Menjadi Profesional Muda Berharga dengan “Senjata” Psikologi Komunikasi

Dalam setiap fase perkembangan hidup yang kita alami, tantangan akan datang silih berganti. Begitu pula saat memasuki usia dewasa. Bekerja menjadi salah satu persoalan yang harus dipecahkan. Selain untuk mendapatkan penghasilan, bekerja juga penting untuk mengaktualisasikan diri alias menyalurkan potensi yang kita miliki demi mencapai kepuasan pribadi.

Hari ini mencari pekerjaan begitu mudah dikatakan tetapi sangat sulit dilakukan. Sampai di sini kita sepakat kan? Oleh sebab itu mencari pekerjaan tidak lagi bisa dilakukan secara sembarangan. Ada strategi yang harus kita pelajari, salah satunya adalah memahami psikologi komunikasi. Untukmu yang ingin menyambut masa depan dengan persiapan, juga untukmu yang sudah kenyang dengan penolakan, bacalah tulisan ini hingga titik penghabisan. 

Apa Itu Psikologi Komunikasi?

Psikologi komunikasi adalah salah satu topik pengembangan kajian dalam Ilmu Psikologi. Psikologi sendiri adalah ilmu yang mempelajari perilaku individu dan proses mental manusia. Psikologi berusaha memahami bagaimana manusia berpikir (kognitif), merasa (afektif) dan berperilaku (konatif).

Sedangkan komunikasi dimaknai sebagai proses timbal balik antara penyampai dan penerima pesan dengan simbol/cara tertentu agar suatu pesan bisa dipahami atau direspon dengan tepat. Sehingga psikologi komunikasi bisa diartikan sebagai topik kajian yang berusaha menguraikan, memprediksi dan mengendalikan pikiran dan perilaku manusia dalam proses mengirim-menerima pesan/informasi.

Apa Tujuan Psikologi Komunikasi?

  1. Mendapatkan gambaran/memahami alasan/sebab-sebab di balik fenomena perilaku yang muncul dalam komunikasi kita.
  2. Memperkirakan atau memprediksi perilaku lawan bicara.

Apa Manfaat Mempelajari Psikologi Komunikasi?

Dengan memahami apa yang sesungguhnya terjadi dan apa kemungkinan yang akan terjadi dalam komunikasi, kita bisa mengambil keputusan tentang apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan untuk mendapatkan respon sesuai dengan harapan. Dengan kata lain mempelajari psikologi komunikasi akan memperbesar peluang untuk bisa mempengaruhi perilaku orang lain supaya tujuan/keinginan kita dalam proses komunikasi bisa tercapai.

Realita Dunia Kerja

Realita Dunia Kerja
Ilustrasi via unsplash.com

Sudah bukan rahasia lagi bahwa jumlah pengangguran di negeri ini angkanya besar sekali yaitu 7,05 juta orang per Agustus 2019 lalu. Sebenarnya terlepas dari berapa pun angkanya, intinya kita tidak ingin berlama-lama menjadi salah satunya kan? Jika Kamu membaca tulisan ini saya yakin jauh di dalam hatimu ada keinginan kuat untuk segera mengurangi beban negara, bekerja, menghasilkan sesuatu untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga.

Minimnya lapangan kerja selama ini dituding sebagai biang keladi masih tingginya pengangguran di Indonesia. Jumlah lapangan pekerjaan yang tak sebanding dengan jumlah pencari kerja dianggap menyisakan sejumlah orang yang kemudian diberi label menyedihkan, pengangguran.  Namun belakangan pemerintah mengatakan bahwa sebenarnya jumlah lapangan kerja yang tersedia sudah sesuai target alias sudah cukup memadai. Hanya saja ketimpangan keterampilan menjadi persoalan.

Kuantitas sumber daya manusia kita dinilai belum seiring dengan kualitasnya. Kondisi itu membuat perusahaan sebagai penyedia lapangan kerja kebingungan. Rekrutmen yang mereka selenggarakan memang diserbu ribuan bahkan puluhan ribu orang, tetapi mereka tetap kesulitan mendapatkan talenta yang sesuai kebutuhan. Produk pendidikan kita baik yang lulusan SMK atau Perguruan Tinggi dinilai masih banyak yang belum siap memasuki dunia kerja.

Selain hard skill yang berupa pengetahuan dan kemampuan sesuai bidang keilmuan, kurangnya soft skill yang salah satunya adalah kemampuan komunikasi, juga banyak dikeluhkan. Bayangkan saja apa yang akan terjadi jika perusahaan menerima orang yang sangat pintar tetapi setiap kali diminta presentasi dia bicara dengan terbata-bata, tak mampu menyampaikan isi kepalanya? Atau bagaimana jika seseorang hanya mau bekerja sendiri, padahal ia seharusnya berkolaborasi dengan pekerja lain lintas generasi? Maka mempelajari psikologi komunikasi di sini juga penting untuk membantumu melengkapi kompetensi.

Sementara itu isu lain mencuat. Bonus demografi sudah di depan mata. Bonus demografi yaitu meningkatnya jumlah penduduk usia produktif, diprediksi terjadi pada 2030. Dampaknya, jumlah pencari kerja akan meningkat tajam dan persaingan yang sekarang sudah tinggi akan semakin tinggi. Bagaimana menurutmu? Apakah itu adalah ancaman atau tantangan?

Dalam situasi tersebut perusahaan semakin punya banyak pilihan. Jika ingin memenangkan persaingan, selain harus ahli atau kompeten sesuai bidangnya, seorang pencari kerja juga harus mampu menjual diri, meyakinkan perusahaan untuk memilih dirinya di antara lautan manusia yang punya kemampuan setara dengannya. Maka meluangkan waktu mempelajari psikologi komunikasi adalah hal yang tidak akan kamu sesali.

Mengapa Perusahaan Mencari Kandidat yang Komunikatif?

Mengapa Perusahaan Mencari Kandidat yang Komunikatif
Ilustrasi via pixabay.com

Salah satu proses penting dalam seleksi tenaga kerja adalah wawancara. Perusahaan berusaha menggali data dan fakta tentang dirimu dengan bertanya langsung kepadamu. Dalam proses wawancara, yang dianggap penting bukan hanya apa yang kamu sampaikan. Bukan hanya isi atau hal-hal yang kamu ucapkan, tetapi juga bagaimana cara dan gayamu memberikan jawaban.

Itu menunjukkan siapa dirimu dan sejauh mana kemampuan komunikasi yang kamu miliki. Data awal itu akan digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh perusahaan untuk memprediksi apa yang akan terjadi jika mereka mempekerjakanmu dan untuk menilai apakah kamu layak, kemudian akan sanggup bekerja mengikuti aturan/tuntutan dan target yang mereka miliki. Mau tidak mau di sini kita harus mengakui bahwa komunikasi lagi-lagi menjadi pintu masuk mendapatkan pekerjaan impian.

Memang, tidak semua pekerjaan harus sangat mengandalkan kemampuan komunikasi. Operator mesin produksi misalnya. Namun pertanyaannya, bagaimana jika perusahaan ternyata punya dua pilihan kandidat untuk dipertimbangkan? Dua-duanya memenuhi semua kriteria minimum yang ditetapkan. Begitu dipanggil, orang pertama menjabat tangan pewawancaranya dengan mantab sambil tersenyum. Sepanjang proses wawancara ia juga mampu menyampaikan gagasan dengan runtut  dan jelas. Sedangkan orang kedua tangannya berkeringat (padahal ruang wawancara ini ber-AC), duduk dengan gelisah, berulang kali memberi jeda “Ee… em…. Eee…” saat bicara. Saat menjawab pertanyaan ia juga sering menunduk/menghindari kontak mata. Orang manakah yang lebih mungkin dipilih?

Orang pertama punya peluang lebih besar untuk dinilai sebagai orang yang cukup percaya diri, ramah dan mudah bergaul dengan orang lain. Orang seperti ini diprediksi bisa mendukung terciptanya suasana kerja yang menyenangkan dan nyaman. Jadi, mengapa orang yang komunikatif lebih mungkin dipilih?

  1. Kemampuan komunikasi penting untuk membangun hubungan di dalam internal perusahaan. Pada akhirnya satu orang dengan lainnnya, satu unit dengan unit lainnya, hingga bawahan dengan atasan atau sebaliknya, dituntut untuk saling memahami agar mampu berkolaborasi. Komunikasi yang lancar di dalam tubuh perusahaan bisa meningkatkan kenyamanan suasana kerja dan memudahkan pemecahan masalah/konflik.
  2. Kemampuan komunikasi sangat berguna untuk membangun kepercayaan dan mempengaruhi perilaku konsumen. Contohnya customer service dan sales sebagai ujung tombak pelayanan dan pemasaran, mutlak punya keterampilan komunikasi yang mumpuni. Maka orang yang komunikatif adalah aset penting bagi perusahaan.
  3. Mencapai target organisasi. Setiap organisasi pasti punya visi dan misi. Setiap perusahaan juga demikian. Segala tindakan, aturan, kebijakan diambil demi mencapai tujuan. Lalu bagaimana caranya agar orang-orang yang bekerja di suatu perusahaan bergerak kompak, bersama-sama melakukan upaya terbaiknya sesuai tugas dan fungsinya untuk mewujudkan visi organsasi? Ya, tentu saja dengan komunikasi. Tujuan yang jelas juga harus dijelaskan (dikomunikasikan) kepada semua orang yang bekerja di sana.

Orang-orang yang komunikatif adalah agen pembangun iklim yang sehat ke dalam perusahaan serta pembangun citra positif ke luar perusahaan. Dua hal yang berjalan beriringan itu tentu akan menyegerakan dan memudahkan perusahaan mencapai target secara keseluruhan. Lain ceritanya jika para karyawan yang bekerja kurang komunikatif (contoh: menggunakan cara komunikasi yang sama kepada semua orang, memilih memendam perasaan, menggunakan kata kasar untuk menyampaikan kekecewaan dll.). Perusahaan pasti semakin sulit mencapai visi dan misinya.

Komunikasi Sebagai Life Skill

Komunikasi Sebagai Life Skill
Ilustrasi via unsplash.com

Jika disebut kata komunikasi, apa yang langsung terlintas di pikiranmu? Berbicara? Ngobrol? Menjelaskan sesuatu?

Ternyata komunikasi punya makna lebih luas dari itu. Bahkan proses pembentukan konsep diri (gambaran diri kita atau hal-hal yang kita yakini tentang siapa kita) juga terjadi melalui komunikasi. Salah satu pandangan yang menjelaskan ini disebut dengan konsep simbolik interaksionisme. Konsep tersebut mengatakan bahwa kita memaknai siapa diri kita sesuai dengan apa yang dikatakan/dilakukan orang lain terhadap kita.

Contoh sederhananya, seseorang yang dianggap pintar oleh orang lain kemudian sering dipuji, cenderung semakin yakin bahwa ia memang pintar. Begitu juga seseorang yang dinilai nakal oleh orang lain juga akan semakin yakin bahwa ia memang nakal. Di sini orang lain seperti menjadi cermin bagi kita, menunjukkan siapa kita, lalu kita meyakini kebenarannya. Jangan lupa, kita juga menjadi cermin bagi orang lain. Apa yang kita katakan atau lakukan kepada mereka sangat mungkin mempengaruhi persepsi mereka tentang siapa dirinya.

Maka dari konsep simbolik interaksionisme kita belajar bahwa komunikasi sebagai proses pembentukan makna, selalu terjadi di mana saja, kapan saja bahkan terkadang kita tidak menyadarinya.

Kita kembali pada bahasan tentang konsep diri. Kalian yang sudah pernah melamar pekerjaan pasti pernah kan, mendapatkan pertanyaan apa saja kelebihan dan kekuranganmu?

Ya, di situlah perusahaan berusaha mengenali lebih dekat siapa dirimu dan apa yang kamu yakini tentang dirimu. Pertanyaan itu sebenarnya juga kesempatan besar untuk menjual diri. Meyakinkan orang lain bahwa kamulah orang yang mereka cari.

Coba sebutkan satu nama air minum dalam kemasan! Coba sebutkan satu nama sabun cuci piring! Coba sebutkan smartphone yang paling kamu inginkan! Ya, saya yakin kamu dengan cepat akan bisa menjawabnya. Pertanyaannya, mengapa kamu menyebut merek yang itu kenapa tidak yang lain?

Kenapa otak kita bisa sedemikian otomatis terhubung dan memilih mereka bukan yang lain?

Itulah pentingnya branding. Maka sebenarnya bukan cuma benda-benda yang memerlukannya. Jika ingin dipercaya sebagai profesional muda dan dipilih diantara lautan manusia, kita juga perlu melakukan personal branding.

Personal branding adalah serangkaian proses dan usaha yang kita lakukan diawali dengan menemukan potensi, membangun kemampuan serta keunikan/keunggulan diri, kemudian secara konsisten mengomunikasikannnya kepada dunia (orang lain). Personal branding juga bisa diartikan sebagai upaya-upaya yang dilakukan untuk membangun reputasi.

Setelah menemukan keunggulan dirimu, Kamu bisa menunjukkannnya dengan karya, mempublikasikannya di sosial media kemudian menampilkannya secara meyakinkan di CV. Jangan lupa, Kamu juga perlu menjalin relasi yang baik, menunjukkan kinerja terbaik di mana pun kamu berada karena rekam jejakmu adalah bagian tak terpisahkan dari personal brand-mu.

Terlihat sederhana? Mungkin iya mungkin juga tidak. Sekali lagi kita berhadapan dengan realita. Jangankan mengomunikasikan diri kepada dunia, masih banyak diantara kita yang belum bisa berkomunikasi dengan baik ke dalam dirinya. Banyak orang belum bisa “ngobrol” sama diri sendiri dan mengenali siapa sih ‘aku’, apa mauku, apa bedanya diriku dengan orang lain dst.

Dalam kehidupan sehari-hari komunikasi punya peran sangat penting untuk melancarkan interaksi dengan orang lain. Membangun hubungan sosial dengan teman atau tetangga juga diawali dengan komunikasi yang baik, misalnya menyapa saat berjumpa. Begitu pula jika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Lagi-lagi keterampilan komunikasi jadi tumpuan.

Selain untuk membuka sumbatan kesalahpahaman, komunikasi juga punya peran penting supaya kita mampu berdamai dengan keadaan dan bertahan dalam tekanan. Bukankah jika kita perlu pertolongan kita harus menyampaikan apa yang kita butuhkan? Atau bahkan sekadar untuk melegakan perasaan, bukankah kita juga perlu menceritakan keresahan?

Jangan lupa, semua itu juga berlaku sebaliknya. Jika kita ingin membantu orang lain atau menjadi mitra/partner yang baik bagi orang lain, kemampuan komunikasi yang tinggi akan meningkatkan nilai/kualitas kita di hadapan mereka.

Maka komunikasi menjadi keterampilan kunci dalam hidup ini, karena kita tidak pernah bisa hidup seorang diri.

Keterampilan Dasar yang Perlu Dikuasai dalam Komunikasi

Keterampilan Dasar yang Perlu Dikuasai dalam Komunikasi
Ilustrasi via pixabay.com

Keterampilan komunikasi bukan sesuatu yang tunggal. Di dalamnya ada kemampuan-kemampuan yang saling berkaitan satu sama lain. Berikut adalah beberapa keterampilan dasar yang perlu kita pelajari.

1. Komunikasi Intrapersonal

Ini adalah keterampilan untuk menangkap dan mengelola informasi. Komunikasi intrapersonal adalah bagaimana kita menangkap stimulus dari lingkungan, mempersepsi kemudian memaknainya di dalam kepala kita.

Dalam kaitannya dengan kemampuan seseorang untuk bekerja, komunikasi intrapersonal sangat kita perlukan agar mampu memahami berbagai informasi, memahami apa yang diinstruksikan oleh atasan, memahami penjelasan teman kerja, memaknai informasi tertulis maupun beraneka macam data atau fakta yang tersedia.

Komunikasi intrapersonal juga mencakup bagaimana kita mendengarkan apa yang dikatakan oleh pikiran kita. Dengan kata lain komunikasi intrapersonal adalah pabrik pemahaman dan kemampuan menghasilkan gagasan. Di dalamnya juga tercakup bagaimana kita mampu menalar sesuatu serta berpikir reflektif untuk menilai diri sendiri.

Jika ingin menilai apakah kemampuan ini memang nyata adanya, coba diamlah selama satu menit. Jangan lakukan apa pun. Jangan dengarkan musik, jangan nonton You Tube atau TV. Diam dan hanya diam. Perhatikan, bukankah kamu mendengar pikiranmu sendiri yang mulai bertanya-tanya? Setidaknya kamu akan mendengar ia berkata, “Kamu ngapain sih? Nggak jelas deh!”.

Lalu jika kamu merasa tergerak untuk mengevaluasi sejauh mana kemampuan komunikasi intrapersonal ini sudah dimiliki, coba tanyakan pada dirimu sendiri pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  • Seberapa sering kamu salah memahami informasi?
  • Seberapa sering kamu salah memahami maksud orang lain?
  • Seberapa sering kamu salah memahami perintah/instruksi?
  • Seberapa sering kamu mengingkari suara kebenaran dalam dirimu demi menuruti nafsumu sendiri dan orang lain?
  • Seberapa sering kamu terpancing emosi?
  • Seberapa sering kamu bertindak gegabah merespon situasi?
  • Seberapa sering kamu salah mengambil keputusan dalam kehidupan?

Semakin kamu sering melakukan hal-hal di atas, artinya kamu perlu belajar lagi bagaimana meningkatkan kemampuan komunikasi intrapersonal.

2. Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal adalah bagaimana kita mampu menyampaikan ide-ide/gagasan/pemikiran kepada orang lain baik secara lisan maupun melalui tulisan supaya mereka yang mendengarkan atau membacanya, bisa memahami pesan dengan tepat seperti yang kita maksudkan.

Komunikasi interpersonal mencakup kemampuan berbicara baik dalam seting dialog/pembicaraan dua orang, diskusi (pertukaran pikiran oleh sekelompok orang), presentasi, komunikasi masa (menyampaikan pemikiran ke masyarakat melalui pemberitaan, tulisan, poster, video) dsb.

Kemampuan interpersonal yang tinggi bisa kita rasakan lewat seberapa besar pengaruh ucapan, karya atau tindakan seseorang terhadap diri kita. Sebagai contoh saat sedang pergi ke mall, seorang SPG menawarkan produknya kepada kita. Jika kita menjadi tertarik membeli produknya padahal dari awal tak punya rencana untuk memiliki produk itu, artinya si SPG mungkin punya kemampuan interpersonal yang memadai sehingga kita tertarik membeli.

Dalam kaitannya dengan dunia kerja, komunikasi intrapersonal menjadi salah satu komponen penentu. Ingin karir yang bagus? Tentu kita perlu menyampaikan ide-ide dan gagasan secara meyakinkan. Ingin jadi pimpinan? Tentu kita harus terlebih dahulu menguasai bagaimana memberi pengaruh dan menggerakkan orang lain agar mau bekerja keras mencapai tujuan.

3. Keterampilan Membaca

Membaca adalah proses menyerap informasi yang bisa melatih kemampuan berpikir logis dan kritis. Coba amati di sekitarmu. Apakah kamu punya teman yang sangat banyak bicara, namun setiap bicara dia tidak pernah dianggap ada? Itulah akibat dari tong kosong nyaring bunyinya.

Membahas soal komunikasi bukan hanya tentang bagaimana kita mengemas dan menampilkan apa yang kita pikirkan tetapi juga apa yang kita masukkan ke dalam pikiran. Oleh karena itu,  membaca menjadi salah satu keterampilan dasar yang penting dipelajari.

Membaca yang dimaksud di sini luas maknanya. Membaca buku, membaca koran, membaca persoalan hingga membaca situasi sehingga kamu paham bagaimana harus menempatkan diri.

Membaca di sini juga bukan berarti menerima mentah-mentah segala informasi, tetapi menganalisis setiap informasi/situasi secara mendalam bahkan melakukan pengecekan apakah yang disampaikan adalah sesuatu yang memang bisa dipertanggungjawabkan. Membaca artinya aktif memikirkan, bukan hanya pasif menerima apa saja.

Jadi bagaimana, sudah membaca apa hari ini?

4. Active Listening

Ada perbedaan besar antara mendengar dan mendengarkan. Ada perbedaan besar antara hear dan listen. Mendengar berarti kita menangkap suara. Sedangkan mendengarkan artinya menangkap makna atau memahami pesan di balik suara.

Mana yang lebih Kamu inginkan? Sekadar didengar atau didengarkan? Mana yang lebih sering Kamu lakukan? Mendengar atau mendengarkan?

Active listening adalah upaya mendengarkan orang lain dengan penuh konsentrasi dan kesungguhan. Kita mengerahkan seluruh perhatian kita kepadanya supaya sepenuhnya bisa memahami maksudnya.

Dalam active listening kita betul-betul fokus untuk menangkap informasi dari orang lain bukan malah sibuk memikirkan akan merespon apa setelah ia berhenti bicara. Dalam active listening, kita sejenak berusaha menekan ego kita sendiri dan menerima orang lain tanpa syarat apa-apa, tanpa meragukan atau menyalahkan, demi mendapatkan pemahaman yang utuh terhadap apa yang sebenarnya ia pikirkan.

5. Verbal Communication

Komunikasi verbal adalah kemampuan menyerap dan menyampaikan pesan dalam kata-kata baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Dalam seting kerja, kemampuan verbal yang baik sangat diperlukan supaya kita bisa memahami aturan tertulis, arahan dari atasan kemudian melaksanakan tugas dengan tepat, menunjukkan sikap profesional, menunjukkan penghormatan kepada orang lain, melayani pembeli dst.

6. Non Verbal Communication

Komunikasi non verbal mencakup segala ekspresi tubuh seperti mimik wajah dan gestur/gerak anggota badan.  Dalam komunikasi, pesan bukan hanya diekspresikan dengan kata-kata, tetapi juga dengan perubahan perilaku atau gerakan tertentu.

Contohnya, atasanmu tiba-tiba mendatangi meja kerjamu. Ia tidak berkata apa-apa lalu menggebrak meja, mukanya merah, giginya gemeletuk, jari telunjuknya tepat diarahkan ke depan hidungmu sementara tangan kirinya mengepal. Apa yang segera terlintas di pikiranmu saat itu?

Ya, otomatis kita menangkap ada kemarahan di sana.

Begitu pula saat kamu sedang berbicara dengan orang lain. Gerak tanganmu, posisi badanmu, arah mata/pandanganmu ikut menyampaikan pesan bersama ucapan-ucapanmu. Memang, seringkali bahasa non verbal tidak kita sadari. Di sinilah kita perlu lebih berhati-hati. Bisa jadi kita sulit meraih kepercayaan orang lain karena apa yang kita ucapkan tidak sejalan dengan ekspresi yang tampak di badan.

Bagaimana Meningkatkan Keterampilan Komunikasi?

Bagaimana Meningkatkan Keterampilan Komunikasi
Ilustrasi via unsplash.com

Berikut beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi.

1. Refleksi Diri

Bertanyalah pada dirimu kemudian jawablah dengan jujur. Panggil kesadaranmu dan biarkan dia memberikan kritik dan sarannya kepadamu. Sesekali luangkanlah waktu untuk merefleksikan ucapan-ucapanmu juga perilakumu.

  • Sudahkah Kamu peka membaca situasi? Jangan-jangan selama ini kamu terlalu banyak berasumsi dan masih mementingkan keinginanmu sendiri.
  • Sudahkah Kamu hadir secara penuh mendengarkan saat orang lain sedang menjelaskan?
  • Sudahkah kalimat-kalimat yang terucap dari mulutmu tersusun rapi sehingga mudah dipahami?
  • Sudahkah kamu belajar ejaan dan bahasa yang tepat kemudian mematuhi aturan penggunaannya? Ingat, jangan pernah meremehkan hal sekecil apa pun. Biar hanya titik dan koma, ketatnya persaingan dunia kerja bisa membuatmu ditolak karena perusahaan mungkin saja punya banyak pilihan kandidat lain yang bisa bekerja lebih rapi, lebih detail dan lebih teliti.

2. Meminta Feedback dari Orang Lain

Jika Kamu sulit menilai diri sendiri atau justru merasa dirimu sudah sangat baik dalam berkomunikasi, sudah sangat sempurna, mungkin ini saat yang tepat bagimu untuk membuka diri. Berendah hatilah untuk meminta kritik dan saran dari orang-orang terdekatmu, keluargamu, teman kuliahmu, guru/mentormu, juga orang-orang yang pernah bekerja bersamamu.

Dengarkan pendapat mereka tentang caramu berkomunikasi dengan sepenuh hati. Tidak perlu sakit hati jika ternyata ada penilaian buruk yang mereka katakan. Itu justru bahan bakar penting untuk membuat perubahan.

3. Menata Mindset

Kurangnya kemampuan komunikasi pada beberapa orang bukan disebabkan karena secara teknis kemampuan mereka rendah. Ada orang-orang yang sulit berkomunikasi dengan baik akibat pola pikirnya salah. Secara teori mereka tahu apa saja yang baik dan tidak baik dilakukan dalam berkomunikasi, tetapi masih ada hambatan dalam pikiran yang membuat pengetahuan itu sulit diwujudkan dalam perbuatan.

Oleh karena itu jika Kamu termasuk salah satu diantara mereka, mulailah memperbaiki diri dengan menata mindset. Contohnya jika selama ini kamu tidak lancar bicara di depan banyak orang karena takut ditertawakan, takut dianggap konyol dan memalukan, sadarlah pikiranmu itu justru menunjukkan kamu terlalu percaya diri.

Kamu terlalu yakin bahwa semua orang akan memperhatikanmu dan mengamati secara detail penampilanmu dari ujung kepala hingga kaki. Kamu terlalu yakin bahwa semua telinga di ruangan itu akan menyimak seluruh ucapanmu. Padahal kenyataannya tentu saja mereka tidak sepeduli itu terhadapmu.

4. Mencari Situasi yang Mendukung Untuk Melatih Diri

Kesempatan tidak datang dua kali tapi mungkin akan datang berkali-kali jika Kamu mau memaksa diri sendiri. Punya waktu luang dan cukup uang? Ikutlah pelatihan/training yang mengajarkan keterampilan komunikasi!

Malas membaca? Paksa dirimu pergi ke perpustakaan atau toko buku. Paksa dirimu membaca buku!

Merasa tidak pandai berkata-kata? Sekarang pergilah ke dapan kaca! Bicaralah padanya tentang apa saja. Ambilah kertas dan pena kemudian ceritakan pengalaman paling menyenangkan yang tak pernah kamu lupakan! Bukankah sebenarnya kamu bisa? Ingat, ada perbedaan besar antara tidak mampu dan tidak mau.

Sekarang kamu masih kuliah? Daftarkan dirimu mengikuti kegiatan organisasi. Di sana kamu bisa memaksa diri sendiri berlatih komunikasi. Besok ada presentasi? Ajukan dirimu untuk mewakili kelompokmu! Temukan sebanyak mungkin lingkungan atau keadaan yang mendukungmu mencapai kemampuan yang kamu inginkan.

5. Observational Learning

Observational learning atau modelling adalah salah satu metode belajar manusia yang dilakukan dengan cara mengamati objek kemudian meniru persis/sama seperti yang kita saksikan. Ini juga bisa diterapkan guna meningkatkan keterampilan komunikasi.

Carilah role model atau orang yang kamu anggap terampil berkomunikasi lalu amati dengan teliti. Apa yang dia katakan, apa kebiasaan yang dia lakukan, bagaimana gaya bicaranya, nada suaranya, bagaimana gerak tubuhnya kemudian tirulah. Jika kamu kesulitan meniru secara langsung seluruh perilakunya, lakukan secara bertahap.

Merasa tidak mampu melakukannya? Sadarilah bahwa banyak hal yang saat ini sudah ada pada diri kita juga hasil belajar di masa lalu. Sebagiannya adalah hasil meniru. Meniru orangtua kita, meniru orang-orang terdekat kita, juga meniru teman atau guru kita. Semoga, tidak ada lagi alasan tidak bisa. 

6. Praktik Secara Berulang

Jika kamu memang benar-benar ingin terampil berkomunikasi buktikanlah dengan cara disiplin melatih diri. Rajinlah mendengarkan, rajinlah membaca, rajinlah berlatih mengungkapkan pikiran ke dalam tulisan, rajinlah bicara (di depan kaca, di depan orang lain atau kamu bisa merekam dirimu sendiri dengan smartphone).

Ketahuilah bahwa di dalam otak kita ada neuron/saraf yang saling terhubung. Hubungan antar neuron akan semakin kuat hanya jika kita sering mengulanginya. Maka jika kamu ingin kompeten dalam hal apa pun, tidak ada jalan pintas. Berlatihlah agar apa yang kamu ulang-ulang itu benar-benar menjadi bagian dari dirimu.

Bagaimana, sudah siapkah dirimu mempraktikan semua yang Kamu baca?

Selamat mencoba!

Saya adalah blogger dan penulis lulusan S1 Psikologi Universitas Airlangga. Selain menulis saya juga aktif sebagai asisten psikolog di Pusat Layanan Psikologi BE Psychology.