Mencetak Pembelajar Aktif dengan Psikologi Kognitif

Mencetak Pembelajar Aktif dengan Psikologi Kognitif

Kognisi/pikiran diyakini sebagai penentu perilaku. Apa yang kita lakukan ditentukan oleh apa yang kita pikirkan. Itulah alasan kenapa pendidikan dianggap penting guna menciptakan perubahan.

Jika ingin mengubah dunia, ubahlah manusianya. Jika ingin mengubah manusia, pengaruhilah pikirannya. Manusia akan jadi baik kalau dia terdidik. Manusia akan berubah hidupnya, meningkat kualitas pribadinya, jika ia mau belajar.

Pertanyaannya, sudahkah kita belajar?

Apakah para siswa di sekolah dan para mahasiswa di kampus benar-benar belajar? Apakah kita sebagai manusia sadar untuk selalu mau belajar?

Perlu kita akui bahwa kondisi ideal yang mana manusia mau dan mampu belajar sepanjang hayat masih belum tercapai.

Masih banyak orang yang berpikir bahwa belajar hanya tugas anak sekolahan. Belajar dianggap selesai saat ijazah sudah dalam genggaman.

Anak sekolah pun banyak yang mengeluh, bosan. Sedangkan para guru, tak jarang harus kerepotan menghadapi siswa yang badannya bersama mereka tapi pikirannya ke mana-mana. Para siswa jenis ini bahkan sebenarnya jauh lebih bahagia kalau jam pelajarannya tiada (jam kosong).

Apakah Kamu pernah menjadi salah satunya? Terima kasih atas jawaban jujurnya.

Ini adalah masalah yang patut menjadi perhatian kita bersama. Sebelum menuntut orang lain atau diri sendiri mencapai berbagai prestasi, mari kita evaluasi. Apakah kita sudah punya mental pembelajar? Apakah kita sudah mengambil langkah untuk membangun mental pembelajar? Apakah kita sudah melakukan upaya-upaya yang bisa mendorong lahirnya semangat aktif belajar?

Penghargaan dan penghormatan kami sampaikan kepada setiap orang yang mau peduli dan terlibat dalam dunia pendidikan. Para guru, orangtua, aktivis, ilmuwan dan para pemangku kepentingan. Kami mengapresiasi setiap orang yang mau mengambil bagian untuk memberdayakan melalui pendidikan.

Kami memahami bahwa mengubah wajah pendidikan mengandung banyak tantangan. Ini tidak mudah dilakukan, tetapi tidak mudah bukan berarti tidak mungkin diupayakan.

Terkait dengan membangun mental pembelajar, salah satu bidang kajian dalam psikologi patut dipertimbangkan sebagai rujukan. Mengingat bahwa proses belajar terjadi dalam pikiran, psikologi kognitif bisa ikut memberi jawaban atas apa yang kita butuhkan.

Apa itu Psikologi Kognitif?

Istilah kognitif berasal dari kata cognition yang artinya mengerti. Mengerti yang dimaksud di sini mencakup proses sejak manusia mendapatkan, mengelola hingga mampu menggunakan pengetahuan.

Psikologi kognitif merupakan salah satu bidang kajian dalam Psikologi yang berusaha memahami proses mental manusia seperti bagaimana manusia memperhatikan, mempersepsi, memaknai, mengolah informasi, memperkirakan, mempertimbangkan, menyimpan informasi (mengingat), membuat keputusan, hingga memproduksi bahasa.

Aktivitas kognitif manusia yang berpusat di otak sangat penting untuk dipahami, karena diyakini bahwa perilaku selalu didasari oleh apa dan bagaimana pemikiran seseorang saat suatu peristiwa terjadi.

Apa Tujuan Psikologi Kognitif?

  1. Mengumpulkan bukti-bukti ilmiah adanya aktivitas mental yang mendasari perilaku manusia.
  2. Mempelajari proses mental manusia sebelum akhirnya mampu menggunakan pengetahuan yang didapatkan.

Apa Manfaat Mempelajari Psikologi Kognitif?

Mempelajari Psikologi Kognitif membuat kita lebih mudah memahami apa yang sesungguhnya terjadi dalam pikiran atau proses mental kita. Pemahaman mendalam tentang bagaimana manusia berpikir sebelum akhirnya berperilaku, memberikan perspektif yang lebih luas dan utuh untuk memahami manusia.

Berbekal Psikologi Kognitif kita juga bisa tahu bagaimana seharusnya berperilaku maupun merespon perilaku orang lain sesuai konteksnya. Psikologi kognitif dalam konteks pendidikan juga bermanfaat membantu meningkatkan kemampuan berpikir yang kita miliki.

Selain itu sebagai manusia kita melakukan banyak hal kompleks setiap detiknya. Hanya saja kita sering tidak menyadarinya. Oleh karena itu mempelajari Psikologi Kognitif bisa meningkatkan penghargaan kita terhadap diri sendiri dan Tuhan yang menciptakan manusia secara sempurna, lengkap dengan kognisinya.

Gawat Darurat Pendidikan Indonesia

Gawat Darurat Pendidikan Indonesia
Ilustrasi via pixabay.com

Kalimat di atas adalah judul paparan kondisi pendidikan yang disampaikan oleh Anies Rasyid Baswedan saat beliau masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada 2014 lalu.

Istilah gawat darurat menekankan sangat banyak persoalan yang harus dituntaskan di dunia pendidikan Indonesia saat itu. Bagaimana dengan sekarang?

Istilah gawat darurat sepertinya masih relevan digunakan. Rendahnya kompetensi guru, belum meratanya kualitas pendidikan, kurangnya motivasi belajar, stagnannya kemampuan siswa, rendahnya minat baca, hingga berbagai perilaku bermasalah yang ditunjukkan oleh para pelajar masih banyak terjadi sampai hari ini.

Hasil UKG (Uji Kompetensi Guru) di Indonesia pada 2018 menunjukkan lebih dari 70% guru dinilai kurang kompeten karena belum mampu mencapai standar kompetensi minimum yang ditetapkan. Padahal mereka adalah tulang punggung pendidikan. Tentu banyak faktor perlu dengan bijak kita sadari karena lemahnya kompetensi, bukan sepenuhnya salah mereka sendiri.

Sementara itu angka partisipasi pendidikan di negeri kita sebenarnya terus naik setiap tahun. Makin banyak anak Indonesia bisa bersekolah. Namun bagaimana kualitas proses belajar yang terjadi, masih menyisakan misteri sampai hari ini.  

Kemudian kurangnya semangat belajar siswa juga menambah daftar panjang permasalahan kita. Kalau mengamati fenomena di ruang-ruang kelas, mudah rasanya menemukan siswa yang meletakkan kepala di atas meja saat guru menjelaskan, kabur ke kantin saat jam pelajaran, mencontek saat ulangan, hingga lebih asik bermain game atau menjelajah media sosial daripada belajar.

Lemahnya gairah belajar bahkan masih mudah kita temui di tingkat pendidikan tinggi. Mahasiswa yang suka menunda, nebeng nama saat ada tugas kelompok, lebih memilih memanfaatkan jatah bolos meski sebenarnya tidak ada keperluan dan sebagainya.

Jika proses belajarnya saja belum optimal, rasanya mustahil hasil belajarnya bisa maksimal. Terbukti, skor kemampuan siswa Indonesia masih konsisten tergeletak di bawah. Pada 2018 hasil pemetaan PISA (Program Penilaian Pelajar Internasional yang menguji kemampuan siswa di bidang literasi, matematika dan sains) menunjukkan posisi kita ada di peringkat 72 dari 77 negara.

Nilai yang didapat siswa Indonesia di tiga bidang tersebut berturut-turut adalah 371, 379 dan 396. Padahal skor rata-rata internasional untuk literasi, matematika dan sains adalah 487, 489 dan 498. Capaian nilai siswa Indonesia masih jauh di bawah rata-rata.

Data PISA juga menunjukkan bahwa siswa Indonesia yang benar-benar mahir atau menguasai satu bidang juga rendah. Dalam kemampuan literasi, hanya 30% siswa yang mencapai kemahiran tingkat dua, padahal rata-rata internasional adalah 77%. Dalam bidang matematika hanya 28% siswa kita yang mencapai kemahiran tingkat dua padahal rata-rata dunia adalah 76% siswa.

Singkat cerita data di atas menggambarkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam literasi, matematika dan sains jauh dari harapan. Diduga penyebabnya adalah model pendidikan yang belum mampu mendorong siswa aktif belajar dan berpikir pada level lebih tinggi (menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan). Kita baru berkutat pada level pemahaman atau di bawahnya lagi, hafalan.

Pengungkapan data-data tersebut tentu bukan bermaksud menjatuhkan martabat pendidikan apalagi menyebarkan pesimisme soal masa depan. Data dipublikasikan supaya menjadi masukan dan dorongan agar solusi segera ditemukan kemudian dilaksanakan.

Kesalahan dalam Praktik Pendidikan

Zaman terus berkembang. Perubahan dan penyesuaian harus terus dilakukan, tak terkecuali dalam dunia pendidikan.

Mengawali perubahan atau melakukan perbaikan bisa diawali dengan membangun kesadaran tentang kesalahan yang pernah dilakukan. Berikut adalah beberapa praktik pendidikan yang tidak lagi sesuai untuk dilanjutkan.

Mematikan Kreativitas dan Rasa Ingin Tahu

Kemampuan berpikir manusia berkembang seiring dengan usianya. Anak-anak kemampuannya berbeda dengan orang dewasa.

Saat mencapai usia tertentu anak menjadi sangat ingin tahu. Ia akan sering bertanya untuk menjawab rasa penasarannya. Secara tidak sengaja, orang dewasa kadang mematikan imajinasi dan semangat belajar ini dengan berkata, “Sudahlah nggak usah cerewet! Nggak usah banyak tanya!”.

Kalimat-kalimat tersebut berisiko tinggi membuat anak menghentikan petualangan di alam pikirnya.

Menganggap Sekolah Sebagai Mesin Cuci 

Sekolah dan para guru memang punya kewajiban mendidik siswa, namun tanggung jawab mendidik anak tetap di tangan orangtua. Sayangnya beberapa oknum orangtua tak menyadarinya.

Mereka tidak mau terlibat dan menuntut sekolah menciptakan perubahan pada diri anak. Padahal perkembangan kemampuan berpikir anak dimulai sejak mereka belum masuk ke sekolah. Pada masa tersebut seharusnya orangtua menjadi lingkungan pertama dan utama bagi anak untuk mengenal dunianya dan mengoptimalkan kesiapan berpikirnya.

Menjadi Pemerintah atau Pewawancara

Dengan dalih mendorong siswa aktif belajar, siswa diminta mengerjakan di rumah semua penugasan dalam bukunya kemudian dikumpulkan, dinilai dan selesai. Padahal proses belajar seharusnya lebih dari itu. Ada aktivitas, ada pula interaksi antara siswa-guru, siswa-siswa, siswa-lingkungan, juga siswa-orangtua.

Mendorong siswa menjadi aktif bukan berarti langsung lepas tangan. Baik guru maupun orangtua penting perannya sebagai fasilitator, bukan hanya pemerintah atau pewawancara yang fokusnya hanya bertanya, “Udah belajar belum?”, “Dapet nilai berapa tadi?”.

Lupa Menghargai Keragaman

Secara kognitif manusia punya potensi yang berbeda-beda. Ada yang lebih mudah memahami angka, ada yang lebih mudah memahami bahasa, ada yang lebih mudah memahami estetika dan sebagainya.

Secara kognitif pula tingkat pemahaman antar manusia terhadap suatu permasalahan, berbeda satu dengan lainnya. Memang bukan perkara mudah mengakomodasi keberagaman ini. Apalagi dalam praktiknya di sekolah dengan model kelas besar.

Setidaknya hal yang bisa kita lakukan adalah mengapresiasi upaya yang ditunjukkan oleh siswa dan menghindari mengucap kalimat negatif yang bisa menghancurkan kepercayaan dirinya. Contohnya dengan tidak mengatakan, ”Dasar bodoh!”, “Masak gitu doang nggak bisa!”.

Mereduksi Manusia ke dalam Angka

Pertanyaan besar pada poin ini antara lain adalah:

  • Apakah nilai mencerminkan kedalaman pikiran, bahkan kemampuan?
  • Apakah siswa yang mendapat nilai 100 berarti kemampuannya sudah sangat optimal?
  • Apakah nilai yang didapat siswa masih bisa dipercaya, jika adanya KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) secara tidak langsung melarang guru memberi nilai di bawah itu?
  • Apakah proses-proses kognitif yang sangat kompleks pada diri kita cukup diwakili dengan angka-angka?

Meski demikian pemberian nilai memang masih sulit untuk dihindari. Sekali lagi perbandingan rasio antara guru dan siswa yang tidak sebanding, memang menyulitkan para pendidik untuk mengevaluasi hasil belajar siswa secara kualitatif.

Hal yang bisa kita pelajari dari poin ini setidaknya adalah, jangan terlalu bangga dengan angka, atau sebaliknya menjadi sangat frustasi karenanya.

Dominasi Pembelajaran Satu Arah

Pembelajaran satu arah memosisikan proses belajar seperti pemindahan/pewarisan pengetahuan. Guru adalah pihak yang paling tahu. Siswa belajar dari guru dan guru tidak perlu belajar dari siswa.

Guru memberikan ceramah sepanjang hari dan siswa harus patuh, duduk, diam, mendengarkan. Jika tidak, akan diberi hukuman. Bukankah itu terdengar sangat membosankan?

Guru menyiapkan segalanya dan siswa cukup diam saja.

Pembelajaran yang didominasi proses satu arah pernah dikritik oleh tokoh pendidikan asal Brasil, Paulo Freire. Freire menyebut model pendidikan tersebut sebagai pendidikan gaya bank (banking education).

Dalam pendidikan gaya bank, murid ibarat celengan dan guru adalah penabung. Murid dilihat seperti benda mati tanpa daya kreasi. Proses belajar seperti itu tidak membuka peluang terjadinya interaksi. Siswa juga tidak pernah benar-benar mampu memahami.

Selain itu model pembelajaran ini juga membentuk mental menunggu (siswa pasif).

Mengapa Penting Mencetak Pembelajar Aktif?

Mengapa Penting Mencetak Pembelajar Aktif
Ilustrasi via unsplash.com

Setiap hari tanaman bertambah tinggi dan akarnya bertambah panjang. Tubuh kita secara umum juga begitu. Berawal dari bayi yang hanya berapa sentimeter, seiring waktu bisa tumbuh lebih tinggi. Hewan selalu butuh tidur, minum dan makan. Kita juga demikian. Lalu apa yang membuat kita berbeda dengan mereka? Betul, akal atau kemampuan berpikir adalah jawabannya.

Kalau seekor harimau lapar, insting akan menggerakkannya mencari mangsa. Mencari hewan berdaging untuk mengenyangkan perutnya. Berbeda dengan manusia. Jika merasa lapar, ia akan bertanya, “Enaknya makan apa ya?”.

Biji kacang hijau cuma bisa pasrah. Ia akan berubah jadi kecambah asal diletakkan di tempat yang agak basah. Kalau pun ditimbun di gurun, si biji tidak mampu menyadari kesalahan posisinya, apalagi minta tolong kepada unta untuk memindahkannya. Sedangkan manusia? Kita leluasa.

Manusia bisa bahagia jika hidup berjalan sesuai rencana dan kecewa jika realitanya berbeda. Manusia bisa menyerap informasi dan mengingat apa yang mereka pelajari.  

Manusia bisa mempersepsi dan menyadari apa yang ada di sekitarnya. Manusia bisa menentukan pilihan atau membuat keputusan-keputusan. Manusia mampu mengevaluasi keadaan, bahkan memikirkan pemikiran.

Di sini kita melihat bahwa menjadi manusia, kita memang punya potensi untuk menjadi makhluk yang aktif. Pikiran menjadi penggerak keaktifan kita sebagai makhluk yang berbeda dari jenis lainnya.

Maka dalam kaitannya dengan proses belajar, sebenarnya mencetak pembelajar aktif bisa dikatakan adalah langkah mengembalikan manusia kepada kodratnya, sebagai makhluk yang aktif berpikir, aktif belajar.

Selain itu kognisi juga ikut menentukan kehendak atau keinginan kita. Keinginan itu lalu menjadi penggerak perilaku. Maka mencetak pembelajar aktif sebenarnya penting agar mereka terbiasa mengarahkan dan mengelola diri sendiri dalam rangka mengembangkan diri.

Dengan demikian mencetak pembelajar aktif adalah langkah tepat untuk membentuk sikap mental yang mandiri dan berdaya. Pembelajar aktif diharapkan tumbuh sebagai orang yang tahu betul apa tujuannya, bagaimana cara meraihnya serta bagaimana mempertahankan dirinya menghadapi berbagai tantangan untuk sampai pada tujuan.

Apabila misi mencetak pembelajar aktif berhasil dicapai, maka negeri ini akan punya banyak sumber daya manusia berkualitas. Orang-orang yang punya gairah memecahkan masalah bukan menambah masalah.

Beberapa Teori dalam Psikologi Kognitif

Ada banyak konsep atau teori dalam psikologi kognitif yang berkembang sejak aliran ini muncul. Beberapa diantaranya sudah diterapkan dalam dunia pendidikan.

Teori Perkembangan Kognitif (Jean Piaget)

Piaget mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan bukan untuk meningkatkan jumlah pengetahuan, tetapi untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan agar seseorang mampu menemukan dan menciptakan sendiri, bukan hanya mengulangi apa yang sudah dilakukan oleh generasi sebelumnya.

Pendidikan menurut Piaget bertujuan membentuk pikiran yang kritis, mampu menguji bukan hanya menerima gagasan.

Berikutnya Piaget menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Menurutnya manusia secara aktif membangun pemahaman tentang dunia di luar dirinya.

Piaget juga mengatakan bahwa pengalaman akan membuahkan pengetahuan. Dengan kata lain ia menekankan pentingnya peran pengalaman terhadap pemerolehan pengetahuan.

Menurut Piaget pengetahuan yang kita miliki tertata dalam suatu struktur kognitif yang disebut skema. Seiring dengan bertambahnya pengalaman, skema-skema baru akan terbentuk sehingga struktur kognitif menjadi semakin kuat.

Proses berpikir dan mendapatkan pengetahuan dijelaskan oleh Piaget dengan beberapa tahap yaitu: organisasi (kita mengelompokkan berbagai pengalaman dan pengamatan) kemudian dibentuklah skema (kumpulan konsep yang nantinya kita pakai sebagai bahan untuk memahami lingkungan), lalu saat mengalami hal baru kita akan beradaptasi (menyesuaikan skema dalam kepala kita).

Proses adaptasi dilakukan dengan dua cara yaitu asimilasi (menggabungkan informasi ke dalam pengetahuan yang sudah dimiliki) dan akomodasi (menyesuaikan pengetahuan yang sudah dimiliki agar sesuai dengan pengalaman yang baru).

Piaget mengatakan bahwa anak-anak tidak hanya menelan begitu saja setiap informasi yang diberikan kepadanya. Mereka akan memaknainya dengan caranya. Mereka memahaminya sesuai versi mereka.

Itu disebabkan karena kemampuan kognisi anak berkembang seiring usianya. Berikut adalah tahap perkembangan kognitif menurut Piaget:

Tahap Sensorimotor (Lahir-Usia 2 Tahun)

Pada tahap ini anak mengenali kenyataan di sekitarnya dengan gerak anggota tubuh dan alat indra. Ia akan belajar dengan cara melihat, menyentuh/memainkan objek dengan tangan, mengecap, mendengar dst.

Tahap Pra Operasional (Usia 2-7 Tahun)

Pada tahap ini anak mulai mampu mengenali objek dengan simbol (kata dan gambar). Meski demikian ia belum mampu berpikir logis tentang objek yang dikenalinya.

Tahap Operasional Konkrit (Usia 7-11 Tahun)

Anak pada tahap ini sudah mampu berpikir logis jika dibantu dengan bantuan objek konkrit. Contohnya, dua adalah konsep abstrak. Anak akan lebih mudah paham apa maksudnya ‘dua’ jika kita menyodorkan dua buah apel atau dua buah benda nyata lainnya.

Tahap Operasional Formal (Usia 11 Tahun ke Atas)

Anak pada tahap ini sudah mampu melakukan penalaran, memahami konsep-konsep abstrak (meski wujudnya tidak terlihat ia bisa paham) serta berpikir dengan logis.

Dalam penerapannya di dunia pendidikan konsep di atas memudahkan kita memahami sejauh mana level kemampuan berpikir anak sesuai usianya. Ini juga berarti bahwa kita perlu memfasilitasi mereka berpikir/belajar sesuai dengan kemampuannya.

Teori Sosiokultural (Lev Vigotsky)

Vigotsky berpendapat bahwa proses perubahan pikiran dan perilaku anak dipengaruhi oleh interaksi sosial dan faktor budaya.

Menurutnya rangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai oleh anak seorang diri bisa dipelajari dengan bantuan orang dewasa atau anak lain yang lebih terampil. Jika anak mengalami kesulitan untuk mengerjakan suatu tugas artinya kemampuannya belum optimal. Ada jarak antara kemampuan saat ini (jika ia bekerja sendiri) dengan kemampuan yang seharusnya dikuasai (jika ia dibimbing orang lain). Jarak itu disebut zone of proximal development.

Kemampuan yang belum optimal tersebut bisa ditingkatkan dengan bantuan teman sebaya yang lebih terampil atau orang dewasa. Oleh karena itu Vigotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dengan orang lain dalam proses belajar.

Bantuan yang orang lain berikan secara bertahap di awal proses pembelajaran dan terus dikurangi ketika anak sudah semakin mampu melakukan sesuatu disebut dengan scaffolding. Saat ini scaffolding bukan hanya mungkin dilakukan oleh manusia lain tetapi juga bantuan teknologi misalnya komputer.

Dari konsep yang disampaikan oleh Vigotsky kita bisa belajar bahwa optimalisasi kognisi anak juga perlu dilakukan dengan memberi mereka arahan/bimbingan sesuai yang mereka butuhkan. Selain itu model belajar kelompok juga diyakini bisa membantu anak meningkatkan kemampuan.

Discovery Learning (Jerome Bruner)

Senada dengan Piaget, Bruner juga menyatakan bahwa individu mampu mengonstruk/membangun sendiri pemahamannya tentang dunia. Itu dilakukan dengan mengelompokkan dan mengatur informasi menggunakan suatu sistem pengkodean.

Bruner mengungkapkan bahwa cara paling efektif untuk mengembangkan sistem pengkodean yang ada dalam pikiran kita adalah dengan menemukan sendiri informasi, daripada diberikan oleh orang lain.

Discovery learning bisa terjadi jika anak/manusia tidak langsung diberi jawaban melainkan difasilitasi untuk menemukan jawaban sendiri. Discovery learning terjadi saat anak berusaha menyelesaikan masalah menggunakan pengalaman dan pengetahuan yang sebelumnya sudah mereka miliki.

Dalam discovery learning anak didukung untuk aktif belajar dengan memanipulasi objek, eksperimen, atau melakukan penyelidikan sebelum akhirnya menarik kesimpulan.

Beberapa teori dalam psikologi kognitif yang telah disebutkan, menunjukkan kepada kita bahwa mendukung pembelajar aktif sangat penting. Bukan hanya berorientasi pada hasil belajar, tetapi proses (aktifnya kognisi) jauh lebih utama.  Efek sampingnya, pengetahuan yang bermakna.

Angin Segar dengan Merdeka Belajar

Angin Segar dengan Merdeka Belajar
Ilustrasi via unsplash.com

Istilah merdeka belajar mulai viral sejak Menteri Pendidikan Indonesia, Nadiem Anwar Makarim mengucapnya dalam pidato untuk memperingati Hari Guru Nasional 2019. Publik kemudian bertanya, apa sih maksudnya merdeka belajar?

Merdeka belajar adalah gagasan tentang pentingnya memberi kebebasan kepada unit-unit pendidikan seperti sekolah, guru dan murid untuk berinovasi. Selama ini terlalu banyak aturan yang mengikat dunia pendidikan dan menjadi beban terutama bagi pelaksana di lapangan, yaitu guru dan sekolah.

Hal itu membuat mereka kehilangan kemerdekaan untuk mengembangkan pikiran dan memberikan yang terbaik bagi siswa, habis energi untuk hal yang bukan tujuan utama, sehingga minim inovasi dalam pembelajaran.

Dalam konsep merdeka belajar, guru terlebih dahulu harus punya kemerdekaan berpikir sebelum mengajar. Berpikir reflektif dan bermakna perlu dilakukan sebelum memandu proses belajar siswa.

Ke depan proses pembelajaran akan digeser dari yang semula terfokus di dalam kelas menjadi tak terbatas oleh kelas. Kegiatan belajar diupayakan agar jadi pengalaman yang menyenangkan bukan yang penuh tekanan.

Belajar seharusya juga berawal dari kesadaran bukan semata karena mengikuti kewajiban. Pembelajaran juga didorong untuk bersifat dua arah/interaktif sehingga siswa dan guru bisa bertukar pikiran.

Selain itu merdeka belajar juga merujuk pada penghargaan atas perbedaan keunggulan potensi siswa, tak ada lagi tuntutan untuk menjadi sama satu dengan lainnya.  

Jika dilihat secara konsep, merdeka belajar jelas menjadi angin segar bagi dunia pendidikan yang sepertinya penuh kebuntuan. Konsep ini juga sesuai dengan saran-saran yang ada dalam psikologi kognitif di mana titik tekannya adalah peran kesadaran, pikiran dan kemampuan setiap individu melaksakan pembelajaran secara aktif, merdeka dan bermakna.

Mencetak Pembelajar Aktif dengan Meningkatkan Self Regulated Learning (SRL)

Merdeka belajar berarti merdeka berpikir. Maka dalam menyikapi arah kebijakan pendidikan Indonesia tersebut penting bagi kita untuk “mencetak” pembelajar aktif atau pembelajar yang punya inisiatif.

Bagi sebagian orang, menjadi aktif bukan hal mudah. Selama bertahun-tahun kita terbiasa menjadi penerima bukan pencari ilmu.

Dalam Psikologi Kognitif terdapat sebuah konsep yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa. Konsep itu disebut dengan Self Regulated Learning (SRL) atau kemampuan mengelola pembelajaran secara mandiri.

Barry J. Zimmerman menjelaskan bahwa SRL merujuk pada bagaimana seseorang mampu menjadi nahkoda dari proses belajar mereka sendiri. SRL adalah kemampuan individu untuk menggunakan sumber daya mental kemudian mewujudkannya dalam perilaku-perilaku spesifik untuk mencapai tujuan belajarnya.

Zimmerman mengungkapkan bahwa SRL adalah keterikatan penuh (total engagement) berbagai bagian otak yang mencakup atensi dan konsentrasi tinggi, kesadaran diri dan introspeksi, penilaian diri yang jujur, keterbukaan terhadap perubahan, disiplin diri dan penerimaan atas tanggung jawab belajar individu.

Adanya SRL membuat individu menjadi aktif selama proses pembelajaran dengan cara menetapkan tujuan, mengawasi, mengatur dan mengontrol pikiran, motivasi, serta perilaku mereka sendiri sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Meningkatkan SRL?

Sebagai individu kita bisa meningkatkan SRL dengan mempelajarinya. Jika selama ini kita belajar berbagai macam pelajaran seperti matematika, bahasa, fisika, kimia, sudah saatnya kita juga belajar bagaimana caranya belajar (learning how to learn). Belajar menjadi pembelajar dan mengajarkan cara menjadi pembelajar.

Seorang psikolog pendidikan, Paul R. Pintrich menjelaskan bahwa SRL mencakup empat hal yaitu bagaimana kita meregulasi kognisi, motivasi & afeksi, perilaku, serta konteks dalam pembelajaran.

Meregulasi kognisi artinya kita perlu belajar untuk memilih dan menggunakan berbagai bentuk strategi kognitif untuk berpikir, mengingat, menalar, dan menyelesaikan masalah. Contohnya agar mudah memahami teori kita belajar cara menghubungkan teori dengan pengalaman sehari-hari. Contoh lainnya, agar mudah mengingat informasi kita belajar membuat jembatan keledai atau mencatat dengan mind mapping.

Sedangkan meregulasi motivasi dan afeksi artinya kita perlu belajar bagaimana caranya menetapkan tujuan, cara menyemangati diri sendiri, cara menjadi percaya diri, cara mengelola emosi, cara berpikir positif, cara menghadapi kegagalan dsb. Contohnya kita belajar mengelola emosi dengan metode relaksasi.

Kemudian meregulasi perilaku artinya kita perlu belajar bagaimana mengelola perilaku belajar dengan baik. Contohnya kita belajar tentang bagaimana mengatur waktu (time management) dengan menyusun jadwal belajar sendiri.

Selanjutnya meregulasi konteks dalam pembelajaran artinya kita belajar untuk mengondisikan lingkungan supaya mendukung aktivitas belajar kita. Contohnya kita belajar menata ruang belajar supaya nyaman, belajar cara bekerjasama dengan teman, belajar mengenali potensi gangguan di sekitar seperti suara TV, notifikasi HP, dsb.

Jadi, berapa lama kamu sudah menempuh pendidikan? Apakah selama itu Kamu juga sudah belajar menjadi pembelajar?

Jika mau belajar jadi pembelajar, sebenarnya kita bukan hanya sedang berusaha menguasai strategi untuk belajar/mendapat pengetahuan, tetapi juga berusaha menaklukkan diri sendiri. Mengontrol pikiran, perasaan, perilaku juga lingkungan.

Selain upaya yang bisa kita lakukan secara mandiri, SRL pada siswa juga bisa ditingkatkan dengan peran para guru. Itu dapat dilakukan dengan banyak cara. Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan SRL siswa.

  1. Secara eksplisit mengajak siswa belajar bagaimana caranya belajar.
  2. Memfasilitasi belajar mandiri. Ini sebenarnya sudah sering diterapkan di sekolah. Contohnya, guru mendorong siswa untuk mempelajari satu topik kemudian menjelaskan di hadapan teman-temannya. Secara otomatis model seperti ini mengharuskan siswa bergerak (belajar) agar mampu menyampaikannya.
  3. Guru mengajak siswa mengamati secara langsung lingkungan sekitarnya kemudian mendiskusikan masalah-masalah yang terjadi, menguraikannya dengan konsep-teori, lalu berusaha mengusulkan solusi.
  4. Guru mengadakan kuis di awal sesi. Model seperti ini mendorong siswa untuk secara mandiri mencari tahu sebelum mereka belajar bersama gurunya.
  5. Guru memotivasi siswa dengan cara mengajak mereka berpikir reflektif dengan menulis esai. Contoh: Guru menanyakan, “Kenapa kalian ada di kelas ini? Untuk apa kalian di sini? Apa yang mau kalian dapat dari kelas saya? Menurut kalian, apa pelajaran ini penting? Apakah yang kita pelajari berguna untuk masa depan kalian?”.

Itulah beberapa cara yang bisa kita lakukan sebagai individu juga sebagai pendidik untuk mengoptimalkan SRL pada diri sendiri maupun pada siswa. 

Bagaimana, sudah siap jadi pembelajar yang merdeka?

Plato berkata, akal adalah “sopir” bagi jiwa. Itulah mengapa, penting bagi kita untuk mendidiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *