Psikologi Warna Menangkap Kesan tentang Dunia

Psikologi Warna: Menangkap Kesan tentang Dunia

Warna menjadi salah satu pengalaman yang paling jelas ditangkap oleh mata. Warna menghasilkan kesan yang berbeda-beda atas dunia. Tak hanya berhenti di ranah persepsi, warna diduga punya pengaruh terhadap perilaku manusia. 

Hal tersebut mendorong sejumlah ilmuwan melakukan penelitian tentang psikologi warna. Ingin tahu lebih lanjut tentangnya? Simak uraian di bawah ini, ya!

Apa itu Psikologi Warna?

Psikologi warna adalah salah satu bidang kajian dalam Psikologi yang berusaha menjelaskan pengaruh warna terhadap pikiran, perasaan dan perilaku manusia.

Saat membeli produk seperti tas, topi, jaket, dan sepatu, kita punya kecenderungan untuk mempertimbangkan warna sebagai salah satu penentunya. 

Saat punya pilihan dua tas dengan warna berbeda, beberapa orang mungkin merasa tas hitam lebih cocok dipakai dibanding tas kuning atau sebaliknya. Padahal bentuk, bahan dan fungsinya sebenarnya sama saja. Mengapa muncul kecenderungan seperti itu?

Begitu juga saat ingin menciptakan kesan pada sebuah ruangan atau bangunan, warna ikut menjadi pertimbangan. Taman kanak-kanak umumnya dicat dengan aneka warna terang, sedangkan rumah sakit umumnya didominasi warna putih. Kenapa begitu ya?

Untuk menjawabnya penelitian terus dilakukan supaya fenomena bisa dijelaskan, kebenarannya bisa dibuktikan dan kita bisa memanfaatkannya dalam berbagai seting kehidupan. 

Perkembangan Konsep dalam Psikologi Warna

Elliot & Markus (2014) menjelaskan bahwa perkembangan konsep teoritis tentang psikologi warna dimulai sejak seorang ilmuwan dan sastrawan, Johann Wolfgang von Goethe mempublikasikan karyanya, Theory of Colors

Saat itu Goethe mengungkapkan spekulasi berdasarkan intuisinya bahwa warna terbagi menjadi dua kelompok utama yaitu warna-warna positif (plus colors) dan warna-warna negatif (minus colors).

Warna positif seperti kuning, merah kekuningan dan kuning kemerahan dianggap menimbulkan perasaan positif yaitu semangat, optimis, dan ramah/hangat, sedangkan warna negatif seperti biru, merah kebiruan, atau biru kemerahan menimbulkan perasaan negatif seperti cemas, gelisah dan acuh/dingin.

Kemudian pada abad ke-20 seorang Psikiater, Kurt Goldstein menggabungkan gagasan Goethe dengan hasil pengamatan klinisnya. Ia mengungkapkan bahwa persepsi kita terhadap warna menimbulkan reaksi fisiologis pada tubuh yang tampak pada perubahan emosi, pikiran dan perilaku.

Warna merah dan kuning dianggap mampu merangsang/menstimulasi seseorang untuk mengerahkan segenap kekuatan dalam melakukan sesuatu dan memusatkan perhatian ke luar diri, sedangkan warna hijau dan biru bisa menstabilkan/menenangkan serta memudahkan kita memusatkan pikiran ke dalam diri.

Pengaruh warna terhadap perubahan dalam tubuh manusia yang tampak dari perilaku umumnya dijelaskan oleh para peneliti dengan sudut pandang panjang gelombang dan gairah. Warna yang memiliki gelombang lebih panjang misalnya merah, cenderung meningkatkan gairah dan sebaliknya.

Setelah penelitian yang dilakukan oleh Goldstein itu, kajian pengaruh warna terhadap perilaku manusia terus berkembang hingga saat ini.

Pengaruh Konteks dan Budaya terhadap Makna Warna

Meneliti dan memahami pengaruh warna terhadap perilaku manusia, bukan hal sederhana. Faktanya benda-benda di sekitar kita sering tidak hanya punya satu warna, tetapi juga perpaduan beberapa diantaranya. 

Selain itu persepsi kita terhadap warna juga dipengaruhi oleh konteks dan budaya. Ada kelompok masyarakat yang menganggap warna merah sebagai simbol kemenangan. Ada juga yang menganggapnya sebagai simbol ancaman. 

Di negara-negara timur tengah, dominasi hitam adalah warna yang biasa dipakai sehari-hari. Sedangkan di negara lain warna dominan hitam lebih identik dengan kedukaan. 

Di India, kain sari berwarna putih adalah simbol kesedihan dan kehilangan. Sementara di negara lain putih menjadi simbol kemurnian dan biasa dikenakan di acara pernikahan. Oleh sebab itu penting bagi kita memahami psikologi warna, salah satunya agar mampu menempatkan diri sesuai konteksnya.

Tiga Komponen Warna

Kompleksitas penelitian dalam kajian psikologi warna juga disebabkan karena warna punya tiga komponen. Jika ketiganya divariasikan sedemikian rupa, akan menghasilkan semakin banyak jenis warna. Itu bisa jadi akan berpengaruh terhadap perbedaan persepsi yang ditangkap oleh manusia.

Maka untuk mendapatkan hasil penelitian yang betul-betul bisa dipercaya, para peneliti berupaya keras untuk mengontrolnya.

Komponen warna mencakup tiga hal berikut ini.

Hue

Adalah panjang gelombang dan apa yang terpikirkan dalam benak kita saat disebut istilah ‘warna’.

Lightness

Adalah kecerahan, yaitu rentang/tingkat putih ke hitam dari setiap warna.

Chroma

Adalah saturasi, yaitu intensitas atau kejelasan warna.

Makna dan Efek Psikologis Warna

Makna dan efek psikologi warna

Warna memiliki pengaruh langsung yang tidak disadari terhadap perilaku manusia. Menurut Elliot, dkk. (2007) hal itu bisa terjadi karena dua sebab.

Pertama, manusia mempelajari hubungan/asosiasi warna melalui pengulangan pengalaman. Contohnya tinta merah sering digunakan untuk menandai kesalahan pada tugas siswa. Lampu merah juga digunakan sebagai tanda bahaya. Kemudian pengulangan itu membentuk pemaknaan merah sebagai peringatan, ancaman dan kesalahan di benak kita.

Kedua, sepanjang proses evolusi manusia warna tertentu kemungkinan memang memiliki fungsi adaptif yang penting untuk bertahan hidup dan reproduksi. Contohnya darah dan api tampak berwarna merah dan keduanya berbahaya. Maka terbentuklah hubungan antara warna, persepsi kita tentang maknanya dan perilaku kita sebagai responnya.

Berikut adalah daftar macam-macam warna dan efeknya terhadap pikiran, perasaan dan perilaku manusia.

Merah

Ini adalah salah satu warna yang banyak diteliti pengaruhnya terhadap psikologis manusia. Di satu sisi merah menjadi simbol ancaman, kekerasan atau bahaya, tetapi merah juga bisa menjadi simbol gairah, cinta dan kasih sayang.

Secara umum kesan atau perasaan yang dihasilkan dengan melihat warna merah adalah kuat, hangat, semangat, yakin/percaya diri, enerjik dan dominan. Warna merah termasuk warna yang mencolok sehingga mudah menarik perhatian.

Selain mudah menarik perhatian, warna merah juga punya efek beragam terhadap perilaku manusia. Elliot & Markus (2014) meninjau sejumlah penelitian terhadap warna merah dan efeknya dalam pertandingan olahraga.

Riset menunjukkan bahwa antara dua tim yang bertanding dengan kemampuan setara, tim yang mengenakan seragam berwarna merah cenderung unggul atas lawannya yang tidak berseragam merah.

Mengenakan warna merah meningkatkan dominasi atau rasa berkuasa, keberanian, agresivitas, kekuatan dan meningkatkan hormon testosteron pada pria, sehingga tim yang mengenakan seragam merah menjadi lebih kompetitif lalu punya peluang lebih besar untuk menang.

Meski demikian pada konteks yang lain, warna merah punya dampak berbeda. Penelitian yang dilakukan oleh Elliot, dkk. (2007) menyatakan bahwa orang yang melihat warna merah sebelum dan selama mengerjakan teka-teki kata, analogi dan tugas matematika, kinerjanya justru lebih buruk daripada yang melihat warna hijau atau warna akromatik.

Dalam kasus tersebut warna merah diasosiasikan sebagai ancaman/hambatan/kesulitan. Adanya persepsi bahwa tugas itu ‘sulit’. Itu membuat orang-orang cenderung menghindar (motivasi untuk mengerjakan tugas menurun) sehingga performanya buruk.

Dalam konteks berbeda, diketahui bahwa warna merah memang punya daya tarik lebih dibanding warna lain. Eksperimen yang dilakukan Elliot, dkk (2007) menghasilkan kesimpulan bahwa foto wanita yang mengenakan pakaian berwarna merah lebih diminati oleh para pria dibanding foto dengan warna pakaian lainnya. 

Biru

Ini adalah salah satu warna yang mudah kita temukan di alam misalnya langit dan laut. Keduanya sering dianggap sebagai simbol ketenangan. Akan tetapi warna biru juga dimaknai sebagai kesedihan (feeling blue).

Secara umum kesan atau perasaan yang dihasilkan oleh warna biru adalah: tenang, damai, harmonis, serius, sabar, profesional, konsisten, matang, bisa dipercaya dan dingin.

Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa bangunan, toko dan website dengan warna biru dinilai secara positif oleh konsumen karena terasa lebih menenangkan, lapang dan bisa dipercaya (Elliot & Markus, 2014).

Hijau

Hijau adalah warna yang sering dihubungkan dengan alam seperti rumput dan pepohonan. Secara umum kesan atau perasaan yang dihasilkan oleh warna hijau adalah: segar, sejuk, tenang, pulih dan damai. 

Menurut penelitian warna hijau efektif untuk merepresentasikan produk yang ingin dipersepsikan segar serta mengandung lemon dan mint. Selain itu warna hijau juga bermanfaat bagi para pekerja kreatif. Warna hijau dan biru yang punya efek menenangkan cenderung meningkatkan kreativitas/memudahkan lahirnya ide baru.

Kuning

Kuning juga termasuk warna yang mencolok sehingga mudah menarik perhatian. Melihat warna kuning meninggalkan kesan : ceria, hangat, semangat, yakin, gembira dan antusias.

Menurut penelitian, foto destinasi wisata di Instagram akan lebih banyak menarik respon jika gambarnya cerah. Untuk menciptakan foto seperti itu warna kuning bersama dengan kelompok warna-warna hangat lainnya punya peran yang signifikan (En Yu, dkk., 2020).

Ungu

Ini adalah warna kombinasi yang dibentuk dari biru dan merah. Kesan yang bisa ditangkap dari warna ini secara umum adalah: misterius, magis, imajinatif, mewah, bersahaja, bijaksana, dan erat kaitannya dengan dunia spiritual.

Oranye

Oranye sering kita jumpai pada buah jeruk, matahari, gambaran musim gugur dan identik dengan perayaan halloween. Kesan yang dibawa oleh warna ini secara umum adalah: hangat, enerjik, bahagia, segar dan muda.

Coklat

Warna coklat mencerminkan: kematangan, stabilitas, kehangatan, keseriusan, kekuatan, ketahanan, kesendirian, kekosongan dan kenyamanan. Ini adalah salah satu warna yang menjadi preferensi para pria dalam berpakaian. 

Dalam industri makanan, coklat punya peran penting untuk mengekspresikan kelezatan misalnya pada bungkus coklat atau donat.

Merah muda/pink

Warna ini sangat lekat dengan citra wanita meski sebenarnya siapa saja bebas menggunakannya. Warna pink memberi kesan: romantis, feminim, tenang, hangat, kasih sayang, kekanakan, ceria dan pemelihara.

Hitam

Hitam adalah warna yang bisa menyerap cahaya. Warna ini sering dianggap sebagai simbol kejahatan, kematian, misteri dan sihir tetapi juga bisa menjadi simbol kekuatan dan kehidupan.

Secara umum kesan atau perasaan yang dihasilkan oleh warna hitam adalah: suram, murung, sedih, putus asa, misterius, tangguh/kokoh, perlindungan/aman, kuat, abadi, formal dan elegan.

Menurut beberapa penelitian yang diulas oleh Elliot & Markus (2014) warna hitam juga punya daya tarik dalam konteks seksualitas. Jika warna merah meningkatkan gairah/keinginan, warna hitam cenderung berhenti pada rasa penasaran pria terhadap wanita yang berbaju hitam.

Sementara itu wanita merasa lebih percaya diri dan merasa fashionable saat memakai baju hitam. Di dunia fashion warna hitam dianggap mampu membuat bentuk badan terlihat lebih ramping.

Dalam konteks pertandingan olahraga, warna hitam punya pengaruh mirip seperti warna merah yaitu meningkatkan agresivitas para pemain.

Putih

Warna putih sering dianggap mencerminkan kemurnian/kejernihan, kebersihan tetapi juga kesendirian dan kebosanan.

Secara umum kesan atau perasaan yang dihasilkan oleh warna putih adalah: bersih/steril, dingin, sederhana, bebas, luas, tenang dan damai.

Berkebalikan dengan warna hitam, riset menunjukkan bahwa dalam konteks pertandingan olahraga, warna putih mengurangi agresivitas atau daya serang pemain. 

Sedangkan dalam konteks pembelajaran, soal-soal ujian yang dicetak di atas kertas berwarna putih membuat siswa bisa mengerjakannya dengan lebih baik daripada jika dicetak di atas kertas berwarna merah, kuning atau hijau.

Kertas ujian dengan warna putih lebih minim distraksi/gangguan sehingga siswa lebih mudah fokus pada soal yang diberikan.

Hubungan Preferensi Warna dengan Karakter Manusia

Makna dan Efek Psikologis Warna

Warna yang kita sukai mencerminkan siapa kita. Benarkah demikian? Ternyata sampai dengan saat ini pernyataan tersebut belum dilandasi dengan bukti ilmiah yang memadai. 

Stimpson & Stimpson (1979) meneliti hubungan antara kepribadian (diukur dengan Edward Personal Preference Schedule) dengan preferensi warna (diukur dengan Luscher Color Test). Dalam penelitian yang melibatkan 150 orang subjek itu disimpulkan bahwa kepribadian tidak berhubungan dengan warna yang dipilihnya. Dengan kata lain, warna yang kita sukai tidak mencerminkan kepribadian kita.

Hal itu masuk akal jika dicermati kembali bahwa memang warna dipersepsikan secara berbeda-beda oleh setiap individu. Tidak ada kesepakatan makna pada setiap warna. Selain itu setiap warna punya spektrum yang luas dari paling muda hingga paling tua. Bukankah memang sulit sekali menjelaskan warna mana dengan kecerahan dan intensitas seperti apa yang menunjukkan kualitas pribadi tertentu?

Meski tidak mencerminkan kepribadian, warna bisa mewakili emosi atau mood yang kita rasakan pada waktu tertentu. Banyak penelitian yang membuktikan hal itu, salah satunya dilakukan oleh Dael, dkk, (2016). Hasil eksperimennya menunjukkan bahwa warna-warna cerah dan hangat cenderung dipilih orang untuk menunjukkan emosi bahagia (joy) daripada emosi negatif seperti takut dan panik.

Manfaat Psikologi Warna

Terapi dengan Psikologi Warna

Terapi warna atau chromotherapy merupakan salah satu jenis metode penyembuhan alternatif yang memanfaatkan gelombang pada warna untuk mempengaruhi fisiologis dan psikologis manusia. Terapi ini dilakukan dengan cara memaparkan seseorang dengan cahaya warna tertentu yang dianggap sesuai dengan kebutuhannya. 

Setiap warna diyakini punya efek yang berbeda-beda terhadap tubuh manusia. Meski sudah diterapkan sejak bertahun-tahun lamanya, chromotherapy hingga saat ini masih kontroversial bahkan dianggap sebagai pseudosains karena bukti ilmiahnya belum kuat.

Dalam dunia psikologi juga ada jenis terapi yang di dalamnya melibatkan warna sebagai salah satu unsurnya, yaitu art therapy. Terapi tersebut menjadikan seni sebagai media ekspresi untuk mengungkap emosi-emosi yang mungkin selama ini terpendam/tidak disadari.

Terapi seni yang salah satunya bisa dilakukan dengan kegiatan menggambar/melukis, diyakini juga membantu individu mendapatkan kesenangan selama prosesnya dan itu akan membangun kekuatan psikisnya. Terapi seni umumnya diterapkan untuk memulihkan trauma, skizofrenia, gangguan kecemasan juga gangguan emosi lainnya. 

Peran Warna dalam Desain, Branding dan Marketing

Warna adalah bahasa tanpa kata yang ikut membangun citra. Maka mempertimbangkan kesesuaian antara pemilihan warna dengan kesan yang ingin dibangun atas suatu produk menjadi sangat penting.

Contohnya mengemas produk dengan dominasi warna pink menjadi cara mudah untuk mencitrakan bahwa produk itu memang khusus dirancang untuk para wanita. Begitu pula dengan produk yang didesain, dikemas dan diiklankan dengan dominasi latar warna gelap seperti hitam, abu-abu dan coklat mampu menyampaikan pesan bahwa produk itu diperuntukkan bagi para pria.

Pemilihan warna juga bisa menyampaikan nilai yang ingin diusung oleh sebuah produk. Misalnya sebuah produk yang jika digunakan akan menambah semangat dan keberanian menghadapi tantangan, bisa dikemas dengan warna merah sebagai warna utama. 

Sebuah penelitian yang dilakukan di Belanda dengan melibatkan 1095 orang subjek penelitian, mencoba mencari tahu gambaran pemilihan warna pada beberapa jenis produk. Penelitian itu menghasilkan sejumlah temuan, antara lain:

  • Secara umum biru adalah warna paling diminati baik oleh laki-laki maupun perempuan.
  • Hitam adalah warna yang paling banyak dipilih oleh laki-laki maupun perempuan dalam urusan pakaian.
  • Putih adalah warna paling banyak dipilih dalam desain interior.

Berdasarkan data yang diperoleh mereka menyimpulkan bahwa pemilihan warna produk perlu mempertimbangkan konteks dan karakteristik calon pembeli. Selain itu dari sisi konsumen, kita bisa melihat bahwa preferensi warna yang dipilih bisa berubah-ubah. Artinya orang yang suka warna hitam tidak berarti mereka hanya akan membeli segala macam produk dengan warna hitam (Bakker, dkk., 2013).

Dalam konteks desain lainnya yaitu pembuatan sebuah game, pemilihan warna ternyata menghasilkan pengalaman berbeda kepada para pemain. Roohi & Forouzandeh (2019) merancang dua games yang desainnya dibedakan pada aspek warna. Satu game didesain dengan komposisi warna yang sudah dipertimbangkan mengikuti konsep psikologi warna sedangkan satunya tidak. 

Hasilnya disimpulkan bahwa game yang didesain mengikuti konsep psikologi warna bisa meningkatkan sense of immerse (perasaan sangat terlibat, asik, tenggelam, semakin masuk dalam permainan seolah-olah itu nyata) pada pemain.

Temuan yang menarik ya? 

Itulah beberapa informasi seputar psikologi warna. Semoga bisa membantumu memahami konsep juga mempertimbangkan penggunaannya sesuai kebutuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *