Teori Perkembangan Anak Menurut Para Ahli

Setiap orangtua pasti berharap agar anaknya tumbuh dan berkembang secara optimal. Itu disebabkan karena pertumbuhan dan perkembangan adalah dua proses penting yang akan menunjang manusia untuk bertahan hidup dan mampu melampaui berbagai tantangan di hadapannya.

Dalam Psikologi, terdapat sejumlah teori perkembangan anak yang diungkapkan oleh para ahli setelah mereka melakukan serangkaian penelitian. Beberapa teori perkembangan anak berikut ini akan membantu kita memahami seperti apa tahap demi tahap yang dilalui oleh seorang anak, hingga ia tumbuh menjadi individu dewasa dengan kualitas-kualitas tertentu pada dirinya.

Teori Perkembangan Psikoseksual Sigmund Freud

Sigmund Freud adalah salah satu tokoh psikologi yang mengungkapkan teori perkembangan anak. Teori perkembangan anak yang diungkapkan oleh Freud, dikenal dengan teori psikoseksual. Dalam pandangan psikoanalisis, perkembangan merupakan sesuatu yang terjadi secara tak sadar atau di luar kesadaran dan sangat diwarnai oleh emosi.

Psikoanalisis menekankan bahwa perilaku hanyalah sesuatu yang di permukaan dan bahwa pemahaman yang sebenarnya atas perkembangan manusia memerlukan proses analisis terhadap makna simbolik atas perilaku dan apa yang ada jauh di dalam pikiran manusia (Santrock, 2011).

Psikoanalisis juga menekankan bahwa pengalaman anak di masa awal kehidupannya bersama dengan orang tua, akan menentukan bagaimana perkembangannya di masa depan.

Hal itu diyakini oleh Freud setelah ia menganalisis klien-kliennya yang mengalami gangguan psikologis. Ia sangat yakin bahwa masalah psikologi yang mereka alami ketika dewasa adalah hasil dari pengalaman masa lalu (masa kecil) yang tidak menyenangkan.

Dalam teori perkembangan psikoseksual, Freud menjelaskan bahwa seiring dengan bertambahnya usia, fokus anak-anak terhadap kesenangan dan dorongan seksual bergeser dari mulut ke anus, kemudian ke alat kelamin.

Menurut Freud, bayi mempunyai kehidupan seksual dan mengalami perkembangan seksual pragenital selama lima tahun pertama setelah kelahiran. Anak-anak dianggap memiliki ketertarikan terhadap kesenangan seksual dan itu memunculkan perilaku tertentu pada tahap perkembangan tertentu.

Freud juga mengklaim bahwa kepribadian manusia saat dewasa, ditentukan oleh bagaimana ia menyelesaikan konflik yang muncul pada setiap tahap perkembangan tersebut. Konflik akan terjadi karena keinginan anak untuk mendapatkan kepuasan atau menyalurkan dorongan seksual akan berhadapan dengan realitas (misalnya larangan, aturan).

Berikut adalah lima tahap perkembangan psikoseksual menurut Freud.

Oral Stage (Usia 0-1,5 Tahun)

Pada tahap oral, kesenangan bayi berpusat pada mulutnya. Bayi menggunakan mulutnya untuk memasukkan nutrisi ke dalam tubuhnya. Selain itu, ia juga mendapatkan kesenangan dari sensasi yang dirasakan di mulutnya. Perilaku bayi pada masa ini misalnya, memasukkan jari jempol ke dalam mulut.

Perilaku tersebut menurut Freud adalah upaya bayi mengurangi kecemasan atas kebutuhannya untuk mendapatkan sensasi di mulut. Perilaku lain yang ditunjukkan anak pada tahap ini adalah menggigit, mengoceh, menutup mulut, tersenyum serta menangis.

Anal Stage (Usia 1,5-3 Tahun)

Pada tahap anal, kesenangan anak berpusat pada anus. Periode anal ditandai dengan kepuasan yang diperoleh melalui perilaku agresif dan fungsi pembuangan atau ekskresi. Selama periode anal awal, anak memperoleh kepuasan dari merusak atau menghilangkan objek.

Freud mengatakan bahwa pada periode tersebut dorongan sadistis anak lebih kuat daripada dorongan erotis sehingga anak sering bertindak agresif kepada orangtua karena mereka membuatnya frustasi dengan toilet training (latihan buang air kecil atau besar di toilet).

Kemudian anak akan memasuki periode anak akhir, yang mana anak kadang-kadang memiliki ketertarikan terhadap kotoran. Anak memperoleh kesenangan dengan sensasi saat buang air besar (Feist & Feist, 2010).

Phallic Stage (Usia 3-6 Tahun)

Pada tahap phallic, kesenangan anak berpusat pada organ kelamin. Hal ini menurut Freud menjelaskan mengapa di usia ini anak sepertinya senang memegang alat kelamin mereka.

Menurut Freud, maturbasi biasa muncul pada tahap ini tetapi orangtua umumnya melarang anak untuk melakukannya sehingga anak berusaha menekan keinginan tersebut. 

Latency Stage (Usia 6-Pubertas)

Pada tahap laten, anak-anak menekan hasrat seksual mereka serta mengembangkan keterampilan intelektual dan sosialnya.

Pada fase ini perkembangan psikoseksual anak menjadi nonaktif karena umumnya orang tua akan menghukum atau mencegah anak melakukan aktivitas seksual. Jika orangtua berhasil menekan aktivitas seksual yang sebenarnya diinginkan oleh anak, mereka akan mengarahkan energi psikisnya ke sekolah, teman, hobi, dan aktivitas non seksual lainnya (Feist & Feist, 2010).

Genital Stage (Masa Pubertas ke Atas)

Tahap genital adalah saat kembali hidupnya hasrat seksual. Sumber dari kesenangan seksual diperoleh dari keluarga atau seseorang di luar keluarga.

Pada masa ini remaja akan mengarahkan energi seksualnya kepada orang lain, bukan lagi kepada dirinya sendiri seperti pada tahap-tahap perkembangan sebelumnya. Ia juga sudah dapat melakukan reproduksi. Dorongan seksual mengalami pengaturan yang lebih utuh, tidak lagi terpisah-pisah.

Perlu diperhatikan bahwa teori Freud sejak kemunculannya sudah banyak menimbulkan kontroversi. Saat ini teori tersebut juga banyak direvisi oleh para psikoanalis lainnya. Freud dianggap terlalu berlebihan dalam menekankan insting atau dorongan seksual untuk menjelaskan perilaku manusia.

Teori Perkembangan Psikososial Erik Erikson

Erik Erikson meyakini bahwa Freud salah menilai beberapa hal penting dalam perkembangan manusia. Jika Freud mengungkapkan bahwa yang menggerakkan perilaku manusia adalah dorongan seksual, Erikson mengatakan bahwa perilaku digerakkan oleh lingkungan sosial dan keinginan untuk terhubung dengan orang lain.

Jika Freud mengatakan bahwa kepribadian dasar kita dibentuk saat lima tahun pertama kehidupan, Erikson mengungkapkan bahwa perkembangan terjadi sepanjang hayat. Dengan kata lain, Erikson tidak sependapat dengan Freud. Manusia dan kepribadiannya masih dapat berkembang setelah ia melewati usia lima tahun.

Jika Freud mengatakan bahwa pengalaman di masa lalu lebih penting dalam menentukan perilaku manusia, Erikson mengatakan bahwa baik pengalaman masa lalu maupun masa kini sama pentingnya untuk memahami manusia.

Dalam teori perkembangan psikososial, Erikson mengungkapkan adanya delapan tahap perkembangan yang akan dilalui manusia selama hidupnya. Di setiap tahap perkembangan, terdapat tugas perkembangan yang membuat individu mengalami krisis yang perlu diselesaikan. Semakin seseorang berhasil melalui/menyelesaikan krisis itu, semakin sehat perkembangan dirinya.

Berikut delapan tahap perkembangan psikososial menurut Erikson. 

Trust vs Mistrust

Ini adalah tahap perkembangan psikososial yang pertama. Tahap trust vs mistrust dialami anak saat ia berada di masa satu tahun pertama kehidupannya.

Anak memiliki tugas perkembangan untuk mengembangkan rasa percaya (trust) kepada dunia. Anak yang berhasil mengembangkan rasa percaya, akan memiliki keyakinan jangka panjang yang positif bahwa dunia adalah tempat yang baik dan menyenangkan untuk hidup.

Trust adalah pondasi agar anak memiliki keberanian untuk bereksplorasi dan mengenal sekitarnya. Tanpa trust, tanpa rasa percaya bahwa dunia ini aman, ia akan mudah cemas, ragu-ragu dan sulit berinteraksi dengan lingkungan.

Anak akan mengembangkan trust bersama dengan caregiver (orang yang mengasuhnya). Jika orang yang mengasuhnya responsif kepada dirinya, akan lebih mudah bagi anak untuk mengembangkan keyakinan bahwa dunia ini aman dan ia akan baik-baik saja.

Sebaliknya, jika pengasuhnya mengabaikannya atau bahkan menolaknya, anak menjadi lebih sulit mengembangkan rasa percaya terhadap dunia.

Autonomy vs Shame

Tahap autonomy vs shame terjadi saat anak berusia 1-3 tahun. Pada tahap ini anak mulai merasa bahwa mereka bisa menentukan perilaku mereka sendiri.

Di tahap ini anak mulai ingin menunjukkan sense of autonomy or independence. Jika anak-anak di tahap ini terlalu sering dilarang atau dihukum, mereka cenderung akan merasa malu atau ragu terhadap dirinya sendiri.

Initiative vs Guilt

Tahap ini dialami oleh anak saat mereka berada di usia pra sekolah (usia 3-5 tahun). Mereka sudah mulai mampu berinteraksi dengan anak lain seusianya dan menjangkau lingkungan sosial yang lebih luas. Tugas perkembangan yang perlu diselesaikan oleh anak adalah mengembangkan inisiatif.

Inisiatif adalah kemampuan untuk bertindak secara aktif, memiliki tujuan yang jelas ketika melakukan sesuatu serta mampu bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Jika anak tidak mampu bertanggung jawab atas perilakunya, ia akan merasa bersalah (guilt) dan mudah merasa cemas. 

Industry vs Inferiority

Tahap industry vs inferiority diperkirakan berlangsung ketika anak berada di masa sekolah dasar (6 tahun-masa pubertas). Pada masa ini anak mulai berhadapan dengan tantangan untuk memahami pengetahuan dan memiliki keterampilan berpikir. Jika ia tak mampu melakukannya dengan baik, akan muncul perasaan inferior (merasa tidak mampu, rendah diri).

Identity vs Identity Confusion

Ini adalah tahap perkembangan yang dialami manusia ketika berusia remaja (10-12 tahun). Mereka akan mulai bertanya-tanya tentang siapa dirinya, untuk apa mereka ada di dunia dan mau dibawa kemana hidupnya.

Pada tahap identity vs identity confusion, remaja memikul tugas perkembangan untuk menemukan identitasnya atau mengenal siapa dirinya. Jika pada tahap ini mereka menggunakan cara-cara yang baik dan meyakini identitas diri yang positif, artinya mereka menemukan jalan hidup yang tepat.

Sebaliknya, jika eksplorasi identitas diri dilakukan dengan cara yang buruk hingga akhirnya remaja mengembangkan identitas diri yang negatif, mereka akan mengalami kebingungan identitas atau merasa hilang arah.

Intimacy vs Isolation

Tahap ini dialami oleh manusia ketika memasuki usia dewasa awal (usia 20 atau 30-an). Mereka memiliki tugas perkembangan untuk menjalin kedekatan (intimacy) dengan orang lain. Kedekatan dalam hal ini dapat diartikan kemampuan menjalin relasi dengan orang lain secara mendalam dalam konteks pertemanan maupun menemukan pasangan hidup.

Jika tugas itu belum berhasil dipenuhi, maka individu akan merasa resah dan terisolir (kesepian, sendirian, terasingkan dsb.).

Generativity vs Stagnation

Tahap ini dialami oleh mereka yang berada di pertengahan usia dewasa (usia 40-50 tahun-an). Individu dewasa di tahap ini memiliki tugas perkembangan untuk mengembangkan generativity yaitu kemampuan membantu generasi yang lebih muda untuk berkembang dan menjalani hidup yang bermanfaat.

Jika individu tidak berhasil menyelesaikan tugas perkembangan itu, jika ia merasa tak mampu melakukan apapun untuk membantu generasi muda, individu akan merasa mandek (stagnation).

Integrity vs Despair

Tahap ini dialami oleh mereka yang telah memasuki masa dewasa akhir (60 tahun ke atas). Individu akan merefleksikan kembali masa lalu yang sudah dijalani selama ini.

Jika individu melihat bahwa ia sudah melakukan yang terbaik semasa hidup, ia akan mencapai integrity. Sebaliknya, jika ia melihat hidupnya dan apa yang sudah dilaluinya selama ini sebagai sesuatu yang buruk, maka individu akan merasa sedih, menyesal dan kecewa (despair). 

Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget

Jean Piaget menjelaskan teori perkembangan yang menyatakan bahwa anak memperoleh pemahaman tentang dunia melalui empat tahap perkembangan. Di setiap tahap perkembangan, anak menunjukkan cara berpikir yang berbeda untuk memahami sekitarnya.

Berikut adalah empat tahap perkembangan kognitif menurut Piaget. 

Sensorimotor Stage (Usia 0-2 Tahun)

Pada tahap sensorimotor, anak mendapatkan pemahaman tentang dunia atau pemahaman tentang lingkungan di luar dirinya dengan mengkoordinasikan pengalaman yang ditangkap oleh indra dan motorik (gerak anggota badan). 

Tahap sensorimotor dibagi menjadi enam sebagai berikut.

Simple Reflexes (Sejak Lahir-Usia 1 Bulan)

Pada tahap ini anak mengkoordinasi sensasi dan aksi (tindakan) masih dengan perilaku yang sifatnya refleks. Contoh: bayi menghisap ketika bibirnya disentuh, tangannya menggenggam ketika disentuh.

First Habits and Primary Circular Reactions (Usia 1-4 Bulan)

Anak mengkoordinasi sensasi dan dua tipe skema yaitu kebiasaan (refleks) dan mampu memberikan reaksi berulang. Contoh: Mengulang sensasi di tubuhnya dengan memasukkan jempol ke dalam mulut.

Secondary Circular Reactions (Usia 4-8 Bulan)

Anak lebih berorientasi pada objek. Ia akan mengulang tindakan yang menarik atau menyenangkan baginya. Contoh: anak menjadi tenang saat ada orang di dekatnya dan menangis ketika ditinggal pergi.

Coordination of Secondary Circular Reactions (Usia 8-12 Bulan)

Anak mampu mengkoordinasikan penglihatan dengan sentuhan, koordinasi tangan dengan mata, koordinasi skema dan keinginan. Contoh: Anak memainkan suatu benda untuk menciptakan kesenangan bagi dirinya.

Tertiary Circular Reactions Novelty and Curiosity (Usia 12-18 Bulan)

Anak menggunakan berbagai objek untuk bereksperimen atau mencoba-coba. Contoh: mencoba menjatuhkan sebuah benda, menendang benda lainnya, menaiki benda dsb.

Internalization of Schemes (Usia 18-24 Bulan)

Anak mengembangkan kemampuan untuk menggunakan simbol primitive dan membentuk representasi mental. Contoh: Anak yang tidak pernah tantrum, melihat temannya tantrum. Ia kemudian mengingatnya dan keesokan harinya mencoba menirunya.

Preoperational Stage (Usia 2-7 Tahun)

Pada tahap praoperasional anak mulai merepresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar. Ia mampu menunjukkan objek dengan kata-kata atau gambar. Ia juga mampu memahami bahwa suatu kata atau gambar menunjukkan atau mewakili suatu objek nyata.

Concrete Operational Stage (Usia 7-11 Tahun)

Pada tahap konkrit operasional, anak mulai mampu berpikir logis dengan menggunakan bantuan benda konkret dan mengelompokkan objek yang sesuai. Contoh: anak mampu menghitung dengan bantuan lidi (benda konkrit).

Formal Operational Stage (Usia 12 Tahun ke Atas)

Anak sudah mampu berpikir secara abstrak (tidak harus menggunakan bantuan benda konkret), mampu berpikir lebih logis serta dapat memahami ide-ide.

Contoh: remaja mampu berpikir tentang orang tuanya dan seperti apa figur orangtua yang ideal, memikirkan tentang akan seperti apa masa depannya nanti, mampu mempertanyakan kenapa sesuatu terjadi dan mampu mengembangkan kemungkinan-kemungkinan penjelasannya.

Teori Perkembangan Kognitif Sosiokultural Lev Vygotsky

Sama dengan Piaget, Vygotsky juga mengungkapkan bahwa anak secara aktif membangun pemahaman mereka tentang dunia. Akan tetapi, ia lebih menekankan peran interaksi sosial dan budaya terhadap perkembangan kognitif anak.

Menurut Vygotsky perkembangan kognitif anak melibatkan proses belajar untuk menggunakan temuan-temuan yang ada di masyarakat seperti, bahasa, sistem matematika dan strategi memori. 

Menurutnya, perkembangan kognitif anak akan terjadi apabila anak dibantu oleh orang yang lebih terampil dari dirinya sesuai dengan kebutuhannya. Dengan kata lain, interaksi sosial memfasilitasi terjadinya perkembangan kognitif pada anak.

Dalam teori ini, perkembangan anak tidak dibagi menjadi tingkatan yang spesifik berdasar usia seperti dalam teori-teori sebelumnya. Perkembangan anak terjadi dalam proses yang meningkatkan kemampuan mereka secara bertahap, sehingga meningkat pula kompleksitas informasi/keterampilan yang dapat dikuasai oleh anak.

Teori Perilaku dan Kognisi Sosial

Menurut teori perilaku dan kognisi sosial, perkembangan manusia adalah perilaku tampak yang dapat dipelajari bersama dengan lingkungan sekitar. Teori ini juga menekankan kontinuitas atau keberlanjutan perkembangan (bukan berhenti pada masa tertentu hidup manusia). Selain itu, menurut teori ini perkembangan juga tidak terjadi dalam tingkatan-tingkatan tahapan.

Dua contoh konsep yang tercakup dalam teori ini adalah teori pengondisian operan (Skinner) dan teori sosial kognitif (Albert Bandura).

Teori Pengondisian Operan B.F. Skinner

Menurut teori pengondisian operan yang diungkapkan oleh B.F. Skinner, perkembangan manusia dapat terjadi apabila ia memperoleh pengondisian misalnya berupa hadiah dan hukuman. Skinner mengatakan bahwa kunci perkembangan bukanlah pemikiran dan perasaan melainkan perilaku.

Contohnya, Skinner akan mengatakan bahwa orang yang pemalu, belajar menjadi pemalu karena ia memiliki pengalaman-pengalaman tertentu yang akhirnya membuatnya menjadi seorang pemalu. Oleh sebab itu, modifikasi atau suatu perubahan dan pengondisian di lingkungan sosial akan bisa membantu orang pemalu itu menjadi lebih pemberani (Santrock, 2011). 

Teori Kognitif Sosial Albert Bandura

Dalam teori kognitif sosial dijelaskan bahwa perilaku, lingkungan dan kognisi adalah kunci terjadinya perkembangan manusia. Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Albert Bandura lebih banyak berfokus pada observational learning.

Observational learning yang biasanya disebut juga dengan imitasi dan modeling berarti bahwa proses belajar terjadi dengan cara mengamati apa yang dilakukan oleh orang lain. Contohnya, seorang anak melihat ayahnya berteriak dan membanting pintu saat sedang marah. Anak yang mengamati perilaku ayahnya, mungkin saja telah belajar untuk mengekspresikan kemarahan dengan cara yang sama seperti yang ia amati pada perilaku ayahnya.

Teori Etologi

Teori etologi menekankan bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh aspek biologis. Perilaku dalam teori ini dianggap terkait dengan evolusi dan dicirikan dengan periode spesifik tertentu. Para etolog percaya bahwa keberadaan atau ketiadaan pengalaman tertentu pada waktu tertentu memiliki efek jangka panjang pada individu.

John Bowlby adalah salah satu tokoh yang menggambarkan penerapan teori etologi dalam perkembangan manusia. Bowlby, dengan teori kelekatannya (attachment theory) menekankan pentingnya kelekatan antara anak dengan pengasuhnya selama setahun pertama kehidupan si anak. Kelekatan yang dikembangkan anak di masa awal kehidupannya itu memiliki konsekuensi jangka panjang bagi kehidupannya.

Anak yang mampu mengembangkan kelekatan yang positif dan aman (secure attachment) diyakini akan berkembang lebih baik di masa depan (saat ia kanak-kanak hingga dewasa). Sebaliknya, jika anak mengembangkan kelekatan yang negatif dan insecure, perkembangan dirinya ke depan menjadi kurang optimal.

Teori Ekologi

Teori ekologi menekankan pentingnya faktor lingkungan terhadap perkembangan manusia. Teori ekologi yang memiliki peran penting untuk memahami perkembangan manusia sepanjang hidupnya adalah teori ekologi Bronfenbrenner.

Teori ekologi Bronfenbrenner menjelaskan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh lima sistem yang ada di lingkungan manusia, mulai dari lingkungan terdekatnya yaitu keluarga, hingga lingkungan terjauh dan terluasnya yaitu sistem sosial-sejarah yang berkembang saat individu itu hidup. Penjelasan selengkapnya tentang teori ekologi Bronfenbrenner dapat dibaca di sini.