Teori Psikologi tentang Perselingkuhan

Data menyebutkan bahwa beberapa tahun yang lalu, Indonesia pernah menjadi negara dengan kasus perceraian tertinggi di Asia Pasifik. Pada 2012, jumlah perceraian di Indonesia mencapai angka 372.557 kasus. Dengan kata lain, terjadi 40 kasus perceraian setiap jam di negara kita!

Tidak berhenti di sana, kasus perceraian di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2018, angka perceraian mencapai 444.358 kasus, sedangkan pada Agustus 2020 sudah tercatat 306.688 kasus perceraian. Artinya, rata-rata jumlah perceraian di Indonesia mencapai 25% dari dua juta pernikahan yang terjadi dalam satu tahun.

Empat alasan utama perceraian pada pasangan di Indonesia adalah, hubungan yang sudah tidak harmonis, tidak adanya tanggung jawab, kehadiran pihak ketiga, dan kesulitan ekonomi. Perselingkuhan menjadi salah satu momok bagi keutuhan rumah tangga.

Perselingkuhan juga merupakan salah satu fenomena yang sering memantik emosi warganet ketika mereka mengetahuinya. Masyarakat akan beramai-ramai melempar hujatan dan melampiaskan kekesalan kepada pihak yang diyakini telah menghianati kesetiaan pasangannya.

Irawan & Suprapti (2018) menyebutkan bahwa sebanyak 56,4% dari 147 orang, pernah berpikir untuk selingkuh dari pasangannya. Artinya, sebagian besar responden dalam penelitian tersebut mengakui bahwa mereka pernah berniat untuk selingkuh. Tentu kenyataan-kenyataan tersebut sangat mengkhawatirkan.

Lalu, bagaimana psikologi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku individu dan proses mental manusia menjelaskan fenomena perselingkuhan? Berikut adalah beberapa konsep dan pandangan dari para ilmuwan maupun praktisi psikologi yang dapat membantu kita memahami lebih dalam fenomena perselingkuhan.

Definisi Perselingkuhan

Perselingkuhan yang berasal dari kata selingkuh. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya, suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri, tidak berterus terang, tidak jujur, curang, serong, suka menggelapkan uang, korup, dan suka menyeleweng.

Dari definisi tersebut kita dapat mencermati bahwa selingkuh memiliki makna yang luas. Ia tidak hanya mewakili keadaan saat seseorang tidak setia kepada pasangannya. Meski demikian, ketika kita batasi istilah selingkuh pada konteks relasi romantis, kata selingkuh juga masih memiliki kerancuan.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan selingkuh? Perilaku spesifik seperti apa yang dapat disebut selingkuh? Antara satu orang dengan yang lainnya mungkin memiliki jawaban yang berbeda.

Terdapat perbedaan kriteria pada perselingkuhan yang dipersepsikan oleh masyarakat. Sebagian orang menganggap bahwa seseorang disebut selingkuh jika ia melakukan hubungan seksual dengan orang lain yang bukan pasangan resminya. Ada pula yang menganggap bahwa chat tertentu dengan orang yang bukan pasangan resminya, sudah dapat dikategorikan sebagai perselingkuhan.

Rosenberg (2018) menjelaskan bahwa perselingkuhan dapat dibagi menjadi dua yaitu sexual infidelity dan emotional infidelity. Perselingkuhan secara seksual berarti pelanggaran terhadap prinsip eksklusivitas hubungan seksual, mulai dari perilaku yang paling sederhana seperti memeluk atau mencium orang lain yang bukan pasangan aslinya, hingga perilaku yang lebih kompleks seperti berhubungan badan.

Sedangkan perselingkuhan secara emosi, dapat diartikan sebagai adanya ikatan emosi yang kuat atau kecenderungan perasaan terhadap orang lain yang bukan suami/istri, yang biasanya juga disertai dengan hasrat secara seksual kepadanya. Menurut Rosenberg (2018) perselingkuhan yang paling kuat adalah yang melibatkan keduanya (seksual dan emosional).

Perselingkuhan Ditinjau dari Sexual Strategies Theory

Sexual strategies theory digagas oleh para psikolog evolusioner. Menurut pandangan mereka, manusia memiliki strategi yang berbeda-beda dalam memilih pasangan. Hal itu dipengaruhi oleh kebudayaan, pengaruh orangtua, kriteria pribadi, serta standar yang berlaku di masyarakat.

Dalam rumusan awalnya, sexual strategies theory berfokus menjelaskan perbedaan antara pria dan wanita dalam memilih pasangan. Dimulai dari urusan memiliki keturunan, wanita perlu mengerahkan investasi atau pengorbanan yang lebih besar dari pria. Mereka harus mengandung selama sembilan bulan dan merawat anak. Sedangkan pria, untuk dapat memiliki anak, mereka hanya tinggal melakukan hubungan seks.

Jika wanita salah memilih pasangan, dihamili oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab yang tidak mau membantunya mengurus dan membesarkan anak, atau oleh laki-laki dengan kualitas gen yang buruk, ia harus menanggung akibatnya. Penting bagi wanita untuk lebih bijak dalam memilih pasangan, karena mereka memiliki potensi risiko yang besar jika salah menentukan pilihan.

Di sisi yang lain, pria tidak terlalu perlu ambil pusing dalam memilih pasangan. Ini karena mereka tidak akan mengandung anak dan tidak ditekan oleh ekspektasi masyarakat untuk membesarkan anak, sebagaimana yang dialami oleh wanita.

Logika di atas kemudian menghasilkan prediksi bahwa dalam konteks hubungan jangka pendek, wanita cenderung lebih pemilih dalam menentukan pasangan, sedangkan pria, tidak. Mereka lebih santai karena tidak harus berinvestasi/berkorban sebesar wanita.

Prediksi tersebut kemudian didukung dengan hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa pria memiliki keinginan lebih besar daripada wanita untuk memiliki lebih banyak pasangan seks. Pria lebih tidak ingin membuang waktu lama untuk menemukan pasangan seks. Mereka juga lebih mudah bersedia melakukan hubungan seks dengan orang asing, serta cenderung mampu melakukan hubungan seks meski tanpa melibatkan perasaan/hubungan emosi.

Selain itu, Buss & Schmitt (2011) juga mendapatkan data bahwa pria lebih sering berfantasi seksual daripada wanita, lebih banyak berfantasi tentang variasi pasangan seks, lebih cenderung menyesali kesempatan melakukan hubungan seks yang hilang, serta lebih bersedia menurunkan standar terhadap wanita agar dapat menjalin relasi dengan lebih banyak pasangan, asalkan cost dan risikonya rendah.

Perselingkuhan Ditinjau dari Attachment Theory

Attachment adalah ikatan emosi antara satu orang dengan orang lainnya. Menurut John Bowlby, attachment yang dikembangkan oleh anak sejak ia masih kecil memiliki pengaruh yang besar terhadap kemampuannya untuk menjalin relasi dengan orang lain di masa mendatang.

Idealnya, anak diharapkan untuk mengembangkan secure attachment. Secure attachment dimiliki oleh anak-anak yang mempunyai figur pengasuh yang responsif terhadap kebutuhan mereka. Anak-anak dengan secure attachment merasa cemas ketika ditinggalkan oleh pengasuhnya, namun ia yakin pengasuhnya akan kembali dan dapat membantunya/memenuhi kebutuhannya.

Akan tetapi, anak juga bisa mengembangkan insecure attachment apabila ia tidak memiliki figur pengasuh (misalnya anak terlantar), pengasuhnya tidak responsif/tidak peduli/mengabaikannya, atau bahkan sering melakukan kekerasan kepadanya. Anak yang mengalami situasi pengasuhan seperti ini merasa tidak aman (insecure), sehingga lebih sulit mempercayai dan mengembangkan relasi yang sehat dengan orang lain.

Divine (2020) menjelaskan bahwa orang yang merasa insecure, saat berada dalam suatu hubungan cenderung mencurigai atau mempertanyakan mengapa orang lain mau dekat dengannya. Self esteem yang rendah (merasa dirinya kurang berharga) membuat ia mudah merasa insecure dengan pasangannya sendiri.

Pendidikan dan penghasilan pasangan yang lebih tinggi, gaya hidup dan daya tarik fisik pasangan yang lebih baik daripada dirinya, bisa membuatnya merasa insecure. Hampir sepanjang waktu ia tidak merasa cukup atas dirinya sendiri dan selalu merasa kurang. Hal itu mendorongnya berselingkuh sebagai sebuah upaya mencari pembuktian diri serta supaya dirinya tidak disakiti (“Aku akan menyakiti mereka, sebelum mereka menyakitiku”).

Selain itu, Divine (2020) juga menyampaikan bahwa orang yang insecure, bisa masuk ke dalam perselingkuhan karena mereka terlalu takut untuk mengungkapkan kebutuhannya kepada pasangan. Mereka takut ditolak, takut diabaikan, takut tak didengarkan, merasa tak pantas/tak sepadan, sehingga kemudian lari kepada orang lain dan terjadilah perselingkuhan.

Sebab Perselingkuhan Suami menurut M. Gary Neuman

Gary Neuman adalah seorang konselor pernikahan dan pendeta. Dalam bukunya yang berjudul The Truth about Cheating: Why Men Stray and What You Can Do to Prevent It, ia menguraikan hasil penelitian yang dilakukan olehnya, serta rekomendasi strategi yang dapat dilakukan oleh istri supaya suaminya terhindar dari perselingkuhan.

Dalam buku tersebut Neuman menjelaskan bahwa perselingkuhan oleh seorang suami,tidak selalu berarti bahwa ia tidak mencintai istrinya. Sebagian besar suami yang berselingkuh adalah mereka yang merasa tidak puas dengan pernikahannya.

Perselingkuhan dan Ketidakpuasan Emosi

Menurut survei yang dilakukan oleh Neuman (2008), 12% suami mengatakan bahwa meski istri mereka melakukan atau tidak melakukan sesuatu, mereka akan tetap berselingkuh. Temuan ini menunjukkan adanya minoritas suami yang perilaku selingkuhnya memang sangat sulit diubah meski istrinya sudah memberikan segalanya untuknya.

Namun demikian, data tersebut juga menunjukkan adanya 88% (mayoritas suami) yang mempercayai bahwa perilaku selingkuhnya terkait dengan ketidakpuasan di dalam pernikahan. Dengan kata lain, ada yang bisa dilakukan oleh istri untuk mencegah terjadinya perselingkuhan.

Ketika ditanya mengenai ketidakpuasan pernikahan dalam hal apa yang mereka alami, 59% suami yang berselingkuh mengatakan bahwa mereka merasakan ketidakpuasan secara emosi, 29% merasakan ketidakpuasan secara seksual, dan 12% ketidakpuasan dalam hal lain.

Ketidakpuasan secara emosi yang dimaksud adalah, suami merasa bahwa istrinya menganggapnya selalu kurang. Pihak suami merasa sudah bekerja keras dan sudah melakukan banyak hal, namun di beberapa momen istrinya membuatnya merasa masih kurang ini dan itu, hingga si suami merasa tak mampu menjadi laki-laki yang utuh, merasa tidak berharga, dan merasa gagal membahagiakan istrinya.

Menurut Neuman (2008), jika pada situasi seperti itu si suami bertemu dengan wanita lain yang mampu mengapresiasi dirinya, yang mengatakan bahwa ia hebat, bahwa ia berharga, yang menunjukkan kepadanya apa-apa yang sudah dicapainya (bukan hanya apa yang belum tercapai), maka terbukalah pintu perselingkuhan itu.

Umumnya, pria diyakini sebagai makhluk seksual. Kebutuhan akan seks dituding sebagai yang paling bertanggung jawab atas perselingkuhan para suami. Laki-laki biasanya juga dianggap sebagai makhluk yang dingin dan kaku seperti batu, tak peka, atau tak terlalu mementingkan urusan perasaan/emosi sebagaimana wanita.

Akan tetapi, mayoritas dari mereka (seperti disebut dalam penelitian Neuman), justru mengatakan bahwa tidak terpenuhinya kebutuhan emosi adalah adalah sebab utama mengapa mereka berselingkuh dari pasangannya.

Jenis ketidakpuasan emosi yang dirasakan oleh suami yang berselingkuh adalah:

  • “Saya merasa kurang dihargai oleh istri dan ia tidak cukup peduli kepada saya.” (37%)
  •  “Saya merasa tidak terkoneksi secara emosi dengan istri saya.” (17%)
  • “Kurangnya komunikasi.” (11%)
  •  “Aku dan istriku tidak lagi sepemikiran.”(10%)
  • “Istri saya sering marah-marah.”(12%)

Melalui bukunya, Neuman bukan bermaksud menyalahkan para istri atas perselingkuhan yang dilakukan oleh suami. Neuman sepakat bahwa apapun alasannya, perselingkuhan tetap salah dan melanggar aturan. Akan tetapi, Neuman ingin mengajak para istri untuk mengupayakan apa yang bisa mereka lakukan untuk menjaga keselamatan rumah tangga.

Neuman menjelaskan bahwa para pria adalah makhluk emosional yang juga menginginkan kehangatan, kebaikan dan penghargaan dari pasangannya. Penghargaan dalam hal ini bukan berarti kata-kata pujian yang setiap hari diberikan, melainkan bahasa tubuh yang menunjukkan adanya penerimaan dan dukungan. Itu akan membuat suami merasa bahwa energi dan upaya yang sudah dilakukan selama ini disadari dan dihargai.

Neuman juga menemukan fakta dari penelitian yang dilakukannya bahwa hanya 12% dari laki-laki yang berselingkuh yang mengatakan bahwa selingkuhannya lebih menarik secara fisik dibanding istrinya. 88% mengatakan bahwa istrinya lebih cantik. Ini memberi rekomendasi kepada para istri supaya mereka tidak menghabiskan seluruh energinya di sana.

28% pria yang berselingkuh mengatakan bahwa yang membuat istri dan selingkuhannya berbeda adalah, selingkuhannya membuat ia merasa dicintai, diinginkan dan diapresiasi. Sedangkan 9% pria mengatakan bahwa, “Saya merasa terkoneksi dengannya (dengan selingkuhan) secara emosi,” Jika dijumlahkan, berarti ada 37% pria yang mengatakan bahwa perbedaan utama antara istri dan selingkuhannya adalah kesenangan emosi, baru kemudian pengalaman seks yang berbeda.

Pengaruh Teman dan Keluarga terhadap Perselingkuhan

Neuman (2008) menulis bahwa laki-laki yang berselingkuh biasanya juga memiliki teman atau keluarga yang berselingkuh. Hal itu karena lingkungan terdekatnya menciptakan atmosfer bahwa perselingkuhan adalah sesuatu yang biasa. Perselingkuhan seolah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Akibatnya, di dalam kepala pria tersebut terdapat ide tentang melakukan perselingkuhan sebagai sesuatu yang memungkinkan dan diperbolehkan.

Tanda Pria Akan Berselingkuh

Menurut Neuman (2008) tanda bahwa pria akan berselingkuh dapat dilihat dari beberapa perubahan perilaku berikut:

  • Ia menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah. Ini menjadi tanda supaya para istri mencari tahu apa yang terjadi dengan suaminya, adakah kekecewaan yang mereka rasakan dalam hidup, yang membuat mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.
  • Jarang melakukan seks. Menjaga konsistensi dan frekuensi hubungan seksual dengan pasangan adalah hal yang penting untuk menciptakan pernikahan yang sehat.
  • Suami sering menghindari kontak dengan istri, sulit atau menolak untuk dihubungi, berusaha menghindar dan tidak mau mengisi waktunya dengan berkegiatan bersama istri.
  • Menjadi jauh lebih sering mengkritik istri.
  • Semakin sering memulai pertengkaran dengan istri.

“Selingkuh membuat pria merasa bersalah. Tapi rasa bersalah tidak cukup untuk menghentikan mereka.” — M. Gary Neuman

Perselingkuhan Menurut Kenneth Paul Rosenberg

Rosenberg (2018) menjelaskan bahwa perselingkuhan terjadi karena seseorang hanya menghabiskan sedikit waktu bersama orang yang benar-benar nyata, hadir dan hidup bersamanya. 

Ia terlalu banyak menghabiskan waktu bersama dengan orang yang datang dari kerinduannya yang paling dalam, yang ada dalam bayangannya, dalam fantasinya, dalam harapan/ekspektasinya, dan dalam ketakutan-ketakutannya.

“Perselingkuhan dibangun bukan dari tempat tidur, tetapi dari pikiran.” — Kenneth Paul Rosenberg

Menurut Rosenberg (2018) orang yang berselingkuh sangat sibuk dengan representasi internal (bayangan) atas orang baru yang masuk ke kehidupannya, hingga ia “lupa” kepada pasangan sebenarnya yang telah dimiliki di dunia nyata.

Rosenberg (2018) juga mengungkapkan bahwa desire (hasrat/keinginan) adalah mesin dari perselingkuhan. Ia kemudian menjelaskan bagaimana desire bisa mendorong seseorang melakukan perselingkuhan. Dua dari beberapa penjelasan itu adalah sebagai berikut.

Pertama, desire didapat dari kebaruan. Orang yang berselingkuh tidak selalu memiliki pasangan resmi yang bersikap atau berperilaku buruk. Sebagian orang yang berselingkuh sebenarnya sudah memiliki pasangan resmi yang baik dan sesuai dengan kriteria mereka.

Akan tetapi, keinginan akan sesuatu yang baru menjerumuskan mereka ke dalam perselingkuhan. Ketika manusia mendapatkan sesuatu yang baru, otak akan melepas dopamin dan merangsang sistem limbik (bagian otak yang bertanggung jawab atas emosi manusia). Ini akan membuat manusia ingin mendapatkannya lagi dan lagi.

Hal tersebut menjelaskan mengapa sebagian orang terus berganti-ganti pasangan, bahkan sampai menggunakan jasa perempuan sewaan atau PSK yang berbeda-beda. Orang seperti ini terus menginginkan orang baru. Dopamin yang mereka dapat dari kebaruan itu telah mendominasi dan mengambil alih kemampuan frontal lobe (bagian otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan).

Kedua, desire didapat dari sensasi (thrill). Alasan mengapa orang yang berselingkuh melihat selingkuhannya sangat menarik adalah karena hubungan dengannya bersifat rahasia dan dilarang. Sensasi yang dirasakan dari kerahasiaan dan larangan dapat menimbulkan gairah dan ketertarikan.

Dalam eksperimen The Shaky Bridge Study, dibuat dua jembatan yang dibangun di atas sebuah sungai di Kanada. Satu jembatan dibuat kokoh dan rendah sehingga tidak bergoyang jika ditiup angin, sedangkan jembatan lainnya dibuat lebih tinggi dengan bahan hanya papan kayu, sehingga akan bergoyang jika ditiup angin.

Di kedua jembatan itu, setiap laki-laki yang berjalan sendirian akan didekati oleh wanita yang mengajaknya berkenalan dan memberikan nomor handphone. Para peneliti menyimpulkan bahwa pria-pria yang melewati jembatan goyang lebih mungkin menerima nomor telepon si wanita, menghubunginya, dan mengajaknya berkencan.

Apa yang ingin dibuktikan oleh penelitian tersebut? Para pria yang berjalan di jembatan goyang merasakan sensasi cemas, takut atau senang. Mereka menyalahartikan sensasi itu sebagai ketertarikan seksual terhadap wanita yang mereka jumpai, padahal itu adalah sensasi dari melewati jembatan yang mengerikan.

Pesan yang dapat kita petik dari eksperimen tersebut adalah, kita perlu berhati-hati dengan diri kita sendiri. Tidak jarang kita mempersepsi sesuatu dengan keliru! Termasuk saat bertemu orang baru dan merasa bahwa kita tertarik kepada dirinya. Mungkin saja itu sebenarnya adalah sensasi yang dihasilkan oleh sebab yang lain (misalnya pengaruh situasi, suasana yang mendukung, dsb.)

Dalam bukunya Infidelity Why Men and Women Cheat, Rosenberg juga mengingatkan pria dan wanita agar berhati-hati dalam menjalin pertemanan, apalagi yang diklaim sebagai persahabatan. Ia menanyakan, “Benarkah pria dan wanita bisa berteman tanpa melibatkan perasaan (ketertarikan)?”

Ia mulanya sangat yakin bahwa pria dan wanita juga bisa menjadi teman baik, sebagaimana mereka masing-masing memiliki teman baik yang sejenis. Namun pada akhirnya, ia harus menelan keyakinan itu dan mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan memang bisa berteman baik. Namun ketika mereka berdua mulai sama-sama tertarik satu dengan lainnya, sudah pasti bisa ditebak ke mana arahnya.

Pertemanan laki-laki dan perempuan bisa menjerumuskan mereka ke dalam emotional affair yang bukan tidak mungkin berlanjut kepada sexual affair. Emotional affair adalah bahaya yang sering tak disadari karena tak jelas ukuran atau batasannya.

Rosenberg (2018) menulis bahwa pertemanan antara pria dan wanita menjadi berbahaya jika:

  • Pertemanan itu dirahasiakan dari pasangan yang sebenarnya.
  • Dalam pertemanan itu laki-laki dan perempuan saling mengeluh tentang pasangan masing-masing.
  • Hubungan pertemanan itu bersaing dengan atau bahkan merusak hubungan utama dengan pasangan yang sebenarnya.

“Mengetahui kebenaran itu mudah, yang sulit adalah menjadi benar.” — Hazrat Inayat Khan

Semoga, kita semua diberikan kekuatan untuk menjaga kesetiaan.

Saya adalah blogger dan penulis lulusan S1 Psikologi Universitas Airlangga. Selain menulis saya juga aktif sebagai asisten psikolog di Pusat Layanan Psikologi BE Psychology.