Psikologi Pendidikan Optimalkan Proses Pembelajaran

Psikologi Pendidikan: Optimalkan Proses Pembelajaran

Mendidik makhluk hidup bernama manusia tentu tidak bisa disamakan dengan mendidik bebek yang mudah menurut atau mengekor. Kita perlu memahami konsep dan menguasai beberapa keterampilan agar bisa mengelola pembelajaran dan menghasilkan pengalaman belajar yang berdampak positif bagi perkembangan siswa.

Meluangkan waktu untuk mempelajari psikologi pendidikan adalah salah satu jalannya. 

Yuk, simak informasi berikut ini!

Apa itu Psikologi Pendidikan?

Psikologi pendidikan adalah salah satu bidang kajian dalam Psikologi yang berfokus pada upaya memahami proses pengajaran dan pembelajaran dalam seting pendidikan (Santrock, 2011). 

Psikologi pendidikan berusaha memahami perilaku dan proses mental individu yang berinteraksi dalam proses pembelajaran yaitu guru dan siswa. Psikologi pendidikan mengkaji tentang bagaimana guru memfasilitasi & mengelola proses belajar siswa, serta bagaimana siswa dengan segala karakteristik dirinya mampu menyerap apa yang dipelajari serta menunjukkan adanya perubahan pengetahuan atau keterampilan.

Manfaat Mempelajari Psikologi Pendidikan

Mempelajari psikologi pendidikan memberikan wawasan tentang bagaimana landasan berpikir serta praktik pengajaran dan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan konteksnya. Hal tersebut memudahkan kita menyusun rencana, melaksanakan proses pembelajaran serta mengevaluasi capaian hasil belajar siswa. 

Bagi guru, psikologi pendidikan bisa memberi informasi yang luas tentang bagaimana mengajar dengan efektif. Sedangkan bagi siswa dan orang tua siswa, psikologi pendidikan menyediakan wawasan tentang ragam karakteristik siswa sehingga dapat digunakan untuk mempertimbangkan langkah optimalisasi potensi mereka melalui proses belajar lebih lanjut.

Area Kajian Psikologi Pendidikan

Dalam psikologi pendidikan ada empat area utama yang dikaji yaitu:

  • The learner (pembelajar/siswa)
  • The learning/teaching process (proses pembelajaran)
  • The teacher (pengajar/guru)
  • The assessment of learning (asesmen pembelajaran/pengukuran hasil belajar)

Pendidikan sebagai Sebuah Sistem 

Pendidikan memfasilitasi manusia untuk belajar agar ia menjadi individu yang berwawasan, berkarakter positif dan punya kemampuan menyalurkan potensi diri. Untuk melaksanakan proses pembelajaran perlu disadari bahwa manusia (siswa) dibentuk bukan hanya oleh apa yang diajarkan di dalam kelas (lingkungan pendidikan formal) tetapi juga dipengaruhi oleh lapis-lapis lingkungan di luar dirinya. Selain itu siswa juga secara aktif memberi pengaruh terhadap lingkungannya. 

Itulah maksud pendidikan sebagai sebuah sistem. Ada keterkaitan dan hubungan saling mempengaruhi antara individu-lingkungan. Dengan begitu bisa dikatakan bahwa berhasil atau tidaknya siswa menjalani proses belajar dan mencapai hasil belajar yang diharapkan, perlu dilihat secara utuh dan menyeluruh. 

Contohnya jika kita melihat seorang siswa tidak bisa duduk tenang di kelas, kita tidak bisa serta merta menyalahkannya. Perlu kita sadari di balik perilaku ada banyak kemungkinan yang berpengaruh terhadapnya. Misalnya bisa jadi ia sedang ada masalah keluarga, bisa jadi kursi yang didudukinya memang rusak, bisa jadi ia baru saja bertengkar dengan teman atau mungkin ia sedang sakit atau dia ingin bertanya tetapi tidak berani, dll.

Proses belajar juga perlu diselenggarakan sesuai dengan konteks di mana individu tinggal agar tepat sasaran/sesuai kebutuhan. Harapannya supaya individu pada akhirnya bisa memberi pengaruh yang baik (berkontribusi) ke lingkungan.

Menurut model bioekologis perkembangan manusia (Model PPCT) yang diungkapkan oleh Urie Bronfenbrenner ada empat faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia yaitu:

Process

Artinya perkembangan manusia terjadi melalui proses interaksi timbal balik yang kompleks antara manusia dengan manusia, benda, ataupun simbol yang ada di lingkungan eksternal terdekatnya. Agar efektif interaksi harus terjadi secara teratur dalam periode waktu yang panjang. Bentuk hubungan interaksi dengan lingkungan terdekat itu disebut proximal process.

Person

Artinya perkembangan manusia juga dipengaruhi oleh karakteristik individu yang berbeda-beda. Bronfenbrenner membagi karakteristik ini menjadi 3 yaitu demand characteristic, resources characteristic, dan force characteristic (Tudge dkk, 2009).

  1. Demand characteristic: contohnya usia, jenis kelamin, warna kulit, dan penampilan fisik.
  2. Resources characteristic: berhubungan dengan sumber daya mental dan emosional seperti: pengalaman masa lalu, keterampilan, kecerdasan, dll).
  3. Forced characteristic: adalah karakteristik bagaimana seseorang melakukan sesuatu seperti perbedaan temperamen, motivasi, ketekunan, dan sejenisnya.

Context

Menurut Bronfenbrenner lingkungan atau konteks melibatkan empat sistem yang saling terkait sebagai berikut.

Psikologi Pendidikan: Pendidikan sebagai sebuah sistem

Microsystem

Adalah sebuah pola aktivitas, peran-peran dan hubungan dengan orang lain yang dialami oleh individu di lingkungan terdekat yang berhubungan langsung dengannya seperti keluarga, pengasuh, sekolah dan teman sebaya.

Mesosystem

Adalah hubungan antar sesama mikrosistem. Misalnya hubungan antara pengalaman dalam keluarga dengan pengalaman di sekolah atau hubungan antara keluarga individu tersebut dengan teman-teman sebayanya.

Exosystem

Adalah satu atau lebih seting yang sebenarnya individu itu tidak terlibat secara aktif di sana tetapi ia mungkin juga ikut terkena dampaknya. Contohnya tempat kerja orang tua siswa. Orang tua yang bekerja di tempat yang tingkat tekanan kerjanya tinggi lalu marah-marah saat sampai di rumah karena terlalu lelah, mengakibatkan siswa merasa kurang nyaman belajar di rumah.

Macrosystem

Adalah budaya yang berlaku di mana individu tinggal. Budaya yang dimaksud dalam hal ini juga mencakup etnis dan adat setempat, kondisi sosial-ekonomi hingga nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Chronosystem

Adalah kondisi sosio historis dalam perkembangan siswa. Contohnya kehidupan anak zaman sekarang tentu tidak bisa disamakan dengan kehidupan zaman orang tua atau kakek-neneknya dulu. Saat ini teknologi berkembang pesat dan punya pengaruh terhadap perbedaan cara hidup para siswa. Oleh karena itu menggunakan multimedia dalam proses belajar siswa masa kini bisa membuat mereka lebih tertarik daripada hanya dengan papan tulis dan kapur.

Time

Artinya waktu memegang peran yang penting bagi perkembangan seseorang. Perkembangan individu terjadi seiring dengan konsistensi/stabilitas proses yang ia jalani dari waktu ke waktu selama ia hidup dan sepanjang sejarah perkembangan zaman di mana ia hidup.

Keragaman Siswa dalam Belajar

Keragaman Siswa dalam Belajar

Albert Einstein pernah berkata, “Setiap orang itu jenius. Namun jika kamu menilai seekor ikan dengan melihat kemampuannya untuk memanjat pohon, itu akan membuatnya hidup dengan keyakinan bahwa ia bodoh”.

Terlepas dari pro dan kontra yang menyertai pernyataan tersebut, setidaknya kita bisa mengambil pelajaran tentang adanya keragaman potensi individu yang perlu kita hargai dan akomodasi dalam proses belajar. Keragaman tersebut bisa dilihat dari kemampuan berpikir, gaya belajar, temperamen dan kepribadian para siswa.

Kecerdasan

Kecerdasan secara umum dimaknai sebagai kemampuan memecahkan masalah, kemampuan beradaptasi/menyesuaikan diri serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman (Santrock, 2011). Ada sejumlah tokoh yang mengkaji tentang kecerdasan manusia. Berikut beberapa diantaranya.

Spearman’s Two Factor Theory 

Spearman menggunakan pendekatan matematis (analisis faktor) untuk mengukur kecerdasan manusia. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa kecerdasan manusia bisa dijelaskan dengan dua variabel yaitu: general ability (g) dan sejumlah specific abilities (s).

Kecerdasan umum (faktor g) mencakup berbagai kapasitas mental yang mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Menurut Spearman faktor g inilah yang menentukan keseluruhan performa dalam tes kemampuan mental (Tes IQ). Sebagai contoh, seseorang yang bisa mengerjakan tes verbal dengan baik mungkin juga akan mampu mengerjakan subtes lain dengan baik.

Kecerdasan diyakini bisa diukur dan ditunjukkan dengan angka tunggal misalnya seperti hasil skor Tes IQ. Itu disebabkan karena faktor g mempengaruhi performa seseorang di semua aspek kognitif

Sternberg’s Triarchic Theory

Sternberg dalam (Santrock, 2011) menjelaskan bahwa kecerdasan bisa dibagi menjadi tiga yaitu: 

  • Analytical intelligence: mencakup kemampuan untuk menganalisis, menilai, mengevaluasi, membedakan dan membandingkan (kemampuan menilai dan menalar informasi hingga mencapai kesimpulan dan solusi yang masuk akal).
  • Creative intelligence: mencakup kemampuan untuk menciptakan, mendesain, menemukan, mengatur dan membayangkan/mengimajinasikan (kemampuan menciptakan sesuatu yang baru atau melakukan sesuatu dengan cara yang unik dan berbeda).
  • Practical intelligence: mencakup kemampuan untuk menggunakan, menerapkan dan mempraktikkan (kemampuan menggunakan keterampilan agar sesuai dengan kebutuhan di lingkungan/kemampuan beradaptasi).

Sternberg mengatakan bahwa siswa memiliki pola yang berbeda-beda pada tiga aspek di atas. Siswa yang tinggi kecerdasan analisisnya cenderung disukai di sekolah. Mereka mengikuti pelajaran dengan baik, mendapat nilai yang bagus dan menunjukkan skor IQ yang tinggi. 

Siswa yang tinggi kecerdasan kreatifnya umumnya tidak terlihat menonjol di kelas. Mereka sering tidak mengikuti arahan guru tentang bagaimana seharusnya mengerjakan tugas, bahkan memberi jawaban yang unik sehingga mereka diberi nilai yang jelek. 

Siswa yang punya kecerdasan praktis tinggi juga demikian. Mereka tidak menunjukkan nilai yang tinggi di sekolah tetapi mampu berkarya dengan baik di luar sekolah. Kemampuan sosial dan kecerdikan akalnya bisa membuat mereka jadi manajer dan pengusaha sukses di masa depan, meski saat bersekolah kelihatan biasa saja.

Terkait dengan teori kecerdasan yang diungkapkannya, Sternberg menyarankan agar pembelajaran di sekolah berusaha melatih siswa menggunakan ketiga tipe kemampuan berpikir di atas, bukan hanya menitikberatkan salah satu saja. 

Itu disebabkan karena berbagai tugas/aktivitas yang kita jalani butuh kombinasi ketiga tipe kemampuan itu. Tidak ada satu aktivitas/tugas yang cukup diselesaikan dengan mengandalkan satu tipe kemampuan saja.

Gardner’s Theory of Multiple Intelligence

Howard Gardner menjelaskan bahwa kecerdasan mencakup sembilan area berikut:

  • Kecerdasan verbal: orang yang memiliki kecerdasan verbal mudah mengungkapkan pikiran dalam kata dan menggunakan bahasa untuk menyampaikan makna. Ia bisa menyampaikan perasaan, gagasan atau menjelaskan konsep dengan mudah. Kemampuan tersebut biasanya dimiliki oleh penulis, jurnalis, pembicara dll. 
  • Kecerdasan matematis: orang yang memiliki kecerdasan matematis mudah memecahkan perhitungan matematis dan berpikir logis. Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh ilmuwan, teknisi, akuntan, dll.
  • Kecerdasan visual-spasial: orang dengan kecerdasan visual-spasial memiliki ketajaman penglihatan, mudah memahami, membayangkan dan mengilustrasikan objek. Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh seniman, arsitek, pelaut, dll.
  • Kecerdasan bodily kinesthetic: orang yang memiliki kecerdasan ini mudah mengendalikan/mengkoordinasikan gerak anggota tubuh mereka. Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh atlet, penari, dokter bedah, pembuat kerajinan tangan, dll.
  • Kecerdasan musikal: orang yang memiliki kecerdasan ini punya kepekaan tinggi terhadap suara, warna suara, nada dan irama. Biasanya kemampuan ini dimiliki oleh komposer, pemain musik, penyanyi, dll.
  • Kecerdasan intrapersonal: orang yang memiliki kecerdasan intrapersonal mudah memahami ke dalam diri, mudah berpikir reflektif dan introspektif sehingga bisa mengarahkan kehidupan seseorang secara efektif. Biasanya kemampuan ini dimiliki oleh teolog, psikolog, dll.
  • Kecerdasan interpersonal: orang yang memiliki kecerdasan ini mudah memahami perasaan, pikiran, tindakan dan motif orang lain. Mudah baginya menjalin interaksi yang baik dengan orang lain. Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh guru, dosen, konselor, tenaga kesehatan mental, dll.
  • Kecerdasan naturalistik: orang yang memiliki kecerdasan ini mudah memahami pola-pola kejadian alam (punya kepekaan terhadap kejadian/perubahan alam), memahami sistem buatan manusia di alam serta mudah melakukan eksplorasi. Biasanya kemampuan ini dimiliki oleh ahli botani, petani, ahli lingkungan, ahli pertamanan, dll.
  • Kecerdasan eksistensial: orang yang memiliki kecerdasan ini mampu mencari dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar dalam kehidupan. Ia berpikir secara filosofis dan mudah berpikir dengan teori yang abstrak. Biasanya kemampuan ini dimiliki oleh filsuf, pemuka agama, dll.

Pemahaman atas adanya keragaman jenis kecerdasan pada siswa bisa digunakan untuk mendukung proses belajar mereka misalnya, dalam belajar berhitung siswa yang cerdas kinestetis diminta untuk memantulkan bola dan menghitungnya. Di sini terjadi proses belajar matematika dengan cara yang cocok bagi si cerdas kinestetis. 

Contoh lain, guru bisa menyediakan pilihan kepada siswa saat ujian akhir sesuai dengan kemampuan mereka. Siswa yang cerdas verbal bisa melakukan ujian akhir dalam bentuk esai atau presentasi lisan, siswa yang cerdas visual bisa memilih menggunakan poster/tampilan grafis/power point

Guru juga bisa memberi siswa penugasan kelompok yang memerlukan perpaduan berbagai kecerdasan di atas sehingga siswa bisa bekerjasama mengerahkan masing-masing keunikan kemampuannya.

Gaya Belajar dan Berpikir

Siswa punya cara menyerap, mengatur dan mengolah informasi yang berbeda-beda. Berikut adalah beberapa jenisnya.

Reflective vs. Impulsive Student

Reflective StudentImpulsive Student
Saat diminta memecahkan masalah ia akan meluangkan banyak waktu untuk mengumpulkan dulu berbagai informasi lalu menganalisis kesesuaiannya dengan solusi sebelum merespon. Mereka unggul dalam memahami bacaan, mengingat dengan terstruktur, punya standar kerja yang tinggi.Saat diminta memecahkan masalah ia akan merespon dengan cepat/segera, meski baru punya sedikit informasi dan belum banyak menganalisis. Contoh strategi menghadapi mereka: (1) Hindari memberi penugasan yang bisa memperparah impulsivitasnya misalnya menyelesaikan 30 soal dalam 1 menit; (2) Ajak bicara (sarankan) kepada mereka untuk meluangkan waktu berpikir sebelum merespon.

Deep vs. Surface Learner

Deep LearnerSurface Learner
Aktif memahami informasi, berusaha memaknai apa yang dipelajari, punya motivasi internal, fokus mencapai kepuasan pribadi saat ia bisa memahami.Cenderung pasif, biasanya sekadar mengandalkan hafalan, motivasinya eksternal: ingin nilai bagus, ingin dipuji guru. Contoh strategi menghadapinya: diskusikan bersama mereka pentingnya memahami bukan menghafalkan, saat mengajar guru perlu mencontohkan bagaimana berpikir secara mendalam terhadap suatu materi.

Gaya Belajar Auditory, Visual dan Kinestetik

AuditoryVisualKinestetik
Lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan mengandalkan penglihatan.Lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan mengandalkan pendengaran.Lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan mengandalkan gerak tubuh dan sentuhan.
Beberapa cirinya: Teliti dan detail. Mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar. Mengingat dengan membayangkan gambar. Lebih suka membaca daripada dibacakan.Beberapa cirinya: Suka bicara kepada diri sendiri saat bekerja. Mudah terganggu keributan (suara berisik). Senang membaca dengan dibunyikan keras atau mendengarkan penjelasan orang lain.Beberapa cirinya: Lebih mudah belajar dengan praktik langsung. Belajar sambil menggerakkan anggota badan (mengekspresikan dengan tangan, menjentikan jari, mengetukkan pulpen ke meja, menggerakkan kaki dll. Banyak bergerak contohnya menghafal sambil berjalan.
Strategi mengoptimalkan potensi belajar: gunakan multi-media (komputer-video), sediakan materi dengan ilustrasi gambar.Strategi mengoptimalkan potensi belajar: libatkan siswa dalam diskusi, izinkan ia melafalkan apa yang dibaca.Strategi mengoptimalkan potensi belajar: beri kesempatan untuknya mencoba, memperagakan, praktik, berikan kesempatan sesekali jika ia ingin pindah tempat/posisi atau berjalan sejenak.

Motivasi Belajar

Psikologi Pendidikan: Motivasi Belajar

Motivasi adalah proses-proses yang memberi daya dorong, mengarahkan dan mempertahankan perilaku. Motivasi yang secara sederhana bisa kita sebut sebagai semangat atau kemauan juga penting dimiliki oleh siswa.

Jika siswa tak punya motivasi belajar kondisi yang mungkin terjadi antara lain: malas belajar, pasif/enggan terlibat dalam proses belajar, menunda-nunda, mengerjakan tugas sekenanya/asal jadi. 

Ada sejumlah konsep motivasi yang berkembang hingga saat ini salah satunya dari sudut pandang behavioristik. Menurut pandangan tersebut motivasi dibagi menjadi dua sebagai berikut.

Motivasi Internal

Adalah dorongan yang datangnya dari dalam dirinya sendiri. Siswa yang punya motivasi internal dalam belajar akan semangat belajar karena ia menikmati proses belajarnya/mendapat kepuasan dengan belajar. Mereka akan semakin bersemangat jika diberi kebebasan menentukan sendiri apa yang mau dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya.

Motivasi Eksternal

Adalah dorongan yang datangnya dari luar diri. Siswa yang motivasi belajarnya eksternal mau belajar karena ada tujuan lain di luar proses belajar yang ingin diraih, misalnya mendapat pujian atau mengejar nilai. 

Motivasi eksternal bisa dipengaruhi dengan adanya reward and punishment. Contohnya siswa dengan motivasi eksternal akan makin semangat mengerjakan tugas jika mereka dijanjikan hadiah.

Pada dasarnya kedua jenis motivasi di atas tetap bisa dimanfaatkan untuk mendorong siswa belajar lebih giat. Akan tetapi motivasi internal lebih utama untuk dibentuk pada siswa karena sifatnya lebih tahan lama dan tidak tergantung pada hal lain di luar diri mereka. Selain itu motivasi internal juga memampukan siswa menikmati proses bukan hanya berorientasi hasil.

Desain dan Strategi Pembelajaran

Agar proses pembelajaran bisa berhasil, diperlukan adanya perencanaan atau desain yang dibuat oleh guru. Santrock (2011) menjelaskan bahwa desain pembelajaran terbagi menjadi dua yaitu student centered learning dan teacher centered learning

Teacher Centered Learning

Dalam desain teacher centered learning, guru menjadi poros utama pembelajaran. Perencanaan dan instruksi dalam pembelajaran dibuat secara terstruktur oleh guru dan guru berperan mengarahkan proses belajar siswa. 

Beberapa strategi yang bisa digunakan untuk menerapkan teacher centered learning adalah: 

  1. Guru memberikan arahan secara langsung tentang apa yang harus dilakukan dan target belajar yang harus dicapai oleh siswa (direct instruction).
  2. Guru menyampaikan kerangka materi, menjelaskan dan mendemonstrasikan materi pelajaran (orienting/lecturing).
  3. Guru memberikan pertanyaan kepada siswa dan mendorong siswa terlibat dalam diskusi (question and discussion).
  4. Fokus untuk menguasai dulu suatu materi sebelum belajar topik lainnya (mastery learning). Mastery learning dilakukan dengan cara memberikan tugas yang spesifik serta memberikan feedback atas apa yang sudah dikerjakan oleh siswa.

Student Centered Learning

Student centered learning adalah desain pembelajaran dengan prinsip memfokuskan pembelajaran pada siswa. Siswa dituntut aktif sebagai poros pembelajaran dengan guru sebagai fasilitator.

Beberapa strategi yang dapat digunakan oleh guru untuk menerapkan student centered learning diantaranya: 

  1. Melibatkan siswa untuk mencari solusi atas masalah yang terjadi di sekitar mereka (problem based learning).
  2. Menggunakan pertanyaan esensial yaitu tentang hal utama yang ingin dipelajari (essential question).
  3. Mendorong siswa untuk membangun pemahamannya sendiri (discovery learning) sehingga siswa memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning) dan akhirnya mampu meningkatkan kualitas siswa.

Model Proses Belajar Mengajar (QAIT Model of School Learning)

Model proses belajar mengajar perlu dipahami untuk menjelaskan kompleksitas atas apa yang terjadi di dalam kelas. Model ini menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran dan dapat menjadi perhatian guru agar mampu mengajar dengan efektif.

Ada banyak konsep tentang model proses belajar mengajar. Salah satunya adalah QAIT Model of School Learning.

Slavin (1995) menjelaskan hubungan antara pengajaran dan pembelajaran dengan QAIT model of effective instruction. Model ini berupaya mengidentifikasi elemen-elemen penting dari sekolah dan pengorganisasian kelas dan hubungan di antara keduanya. Terdapat empat komponen dalam model ini.

Quality of Instruction

Kualitas instruksi mencakup seluruh aktivitas yang disebut dengan pengajaran (teaching) antara lain: ceramah, memberi petunjuk pada siswa, diskusi, memberi penugasan dan lain sebagainya. Istilah instruksi juga mewakili komponen-komponen seperti materi, buku, software, dan kurikulum.

Menurut Slavin (1995) guru, sebagai pelaksana tugas pengajaran bertanggung jawab menentukan metode yang sesuai agar siswa mudah mencerna dan mengingat informasi yang disampaikan. Guru harus menyampaikan informasi dengan terstruktur, jelas dan dengan bahasa yang mudah dipahami. Kejelasan penyampaian materi juga dapat dicapai misalnya dengan memaparkan gambaran nyata atau contoh-contoh kepada siswa.

Appropriate Levels of Instruction

Instruksi yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa adalah hal lain yang harus diupayakan oleh guru dalam pembelajaran. Dalam hal ini guru dituntut mampu mengidentifikasi sejauh mana kemampuan yang telah dimiliki siswa. 

Dalam praktiknya tingkat kemampuan siswa yang beragam dapat menimbulkan permasalahan apabila tidak disikapi secara tepat oleh guru. Untuk menghadapinya guru bisa membuat program pendidikan khusus, pembentukan kelompok, serta program remedial. 

Incentive

Guru harus memastikan siswanya termotivasi mengikuti pembelajaran. Slavin (1995) menjelaskan bahwa upaya itu dapat dilakukan dengan menyediakan reward eksternal maupun internal. Contoh upaya yang bisa dilakukan untuk mendorong motivasi eksternal siswa dalam belajar adalah pemberian poin, nilai atau apresiasi dengan cara tertentu. 

Sedangkan motivasi internal pada siswa, dapat diupayakan oleh guru dengan cara memberi feedback yang segera ketika siswa menyelesaikan suatu tugas. Cara lainnya adalah dengan menerapkan model cooperative learning agar siswa dapat saling membantu satu dengan lainnya dalam belajar. 

Time

Komponen time dalam model ini dapat disimpulkan sebagai kondisi yang mana dalam pembelajaran siswa perlu diberi waktu yang cukup untuk mempelajari materi yang diajarkan.

Slavin (1995) menyebut ada dua macam waktu yaitu allocated time dan engaged time. Allocated time adalah waktu yang disediakan atau dijadwalkan oleh sekolah untuk mempelajari mata pelajaran, sedangkan engaged time adalah waktu ketika siswa benar-benar terlibat dalam pembelajaran. 

Allocated time berjalan sesuai dengan pengaturan sekolah dan guru, sehingga guru bisa mengendalikan ini, sedangkan engaged time dikontrol oleh masing-masing siswa. 

Manajemen Kelas

Psikologi Pendidikan: Manajemen Kelas

Kelas yang berisi sekumpulan orang perlu dikelola dengan baik supaya proses belajar lebih optimal. Manajemen kelas diartikan sebagai upaya merancang lingkungan fisik kelas, menciptakan lingkungan yang positif bagi pembelajaran, membangun & menegakkan aturan, mengajak murid bekerjasama serta menggunakan strategi komunikasi yang baik.

Menata Lingkungan Fisik Kelas

Menata lingkungan fisik kelas bisa dilakukan dengan prinsip:

  1. Kurangi kepadatan di tempat siswa lalu-lalang (Contoh: posisikan rak buku secara terpisah/agak jauh dari benda lain).
  2. Pastikan posisi guru mudah melihat/memantau siswa secara keseluruhan.
  3. Materi pengajaran dan perlengkapan siswa harus mudah diakses.
  4. Saat presentasi dilakukan di kelas, pastikan bahwa posisi semua siswa bisa melihat dengan baik. Upayakan penataan tempat duduk yang sesuai agar tiap siswa tak perlu menggeser kursi saat ingin menyaksikan apa yang disajikan di kelas.

Pengaturan posisi tempat duduk di kelas juga penting untuk disesuaikan dengan kebutuhan. Berikut adalah beberapa gaya penataan kelas yang bisa dipilih.

Psikologi pendidikan pengaturan tempat duduk di kelas
  1. Auditorium style: semua siswa menghadap ke arah guru. Ini cocok digunakan saat guru sedang menjelaskan di depan atau seseorang sedang melakukan presentasi di depan.
  2. Face to face style: perlu diperhatikan bahwa penggunaan gaya ini meningkatkan distraksi dari siswa lain jika dibandingkan dengan auditorium style.
  3. Offset style: gaya ini lebih minim distraksi jika dibandingkan dengan face to face style dan akan efektif untuk memfasilitasi kegiatan belajar yang perlu kerjasama siswa.
  4. Seminar style: gaya ini efektif jika guru ingin siswa bisa saling bicara satu sama lain serta berbicara secara langsung dengan guru.
  5. Cluster style: gaya ini sesuai diterapkan jika guru sedang ingin mengadakan kegiatan belajar yang memerlukan kolaborasi antar siswa.

Membuat Aturan di Kelas

Beberapa prinsip dalam membuat aturan di kelas antara lain adalah: masuk akal dan sesuai kebutuhan, jelas dan mudah dipahami, konsisten dengan tujuan belajar-mengajar serta konsisten dengan aturan sekolah.

Membangun Kerjasama dan Komunikasi

Mengajak siswa bekerjasama dalam pembelajaran dapat dilakukan oleh guru dengan cara:

  • Mengembangkan hubungan yang positif dengan siswa (Contohnya guru menunjukkan perhatian kepada siswa agar mereka merasa gurunya mau memahami dirinya).
  • Berbagi tanggung jawab di kelas dengan siswa. Dalam hal ini guru mendorong siswa untuk mengambil peran aktif misalnya dengan memberi mereka tanggung jawab saling mengawasi pelaksanaan aturan di kelas, menjaga kebersihan, mendorong mereka memulai diskusi atau presentasi, dsb.
  • Berikan imbalan yang sesuai. Jika siswa menunjukkan perilaku sesuai dengan harapan tidak ada salahnya jika mereka diberi hadiah atau penghargaan misalnya siswa yang aktif dalam pembelajaran diberi penghargaan siswa teladan.

Selain perlu membangun kerjasama dengan siswa, guru juga perlu menjadi komunikator yang baik agar mudah diterima oleh siswa. Beberapa strategi menjadi komunikator yang baik adalah:

  1. Berbicara dengan pilihan kata yang mudah dipahami dengan suara dan intonasi yang jelas dan tepat.
  2. Menjadi pendengar yang aktif bagi siswa (mau memperhatikan dengan seksama, mau memastikan kembali apakah yang guru tangkap/pahami sudah benar sesuai dengan yang dimaksudkan siswa, serta memberi umpan balik yang sesuai.
  3. Menggunakan bahasa tubuh dan ekspresi wajah yang bersahabat.

Menghadapi Perilaku Bermasalah

Dalam proses pembelajaran di kelas kadang-kadang siswa menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan harapan bahkan mengganggu kegiatan. Menyikapi hal itu guru bisa mengambil tindakan sebagai berikut.

Intervensi Minor

  1. Menggunakan isyarat non verbal (contohnya dengan melakukan kontak mata dengan siswa, menggelengkan kepala atau meletakkan jari telunjuk di depan mulut agar siswa yang gaduh bisa diam).
  2. Lanjutkan kegiatan (kadang kelas menjadi tidak kondusif karena ada jeda terlalu lama antara satu kegiatan dengan lainnya maka di sini melanjutkan kegiatan perlu dilakukan agar situasi menjadi terkendali).
  3. Dekati siswa yang memperlihatkan perilaku bermasalah. Meski terlihat sederhana, perpindahan posisi guru mendekat ke siswa bisa jadi isyarat baginya.
  4. Arahkan kembali perilakunya (Contoh: “Ingat ya, semuanya diminta mengerjakan soal”).
  5. Berikan instruksi yang mereka butuhkan. Kadang siswa menunjukkan perilaku yang tidak sesuai karena ia bingung atau belum paham apa yang harus dikerjakan.
  6. Secara jelas dan tegas menyuruh siswa berhenti melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
  7. Beri siswa pilihan. Letakkan tanggung jawab pada siswa untuk memilih dan buat mereka paham adanya konsekuensi dari perilaku yang mereka pilih.

Intervensi Moderat

  1. Mencabut privilege/tidak memberikan aktivitas yang siswa dengan perilaku bermasalah itu inginkan. Misalnya saat itu sebenarnya boleh berpindah tempat di kelas atau mengerjakan tugas bersama teman, tetapi karena ia justru menyalahgunakan kebebasan, saat itu dia dilarang melakukan apa yang sebelumnya boleh dilakukan.
  2. Membuat perjanjian perilaku/kesepakatan dengan siswa.
  3. Mengeluarkannya dari kelas atau membuatnya masih berada di dalam kelas namun memisahkannya dari yang lain (menerapkan time out) dengan memberikan alasan yang jelas dan batas waktu yang jelas (Contoh: “Karena Kamu memukul Budi, maka kamu harus diam di sini selama 30 menit!”).
  4. Memberikan sanksi. Berikan sanksi yang sesuai dengan konteks saat muncul perilaku bermasalah atau sesuai dengan apa yang ia langgar (Contoh: Saat mengganggu teman di pelajaran matematika padahal semua siswa seharusnya mengerjakan soal matematika, maka ia diberi sanksi mengerjakan soal lebih banyak). 

Model Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

ABK memiliki karakteristik dan kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk memenuhi hak mereka mendapatkan pendidikan sebagaimana anak lainnya dengan menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan belajarnya, bukan memaksa mereka menjadi sama dengan anak lainnya.

Berikut adalah beberapa model yang dapat diterapkan untuk memfasilitasi pendidikan bagi ABK.

Segregasi

Adalah sistem pendidikan dimana anak berkebutuhan khusus terpisah dari sistem pendidikan anak non berkebutuhan khusus. Contoh: Sekolah Luar Biasa.

Integrasi

Sistem pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus yang bertujuan memberikan pendidikan yang memungkinkan ABK memperoleh kesempatan mengikuti proses pendidikan bersama dengan siswa non berkebutuhan khusus agar dapat mengembangkan diri secara optimal.

Dalam sistem ini anak ABK diharuskan mengikuti serangkaian prosedur (misalnya terapi) terlebih dahulu agar ia bisa menyesuaikan diri di sekolah umum.

Inklusif

Pendidikan inklusi adalah sistem layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar ABK dilayani di sekolah terdekat, di kelas reguler bersama teman seusianya. Sekolah terlebih dahulu direstrukturisasi supaya bisa mengakomodasi kebutuhan ABK, bukan ABK yang “dipaksa” menyesuaikan diri dengan tuntutan sekolah pada umumnya. Sehingga kebutuhan ABK bisa terpenuhi.

Itulah beberapa pokok bahasan materi yang ada dalam kajian psikologi pendidikan yang patut kita cermati agar bisa mengoptimalkan pembelajaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *