi kimia bekerja di tubuh, kita akan merasakannya (menjadi feeling).

Emosi adalah dilepasnya zat kimia di otak sebagai respon atas suatu pemicu/penyebab/kejadian, sedangkan perasaan adalah saat kita mulai menyatu dengan emosi, mulai memikirkan emosi itu dan membiarkannya meresap pada diri kita sehingga kita dapat merasakan dan mengenali keberadaannya.

Dalam sudut pandang ini, emosi dilihat sebagai respon tubuh/fisiologis yang segera/sementara terhadap suatu stimulus, sedangkan perasaan dilihat sebagai sensasi fisik dan mental yang muncul setelah kita menginternalisasi emosi. Jika emosi cenderung singkat atau sesaat, perasaan biasanya bertahan dalam waktu yang lebih lama.

Selain itu, perasaan juga dapat mencakup lebih dari satu emosi. Contohnya saat momen kelulusan, kita mengenal istilah bittersweet. Momen kelulusan itu manis (menyenangkan) tetapi juga getir (menyedihkan). Emosi sedih dan senang dapat hadir dalam satu waktu karena pada momen itu kita merasa lega dan merayakan suatu keberhasilan, tetapi juga berhadapan dengan perpisahan dengan teman-teman.

Perbedaan lain antara emosi dan perasaan juga dapat ditemukan dari sudut pandang sadar-tak sadar. Emosi adalah sesuatu yang unconscious dan instinctive (tak kita sadari dan instingtif/dorongan yang timbul dari dalam). Semua orang memiliki emosi, bahkan meski kita tidak menunjukkannya atau menunjukkannya dengan cara yang tidak sejalan.

Orang tetap dikatakan marah, baik mereka berteriak atau pun diam. Orang tetap dikatakan merasakan emosi takut, baik saat ia bersembunyi maupun saat sok berani, memaksakan diri menghadapi yang ditakuti.

Selain itu, semua orang pasti sebenarnya marah jika di tengah jalan tiba-tiba ia ditimpuk dengan batu. Semua orang akan sedih jika gagal meraih sesuatu yang sangat diinginkan atau mengalami kehilangan/kerugian. Emosi membuat manusia mampu merasakan hal yang sama dengan alasan atau sebab-sebab yang serupa.

Bahkan emosi itu tetap ada saat kita tidak menyadarinya atau malah mengingkarinya. Contohnya, orang bisa berekspresi marah-marah tidak jelas kepada pasangannya padahal emosi yang dirasakan sebenarnya adalah takut/khawatir kehilangan dirinya.

Kita bisa saja mengatakan, “Enggak kok, aku nggak papa” padahal sebenarnya sedang sedih luar biasa. Kita bisa mengalami suatu emosi, meski tak mengenalnya, tak menyadarinya atau memang tak mengakuinya.

Sebaliknya, perasaan adalah reaksi kita terhadap emosi. Untuk bisa bereaksi terhadap emosi, kita perlu lebih dulu menyadari emosi. Suatu emosi bisa menimbulkan perasaan yang berbeda-beda.

Contohnya, saat hubungan dengan si dia berakhir, manusiawi jika emosi yang timbul adalah sedih. Tetapi setelah itu bisa saja ada orang yang tetap merasakan kesedihan, ada juga orang yang merasa biasa saja atau bahkan bersyukur, setelah ia menyadari fakta bahwa si dia memang bukan orang yang layak untuk dipertahankan.

Emosi sedih pada contoh tersebut belum tentu dirasakan sebagai kesedihan, tergantung pada pemaknaan atau respon yang kita pilih terhadapnya. Dengan kata lain, perasaan lebih subjektif dari emosi. Berbeda orang, berbeda pula perasaannya. Berbeda cara berpikir atau cara memaknai, berbeda pula perasaan kita terhadap sebuah situasi.

Emosi yang kita alami bisa sama, tetapi rasanya (kadar dan dinamikanya) berbeda-beda. Perasaan juga dapat kita gunakan untuk menyatakan keadaan yang tidak dicakup oleh emosi, misalnya: merasa kesakitan, merasa kedinginan, merasa haus dan merasa lapar.

Petunjuk ini juga mengindikasikan satu lagi perbedaan antara emosi dan perasaan yaitu bahwa perasaan adalah sesuatu yang sepenuhnya kita sadari (conscious). Kata merasa mengandung awalan me- yang menunjukkan bahwa secara aktif kita melakukan sesuatu (dalam hal ini merasa). Artinya, kita sedang atau sudah menyadari sesuatu.

Saya adalah blogger dan penulis lulusan S1 Psikologi Universitas Airlangga. Selain menulis saya juga aktif sebagai asisten psikolog di Pusat Layanan Psikologi BE Psychology.