Pengertian Psikologi Kepribadian.jpg

Psikologi Kepribadian: Cara Mengetahui Kepribadian Seseorang

Berbicara mengenai kepribadian seseorang adalah hal yang menarik untuk dilakukan. Mengapa kita bisa menebak perilaku seseorang? Apa yang menyebabkan persamaan dan perbedaan sikap di antara satu orang dengan orang lainnya? Pertanyaan tersebut dapat dijawab menggunakan sudut pandang psikologi kepribadian.

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari pikiran dan perilaku manusia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia. Sementara itu, psikologi kepribadian mempelajari kepribadian manusia melalui sikap, tingkah laku, dan ciri khas yang melekat pada seseorang. Terdapat banyak sekali hal yang dapat kita pelajari dari psikologi kepribadian.

Apa Itu Kepribadian?

Dilansir dari psychologytoday.com, kepribadian manusia sangatlah unik dan beragam. Kepribadian mengacu pada kumpulan ciri dan pola yang khas mengenai pemikiran, perasaan, dan perilaku manusia. Ciri dan pola tersebut dapat terbentuk melalui faktor lingkungan dan pengalaman sehari-hari. Meskipun ada kemungkinan untuk berubah, karakteristik seseorang cenderung menetap dan stabil sepanjang hidupnya.

Menurut Feist & Feist (2014), kepribadian adalah pola sifat dan karakteristik unik yang relatif permanen dan konsisten pada perilaku seseorang. Karena karakteristiknya yang unik, psikologi kepribadian seseorang dengan orang lain akan berbeda. Hal ini disebabkan karena kepribadian terbentuk dari bawaan (genetik) dan lingkungan di sekitarnya.

Sifat dan Kepribadian

Sifat dan kepribadian seringkali dianggap sebagai hal yang serupa. Padahal, sifat dan kepribadian adalah dua hal yang berbeda. Feist & Feist (2014) mengatakan bahwa sifat yang dimiliki seseorang bisa jadi sama dengan kelompoknya, bahkan dengan seluruh spesies. Akan tetapi, polanya berbeda antara satu orang dengan lainnya.

Dalam sudut pandang psikologi kepribadian, sifat merupakan karakteristik spesifik yang dimiliki oleh seseorang. Ketika berbagai macam sifat tersebut dikombinasikan, maka akan membentuk sebuah kepribadian. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sifat-sifat tersebut akan membentuk kepribadian yang unik lalu membentuk identitas seseorang.

Sebagai contoh, sifat-sifat yang umum dimiliki oleh manusia adalah pemarah, pemalu, pemberani, penakut, periang, dan lain-lain. Ketika beberapa dari sifat-sifat tersebut melebur menjadi satu, maka akan membentuk sebuah kepribadian. Bisa jadi menjadi kepribadian dengan tipe extrovert, introvert, dan lain sebagainya yang akan dijelaskan lebih lanjut.

Teori-Teori Kepribadian

Teori-Teori Kepribadian

Sejumlah ilmuwan sepakat bahwa kepribadian adalah hal yang sangat kompleks, tidak ada satu definisi yang dapat menjelaskan kepribadian secara menyeluruh. Oleh karena itu, muncul banyak teori-teori kepribadian yang diusung oleh tokoh-tokoh psikologi kepribadian dunia. Berikut adalah teori-teori kepribadian yang disusun dari berbagai macam perspektif:

Teori Psikoanalisis

Salah satu tokoh yang mencetuskan teori psikoanalisis adalah Sigmund Freud. Teori psikoanalisis Freud menekankan pada ketidaksadaran sebagai pusat dan pendorong tingkah laku seorang manusia. Konsep tersebut memunculkan teknik proyeksi sebagai sarana untuk mengetahui kepribadian seseorang.

Menurut Freud, kepribadian seseorang terbentuk karena ketidaksadaran orang tersebut. Terdapat tiga aspek yang mendasari struktur kepribadian, yaitu id (aspek biologis), ego (aspek psikologis), dan superego (aspek sosiologis). Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang saling bekerja sama dalam membentuk dan mempengaruhi perilaku manusia.

Id terdiri dari naluri-naluri biologis (seksual dan agresif) yang sudah ada sejak janin masih berada di dalam kandungan. Ego bertugas sebagai pelaksana kepribadian, mengontrol dan memerintah id dan superego, dan menjalin hubungan dengan dunia luar. Superego dianggap sebagai moral kepribadian, yaitu mengevaluasi dan memberi penilaian atas mana yang baik dan mana yang buruk.

Teori Tipologis

Tipologis termasuk dalam metode tertua (klasik) yang digunakan untuk memahami kepribadian manusia. Inti dari teori ini adalah dengan memahami seseorang berdasarkan kategori atau tipe yang sudah ditetapkan. Salah satunya adalah Hippocrates (selanjutnya disempurnakan oleh Galenus) yang membagi kepribadian menjadi empat tipe, yaitu:

Sanguinis

Tipe kepribadian sanguinis erat kaitannya dengan popularitas. Sanguinis si populer memiliki kecenderungan akan disenangi banyak orang, karena kepribadian mereka yang spontan, lincah, periang, dan karisma yang menarik. Mudah bersosialisasi dan berorientasi pada orang lain, mereka adalah orang-orang happy go lucky yang sering kita temui dalam kelompok pertemanan.

Koleris

Koleris dikatakan memiliki bakat sebagai pemimpin. Percaya diri, bergairah dan sombong, tipe ini penuh dengan ambisi dan energi yang tinggi. Di samping itu, memiliki kesamaan dengan tipe extrovert (meski ada beberapa yang termasuk introvert). Sifat-sifat lainnya adalah berkemauan yang tinggi, cenderung dominan, dan temperamental.

Melankolis

Perfeksionis, analitis, serius, tekun, pendiam, adalah beberapa sifat yang dimiliki oleh si melankolis. Menjadi orang yang tenang namun idealis, membuat mereka menyukai kesendirian. Sifat lainnya adalah serius, intens dalam mengerjakan sesuatu, sensitif, sangat hati-hati dalam mengambil keputusan, dan moody. Satu kata kerja yang dapat mewakili melankolis adalah, ia tipe yang sering merenung.

Plegmatis

Plegmatis memiliki ciri-ciri kepribadian yang tenang, rendah hati, sabar, dan cenderung pendiam namun santai dan stabil dalam menjalani hidup. Mereka adalah orang-orang yang konsisten dan setia dalam kelompok pertemanan. Sering menjadi pendengar yang baik, plegmatis juga suka menghindari konflik. Kelemahannya adalah sering bermalas-malasan dan sering tidak memiliki motivasi.

Teori Fenomenologis

Inti dari teori fenomenologis adalah menitikberatkan pada pengalaman penting yang dialami seseorang sehingga dapat menentukan tingkah laku dan kepribadian. Sebagai informasi, teori ini sering pula dikenal sebagai teori humanistik. Salah satu tokoh humanistik dalam ilmu psikologi adalah Carl Rogers.

Teori Behavioral dan Social Learning

Sedikit berbeda dengan teori-teori sebelumnya, behavioral dan social learning theory menitikberatkan pada penelitian-penelitian di laboratorium. Ivan Pavlov meneliti tingkah laku manusia menggunakan metode classical conditioning dan operant conditioning. Dapat disimpulkan berdasarkan teori ini bahwa tingkah laku manusia muncul sebagai hasil dari pengkondisian.

Teori Traits

Selanjutnya adalah teori traits yang digunakan untuk menggambarkan tingkah laku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Teori ini muncul karena adanya rasa ketidakpuasan terhadap teori tipologis yang telah dijelaskan di atas. Pada perjalanan ilmu psikologi, terdapat tiga teori traits yang paling berpengaruh, yaitu milik Cattell, Eysenck, dan Goldberg.

Asesmen Kepribadian

Asesmen Kepribadian

Untuk mengetahui, mendiagnosis, dan menaksir kepribadian seseorang, kita perlu melakukan sebuah asesmen. Asesmen adalah proses yang melibatkan salah satu atau beberapa metode seperti: tes, studi kasus, observasi, hingga wawancara dengan tujuan tertentu. Hasil akhir dari asesmen adalah keputusan, prediksi, atau keduanya, berdasarkan metode yang telah dilakukan.

Lalu, apa itu asesmen kepribadian? Yaitu proses yang melibatkan metode tertentu (tes, observasi, dan wawancara), dengan hasil akhir untuk mengetahui dan/atau memprediksi kepribadian seseorang. Terdapat beberapa aspek yang dinilai dari asesmen psikologi kepribadian, di antaranya adalah fungsi emosi, sosial, dan motorik yang dimiliki.

Macam-Macam Asesmen Kepribadian

Berdasarkan ilmu psikologi kepribadian, terdapat beberapa macam asesmen yang dapat dilakukan untuk menilai kepribadian seseorang. Di antaranya adalah observasi, wawancara, tes proyektif, tes non-proyektif, self-report inventory, dan masih banyak lainnya. Masing-masing metode asesmen memiliki ketentuannya sendiri.

Observasi adalah pengamatan tindakan seseorang secara langsung untuk merekam informasi perilaku dalam bentuk kuantitatif maupun kualitatif. Wawancara adalah metode untuk memperoleh informasi melalui komunikasi langsung dan melibatkan interaksi di antara dua pihak. Ada juga bentuk wawancara secara berkelompok (lebih dari dua orang) yang disebut sebagai FGD (Focus Group Discussion).

Apabila di kemudian hari hasil observasi dan wawancara dirasa masih kurang, maka disarankan untuk mencari data history. Yang dimaksud dengan data history adalah file masa lalu berupa tulisan atau benda, misalnya dari sekolah, rumah sakit, dan kantor. Misalnya, rekam medis kesehatan dari rumah sakit, catatan perilaku dari guru bimbingan dan konseling di sekolah, dan lain-lain.

Jenis asesmen lainnya adalah dalam bentuk tes kepribadian, yang terbagi menjadi tes proyektif dan non-proyektif. Berikut ini adalah beberapa tes kepribadian non-proyektif yang paling populer di kalangan masyarakat:

16 Personalities (MBTI)

Myers Briggs Type Indicators (MBTI) merupakan salah satu bentuk tes yang bertujuan untuk memahami dan mengetahui kepribadian manusia. Diciptakan oleh Katherine Briggs dan Isabel Briggs Myers, test ini bersumber dari teori psikologi kepribadian analitis. Tes kepribadian MBTI ini sangat populer di dunia, penggunanya pun meningkat tajam dari tahun ke tahun.

MBTI disusun menggunakan teori Carl Gustav Jung, yaitu pendiri psikologi analitis. Tujuan dari tes ini adalah untuk mengidentifikasi preferensi dasar manusia dalam berperilaku. Instrument MBTI terdiri dari 4 indeks utama dalam mengukur kepribadian manusia. Di antaranya adalah sebagai berikut:

ExtraversionIntroversion (E – I)

Pada dimensi ini, akan terlihat dari mana sumber energi seseorang diperoleh. Extraversion atau ekstrovert adalah tipe kepribadian yang menyukai dunia luar, senang bergaul, berinteraksi dengan orang lain, dan menikmati keramaian. Di sisi lain, introversion atau introvert lebih senang menyendiri, merenung, tidak suka bersosialisasi dalam keramaian, dan penuh konsentrasi.

SensingIntuiting (S – N)

Dimensi ini melihat bagaimana seseorang memproses sebuah data. Orang dengan tipe sensing, memproses data dengan praktis, realistis, dan konkret sesuai apa adanya. Sebaliknya, orang dengan tipe intuiting, memproses data dengan melihat pola dan hubungan yang ada. Berpikir abstrak, konseptual, dan melihat berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

ThinkingFeeling (T – F)

Berlanjut ke dimensi selanjutnya, orang dengan kecenderungan thinking akan menggunakan pikiran dan logika untuk mengambil keputusan. Berorientasi pada tugas, objektif, serta keras kepala. Feeling adalah ketika seseorang melibatkan perasaan, empati, dan nilai-nilai yang diyakini hati untuk mengambil keputusan. Berorientasi pada hubungan serta subjektif.

JudgingPerceiving (J – P)

Terakhir adalah dimensi judging dan perceiving. Judging diartikan sebagai tipe orang yang sistematis, bertindak secara teratur, dan tidak suka hal-hal mendadak di luar perencanaan. Perceiving diartikan sebagai tipe orang yang fleksibel, spontan, adaptif, dan dapat bertindak secara acak untuk mencari peluang yang muncul.

16 Tipologi MBTI

Berdasarkan empat indeks preferensi yang telah dijelaskan di atas, maka dirumuskan 16 tipologi kepribadian manusia. Masing-masing tipe tersebut merupakan hasil kombinasi dari keempat indeks kecenderungan di atas. Misalnya, ESFJ adalah Extraversion – Sensing – Feeling – Judging, yaitu seorang ekstrovert yang realistis, berperasaan, dan bertindak secara teratur.

Saat mengerjakan MBTI, tidak ada jawaban yang benar dan salah. Oleh karena itu, pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan kondisi kita sebenarnya. Setelah selesai mengerjakan MBTI, akan muncul satu tipologi kepribadian yang paling sesuai dengan diri kita. Berikut ini adalah 16 Tipologi MBTI yang dilansir dari website Myers Briggs (berisi teori dan pembahasan psikologi kepribadian MBTI).

ISTJISFJINFJINTJ
ISTPISFPINFPINTP
ESTPESFPENFPENTP
ESTUESFJENFJENTJ

Apabila tertarik untuk mengetahui tipe kepribadian, kamu dapat mengikuti tes online di website 16personalities.com secara gratis. Selain itu, kamu juga dapat mengetahui hasil dan interpretasinya langsung saat itu juga).

Extrovert, Introvert, dan Ambivert

Extrovert, Introvert, dan Ambivert

Eysenck dan Jung (dalam Feist & Feist, 2008) turut serta dalam membahas tiga tipe psikologi kepribadian ini. Sebenarnya, extrovert, introvert, dan ambivert lebih cocok disebut sebagai spektrum kepribadian dari pada tipe kepribadian. Hal ini disebabkan karena di lapangan, sangat jarang menemukan orang yang benar-benar murni extrovert ataupun introvert. Sedangkan ambivert dianggap ideal dan stabil, yaitu berada di antara extrovert dan introvert.

Extrovert

Mencari sumber energi dari dunia luar adalah karakteristik dari extrovert. Seperti yang kita tahu, seorang extrovert sangat menikmati proses interaksi dengan orang lain. Mereka akan menjadi sangat antusias, banyak bicara, asertif, dan suka menjalin pertemanan ketika bertemu orang lain. Berada di sekeliling orang lain dipercaya dapat meningkatkan energi dalam dirinya.

Hal-hal seperti pesta, aktivitas kelompok, demonstrasi publik, dan situasi lain yang melibatkan banyak orang sangat diminati oleh seorang extrovert. Karir dan pekerjaan yang cocok bagi mereka adalah pebisnis, politikus, dan pengajar. Serta pekerjaan lain yang membutuhkan kerjasama kelompok dan interaksi dengan banyak orang.

Para extrovert juga memiliki sejumlah kekurangan, yang paling utama adalah merasa sulit untuk bekerja sendirian. Selain itu, juga memiliki kesulitan dalam merefleksikan, mengintrospeksi, dan memahami diri mereka sendiri. Isolasi sosial akan terasa sangat menyiksa bagi para extrovert, karena mereka tidak bisa bertemu orang lain dalam waktu yang lama.

Introvert

Sejumlah ahli psikologi kepribadian mengkategorisasi introvert sebagai orang-orang yang cenderung menyukai kesendirian, bekerja dengan independen, dan suka merefleksikan diri. Mereka adalah orang-orang yang tertarik dengan keadaan mentalnya sendiri. Jenis pekerjaan yang cocok bagi para introvert adalah seniman, penulis, peneliti, komposer, dan pekerjaan lainnya yang membutuhkan tingkat refleksi tinggi.

Walau demikian, jenis kepribadian ini juga memiliki sejumlah kekurangan. Pertama, mereka cenderung bermasalah dengan pekerjaan kelompok dan hal-hal yang menyangkut sosialisasi seperti public speaking. Oleh karena itu, jenis pekerjaan seperti politikus dan public figure cenderung kurang cocok dengan introvert.

Ambivert

Berbeda dengan kepribadian extrovert dan introvert yang memiliki kutubnya sendiri, ambivert adalah tipe kepribadian yang berada tepat di tengah-tengah. Seorang ambivert merasa nyaman berada di dalam kelompok dan melakukan aktivitas sosial. Di satu sisi, mereka juga merasa nyaman untuk menghabiskan waktu sendirian dengan cara menjauhkan diri dari keramaian.

Jika dijelaskan dengan cara sederhana, orang dengan kepribadian ambivert dapat menyesuaikan diri dengan baik dalam segala situasi. Ambivert juga dapat menekuni berbagai macam karir yang sesuai dengan bakat bawaan mereka. Selain dapat beradaptasi dengan dinamika kelompok, mereka juga merasa baik-baik saja ketika harus melakukan isolasi sosial. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar manusia memiliki kepribadian jenis ini.

Edward Personal Preference Schedule (EPPS)

Salah satu jenis tes yang sering digunakan untuk mengungkap psikologi kepribadian adalah EPPS, yang dikembangkan dari teori Henry A. Murray. Kelebihan dari tes ini adalah sebisa mungkin menutup kemungkinan seseorang untuk menjawab pertanyaan sesuai tuntutan sosial (faking good). Terkadang, seseorang berpura-pura menjadi orang yang sangat baik (padahal tidak sesuai dengan sikap aslinya di dunia nyata).

Pada masanya, tes ini merupakan tes kepribadian yang disusun pertama kali sebagai alat konseling dan riset yang efektif. Dapat mengukur sejumlah variabel dengan cepat dan akurat. EPPS bertujuan untuk mengungkap kepribadian seseorang berdasarkan 15 needs atau kebutuhan dasar manusia. Berikut adalah penjelasan mengenai needs atau kebutuhan dasar manusia:

Achievement

Adalah kebutuhan dan dorongan seseorang untuk mencapai sesuatu dengan sebaik-baiknya. Untuk mencapai hal tersebut, terkadang menuntut usaha dan keterampilan tertentu. Selain itu, juga perlu mengerjakan tugas dan pekerjaan yang sulit dan menantang. Didorong dengan ambisi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari orang lain.

Kelebihan dari sifat ini adalah adanya kemauan untuk menunjukkan prestasi dalam bidang studi (pendidikan) maupun pekerjaan. Lalu, kekurangan dari sifat ini adalah jika dorongannya terlalu berlebihan, berpotensi untuk merugikan diri sendiri. Apabila terlalu ambisius mengejar mimpi, dapat mempengaruhi dunia sosial dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain.

Deference

Merupakan kebutuhan dan dorongan untuk mendapat pengaruh orang lain serta mengikuti apa yang diperintahkan orang lain. Sikap-sikapnya meliputi memuji hasil pekerjaan orang lain, memberi hadiah pada orang lain, dan menyerahkan kepada orang lain untuk mengambil keputusan. Sisi positif dari kebutuhan ini adalah adanya kemauan untuk patuh, mampu mengikuti dan menuruti perintah, serta menghargai orang lain.

Tentunya, kebutuhan deference ini juga memiliki sisi negatif. Pertama, kurang kritis dalam menghadapi sesuatu. Kedua, bisa jadi seseorang mengikuti sebuah perintah tanpa mengetahui dengan benar makna di balik perintah tersebut. Ketiga, menjadi seseorang yang cenderung sugestibel.

Order

Order merupakan kebutuhan untuk memiliki pekerjaan yang rutin, rapi, dan teratur. Juga memiliki kemampuan untuk merencanakan sesuatu sebelum bertindak dan memelihara barang agar selalu rapi dan baik kondisinya. Mengarsip surat, makan dan minum dengan teratur, juga termasuk kebutuhan dalam aspek ini.

Ternyata, sisi negatif juga ditemukan dalam kebutuhan order. Di antaranya yaitu mengurangi kelincahan dan kreativitas seseorang. Juga mengurangi kemampuan seseorang untuk memimpin dan mengatur serta memiliki rasa takut menyimpang sebuah aturan.

Exhibition

Exhibition adalah kebutuhan seseorang untuk menjadi pusat perhatian serta memamerkan dan menceritakan keberhasilan dirinya. Sikap lain yang dapat ditunjukkan ialah bertanya yang tidak ada jawabannya dan menggunakan kosa kata yang tidak dipahami orang lain. Membicarakan pengalaman memalukan dan mengerikan juga termasuk dalam kebutuhan ini.

Nilai positif dari kebutuhan ini adalah seseorang mampu menunjukkan dirinya dengan percaya diri, periang, dan optimis. Nilai negatif dari kebutuhan ini adalah terlalu sombong, menonjolkan diri, dan kemampuan yang kurang baik dalam mengontrol dirinya.

Autonomy

Autonomy berarti kebebasan, bebas untuk berbuat dan mengatakan apapun, bebas mengambil keputusan, termasuk bebas menghindari tanggung jawab. Mandiri, tidak tergantung pada orang lain, progresif serta orisinil adalah nilai positif dari kebutuhan autonomy. Menurut psikologi kepribadian, fanatik, radikal, kesulitan menyesuaikan diri secara kooperatif, hingga kepala batu, adalah nilai negatif dari kebutuhan ini.

Affiliation

Affiliation memiliki arti setia kawan, suka menjalin persahabatan, akrab dengan teman, dan antusias berpartisipasi dalam kelompok. Menjalin pertemanan dengan banyak orang, menulis surat untuk orang lain, juga termasuk ciri-ciri dari kebutuhan ini.

Sebagai salah satu kebutuhan, affiliation memiliki sejumlah nilai positif. Seperti perhatian kepada orang lain, mempunyai hubungan yang harmonis dengan teman, memiliki sifat hangat dan toleran. Lalu, nilai negatif dari affiliation adalah kurang tegas, kurang berani, kurang berpendirian, dan cenderung menjadi budak atau pesuruh orang lain.

Interception

Interception adalah kemampuan menganalisis motif dan perasaan, mengamati orang lain untuk mengetahui bagaimana perasaan mereka, dan menilai orang lain. Termasuk menempatkan diri di posisi orang lain, menganalisis perilaku orang lain, dan memperkirakan apa yang akan dilakukan orang lain.

Empati, peka, adanya keinginan untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik, adalah beberapa nilai positif dari kebutuhan interception. Mudah hanyut dan terbawa perasaan orang lain, kesulitan untuk mempertahankan jarak, adalah beberapa nilai negatif yang dapat ditimbulkan dari kebutuhan ini.

Succorance

Succorance berarti keinginan untuk dibantu orang lain ketika mengalami kesulitan dan juga mencari dukungan dari orang di sekitarnya. Karakteristik lainnya adalah mengharapkan simpati orang lain, menerima kasih sayang orang lain, dan mengharapkan kata maaf jika merasa tersakiti.

Khusus pada kebutuhan succorance, nilai negatif lebih dominan dari pada nilai positif (sesuai dengan teori psikologi kepribadian). Pasif, cenderung manja, egosentris, kurang bersikap dewasa, terlalu dependen, termasuk contoh nilai negatif kebutuhan ini. Labilitas emosi dan kurang tegas dalam menyesuaikan perasaannya memicu munculnya nilai-nilai negatif tersebut.

Dominance

Sesuai dengan artinya, dominance berarti dominan. Dominan dalam bentuk ingin menjadi pemimpin dalam kelompok, ingin dipandang sebagai penguasa, ingin mengambil keputusan dan mengarahkan kelompok. Perilaku lainnya adalah mendikte apa yang harus dilakukan orang lain hingga membantah pendapat yang disampaikan oleh orang lain.

Walaupun demikian, ada nilai positif yang dihasilkan dari kebutuhan ini. Yaitu mampu memimpin, membina, mengawasi, menghimpun, mengorganisasikan, dan memiliki kepercayaan diri dalam mengadakan hubungan sosial. Keinginan untuk menjajah, otoriter, mengharuskan orang lain, tidak mengakui hak dan kewajiban manusia, termasuk nilai negatif yang ditimbulkan.

Abasement

Abasement adalah perasaan berdosa setelah berbuat keliru, perasaan perlu dihukum apabila berbuat salah, dan menerima ejekan orang lain. Bentuk lainnya adalah merasa lebih baik menghindar apabila ada perkelahian dan rendah diri ketika berhadapan dengan orang lain.

Keberanian untuk mengakui kesalahan, rendah hati dan tidak sombong, serta menerapkan tata krama adalah nilai positif dari kebutuhan ini. Kurangnya rasa percaya diri, selalu merasa bersalah dan berdosa, kurangnya keinginan dan kemauan di dalam hidup. Hal-hal tersebut adalah sifat kompleks yang dapat merugikan diri sendiri di dalam pergaulan sosial.

Nurturance

Makna dari nurturance adalah perasaan senang ketika menolong teman, membantu orang-orang yang kurang beruntung, dan memberikan simpati pada orang sakit. Wujud lainnya adalah berbaik hati pada orang lain, memaafkan jika ada yang berbuat salah, dan memperlihatkan rasa kasih sayang.

Variabel positif dari nurturance adalah mencerminkan hati dan perasaan yang hangat, memiliki spontanitas dalam pelayanan dan perawatan (manusia maupun benda). Kepeduliaan sosial yang tinggi akan orang-orang di sekitar juga termasuk hal positif dari kebutuhan ini. Sementara itu, variabel negatifnya adalah kurang lugas, kurang rasional, serta melupakan diri sendiri sehingga dirinya terlantar dan dimanfaatkan.

Change

Change atau perubahan, berarti menyukai hal-hal baru, menemui teman baru, dan mengalami peristiwa baru. Perubahan yang dimaksud juga meliputi siap menghadapi hal yang tidak rutin, mencoba berbagai jenis pekerjaan, dan senang berpindah-pindah tempat.

Poin positif yang dapat diambil dari kebutuhan change adalah fleksibel, selalu ingin mencoba hal baru, dan selalu ingin bereksperimen. Oleh karenanya, diri seseorang dapat berkembang menjadi lebih baik. Poin negatif dari kebutuhan change adalah cenderung plin plan, kurang melakukan introspeksi diri, serta tidak teguh pendirian.

Endurance

Endurance adalah kemampuan untuk bertahan pada satu pekerjaan hingga selesai. Mampu menyelesaikan pekerjaan yang telah dimulainya, bekerja keras pada sebuah tugas tertentu, dan berkeinginan tinggi untuk menyelesaikan masalah. Karakteristik lainnya adalah tekun mengerjakan sesuatu dan siap untuk tidur larut malam jika pekerjaan belum kunjung selesai.

Kegigihan dan keuletan saat mengerjakan sesuatu serta pantang menyerah saat menghadapi masalah adalah sisi positif dari endurance. Karena terlalu terpaku pada pekerjaan, maka akan muncul sifat kaku dan rigid, yang mana merupakan sisi negatif dari kebutuhan ini.

Heterosexuality

Heterosexuality adalah bagaimana seseorang dapat terlibat dalam kegiatan kelompok yang melibatkan orang lain dengan jenis kelamin berbeda. Juga kegiatan lain seperti bepergian dengan lawan jenis, mengagumi lawan jenis, serta membaca informasi mengenai seksualitas. Berpartisipasi dalam diskusi mengenai seksualitas juga salah satu bentuk kegiatannya.

Menjalani kehidupan seksualitas dalam batas normal serta memiliki pandangan yang wajar akan masalah seksualitas, termasuk dalam sisi positif. Akan tetapi, menanggapi kehidupan seksualitas secara overacting (berlebihan) maupun repressed (ditekan), termasuk dalam sisi negatifnya.

Aggression

Aggression atau agresi, adalah tindakan menyerang, menyampaikan pikiran yang bertentangan, mengancam, hingga melukai perasaan orang lain. Apabila agresi terkendali dan dapat diperhitungkan (terlebih lagi untuk tujuan yang baik), maka dikategorisasikan sebagai nilai yang positif. Jika agresi dilakukan secara nekat dan bertujuan untuk merusak (destruktif), maka termasuk dalam sisi negatif dari kebutuhan agresi.

Penutup

Demikian penjelasan dan uraian mengenai psikologi kepribadian dari perspektif ilmu psikologi. Dapat kita ketahui bahwa terdapat banyak sekali jenis kepribadian dan jenis asesmen yang dapat digunakan untuk mengetahui kepribadian seseorang. Masing-masing teori psikologi kepribadian juga memiliki aspek yang beragam. Terima kasih telah membaca artikel ini sampai selesai, semoga bermanfaat untukmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *