Teori Psikologi tentang Trauma

Kita bukan robot. Inilah alasan kenapa kita bisa merasa terkejut, takut, bahkan sampai sulit melepaskan diri dari bayang-bayang suatu kejadian atau lebih, yang datang dari masa lalu.

Meski trauma sering menjadi beban bagi manusia, sebenarnya trauma itu sendiri menunjukkan kepadanya kemanusiaannya. Trauma menunjukkan bahwa kita adalah manusia, yang mampu merasa. Kita adalah manusia yang memiliki kelebihan, tetapi juga keterbatasan.

Mari, simak lebih lanjut bagaimana psikologi menjelaskan trauma yang dialami oleh manusia!

Definisi Trauma dan Penyebabnya

Raja (2012) menjelaskan bahwa orang sering menganggap sama antara istilah “traumatic” dengan “stressful”, padahal keduanya berbeda. Peristiwa yang penuh tekanan contohnya adalah saat orang terjebak kemacetan atau saat diberhentikan dari pekerjaan. Pengalaman tersebut merupakan stressful life event atau kejadian yang membuat orang merasa tertekan. Sedangkan pengalaman traumatis disebabkan oleh kejadian yang mengancam hidup manusia seperti:

  • Mengalami atau menyaksikan kecelakaan atau hilangnya nyawa seseorang.
  • Mengalami atau menyaksikan keadaan yang mana keamanan fisik diri sendiri atau orang lain, dalam keadaan terancam.
  • Merasa sangat takut dan tidak berdaya terhadap suatu kejadian yang sudah dialami.

Tidak semua kejadian traumatis pasti menghasilkan trauma pada manusia. Trauma dapat terjadi apabila terdapat perbedaan yang signifikan antara besarnya ancaman pada sebuah situasi dengan kekuatan individu untuk menghadapinya (coping ability).

Hal itu membuat kita tidak dapat menggeneralisasi antara satu orang dengan lainnya. Dalam menghadapi suatu peristiwa yang sama, manusia akan merespon dengan cara yang berbeda-beda. Mereka juga berjuang menghadapinya dengan sumber daya atau kemampuan yang berbeda pula.

Para peneliti menyebut bahwa trauma bukan pengalaman situasional, melainkan proses sosial-psikologi yang panjang dan berkembang seiring waktu. Orang disebut mengalami trauma jika ia mengalami gejala tertentu bukan hanya pada saat pengalaman traumatis dihadapi, tetapi juga dalam rentang waktu yang cukup panjang setelah berlalunya peristiwa itu.

Dalam trauma, situasi yang mengancam dan tidak terprediksi secara tiba-tiba dan signifikan mengganggu kemampuan individu untuk menyesuaikan diri (menjadi maladaptif) selama beberapa waktu (Sar & Ozturk, 2006).

Beberapa contoh pengalaman traumatis antara lain adalah, pelecehan seksual, kekerasan pada anak, kekerasan dalam rumah tangga, pembunuhan, kekerasan di jalanan, peperangan, kecelakaan, kebakaran dan bencana alam.

Siklus Pengalaman Traumatis

Dalam buku Overcoming Trauma and PTSD: A Workbook Integrating Skills from ACT, DBT, and CBT, Raja (2012) menjelaskan bahwa sebagian orang mengalami kejadian traumatis secara berulang. Hal tersebut dapat terjadi karena pengalaman traumatis terdahulu yang belum terselesaikan membuat mereka merasa kesepian, memiliki trust issues, terisolir, dan semakin rentan secara psikis.

Orang-orang tersebut memiliki risiko lebih besar untuk mengalami trauma kembali pada perkembangan hidup di masa berikutnya. Mereka juga lebih rentan mengembangkan kemampuan koping (kemampuan menghadapi tekanan) yang tidak sehat, seperti mengonsumsi obat terlarang, alkohol, hingga terlibat perilaku seks berisiko yang pada akhirnya juga dapat membuka peluang terjadinya pengalaman traumatis berikutnya.

Post Traumatic Stress Disorder

PTSD adalah reaksi yang umum dialami oleh seseorang yang menghadapi peristiwa traumatis. Akan tetapi, orang yang mengalami kejadian traumatis tidak selalu mengalami gangguan PTSD. Perbedaan tersebut disebabkan oleh banyak faktor, misalnya faktor internal dari orang yang mengalami serta faktor eksternal seperti adanya social support.

Orang dengan PTSD biasanya merasakan ketakutan dan perasaan tak berdaya yang sangat kuat/besar dalam dirinya. Gejala-gejala yang mungkin dialami oleh orang dengan PTSD adalah re experiencing, avoidance, serta kecemasan yang konsisten (Raja, 2012).

Re experiencing

Orang dengan PTSD sering merasa seolah-olah mengalami kembali peristiwa traumatis itu misalnya dalam bentuk mimpi buruk atau mengalami kilas balik ingatan yang terasa sangat mengganggu. Pada saat tertentu mereka mungkin juga merasa bahwa kejadian itu begitu nyata, seperti terulang kembali.

Akibatnya, orang yang mengalami menjadi sangat tertekan secara fisik maupun emosi. Merema mengalami hal-hal seperti, jantung berdegup kencang, menangis secara tidak terkendali, serta merasa sangat takut dan cemas.

Avoidance

Penghindaran adalah salah satu respon yang mungkin ditunjukkan oleh orang yang mengalami trauma. Ia merasa bahwa suatu kejadian sangat menyakitkan, sehingga tidak mau mengingatnya dan berusaha menghindarinya.

Avoidance atau penghindaran ditunjukkan olehnya dengan tidak mau membicarakan kejadian traumatis atau pun memikirkannya. Mereka juga berusaha menghindari tempat atau orang tertentu yang terkait dan dapat mengingatkannya dengan kejadian traumatis yang dialami.

Pada sebagian orang, upaya penghindaran ini sangat kuat dalam dirinya, hingga mereka tidak dapat mengingat hal-hal penting pada kejadian traumatis yang dialami. Dengan kata lain, lupa menjadi mekanisme pertahanan diri. Mereka tidak secara sengaja melupakannya, tetapi mekanisme psikisnyalah yang membuat sebagian orang tersebut menjadi lupa.

Hal itu perlu menjadi perhatian kita bersama. Sebagian orang belum memahami, dan sebagian lagi menganggap orang lain berbohong jika mengatakan bahwa dirinya lupa dengan beberapa hal di dalam peristiwa traumatis yang dialami.

Terdapat kemungkinan bahwa mereka memang lupa, sehingga kita perlu berempati serta berusaha tidak menambah tekanan dengan memaksa mengingat apalagi dengan menuduh bahwa mereka sedang berbohong.

Hal lain yang dapat dialami oleh orang dengan PTSD adalah merasa kurang tertarik untuk melanjutkan hidup, sulit merasakan kesenangan atau emosi positif, kehilangan harapan serta berpikir bahwa tidak mungkin akan ada kejadian baik di masa mendatang.

Terus Merasa Cemas atau Terancam

Hampir sepanjang waktu merasa cemas, tegang atau terancam juga merupakan salah satu gejala yang dialami orang dengan PTSD. Hal tersebut membuatnya menjadi sulit tidur dan sulit berkonsentrasi.

Sebagian orang juga menjadi sangat mudah marah atau sangat sensitif. Orang yang mengalami PTSD juga dapat mengalami gejala berupa perasaan selalu was-was sehingga ia berusaha mengawasi lingkungan sekitar untuk mendeteksi kemungkinan adanya bahaya. Mereka kemudian menjadi mudah terkejut atau sangat reaktif dengan suara atau perubahan lain yang mendadak di lingkungan sekitarnya.

Kenapa Sulit Melupakan Kejadian Traumatis?

Raja (2012) menjelaskan bahwa memori tentang kejadian traumatis sangat sulit dilupakan karena pengalaman itu sangat bermuatan emosi dan berlawanan dengan keyakinan/pikiran (belief) yang sebelumnya kita miliki.

Beberapa belief yang mungkin kita miliki tentang dunia antara lain:

  • Dunia ini pada dasarnya adalah tempat yang aman.
  • Hidup itu dapat diprediksi.
  • Kejadian yang buruk tidak mungkin dialami oleh orang yang baik.
  • Hal-hal yang sangat buruk mungkin dialami oleh orang lain, bukan diriku.

Kejadian traumatis yang dialami oleh seseorang kemudian menghantam pemikiran-pemikiran di atas. Kejadian traumatis menghasilkan pertentangan atau konflik antara apa yang dipikirkan sebelumnya dengan realita.

Kejadian traumatis memaksanya mengerti bahwa dunia dan hidup ini ternyata tidak selalu seperti yang dipikirkan sebelumnya. Ini juga menjelaskan mengapa memori tentang kejadian traumatis muncul berulang kali.

Kemunculan bayangan pengalaman traumatis dalam pikiran merupakan upaya mencari jawaban atau memahami mengapa suatu kejadian buruk bisa terjadi. Pikiran manusia berusaha mencari penjelasan atas pertanyaan tersebut sehingga ia terus mengingat kejadian buruk yang dialaminya.

Jika orang tersebut tidak menemukan jawaban, atau tetap tidak bisa memahami mengapa sesuatu terjadi pada dirinya, berkembanglah rasa cemas, sangat sedih, malu, atau merasa bersalah.

Alasan lain mengapa pengalaman traumatis itu sangat sulit dilupakan adalah karena memori tentang trauma memang diproses dengan sistem yang berbeda dengan sistem mengingat pada umumnya.

Kejadian traumatis diproses oleh pikiran secara tidak sadar sehingga kita juga hanya memiliki sedikit kontrol terhadapnya. Sedangkan ketika manusia mengingat hal lain yang bukan kejadian traumatis, ia mengingatnya (memasukkan informasi) secara sadar, sehingga lebih mudah pula mengendalikannya (Raja, 2012).

Cara Menghadapi Pengalaman Traumatis

Bangkit dari keterpurukan setelah menghadapi pengalaman traumatis adalah hal yang sangat mungkin dilakukan. Manusia memiliki kapasitas untuk melenting atau menjadi resilien setelah menghadapi tekanan, kesulitan, atau peristiwa berat lainnya.

Raja (2012) menjelaskan bahwa manusia tidak boleh membiarkan dirinya didikte oleh gejala-gejala trauma yang dialaminya. Manusia tidak boleh membiarkan hidupnya dikendalikan oleh gejala-gejala tersebut. Manusia perlu memahami kondisinya, kemudian mencari cara untuk menghadapinya.

Beberapa cara yang dapat ditempuh agar seseorang mampu menghadapi kejadian traumatis menurut Raja (2012) adalah:

  • Membuka diri dengan keluarga atau teman yang dapat mendukung atau berperan sebagai social support.
  • Saling menguatkan dengan sesama orang yang pernah mengalami kejadian traumatis serupa.
  • Berusaha memaknai kehidupan dan menemukan tujuan hidup.
  • Meyakinkan diri bahwa ia akan mampu menghadapi tantangan dalam hidup (mengembangkan sense of mastery).
  • Tetap melakukan rutinitas atau tetap melakukan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari.
  • Mengikuti terapi apabila merasakan gejala yang mengganggu/menghambat hidup.
  • Mencari strategi tertentu yang sesuai untuk menghadapi, bukan menghindari ketakutan yang dirasakan.

Mengenal Cognitive Behavior Therapy untuk Menghadapi PTSD

Tidak ada salahnya jika orang memutuskan untuk mencari bantuan saat ia menghadapi suatu persoalan. Begitu pula jika ia memutuskan untuk berkonsultasi dengan ahli dalam upaya menghadapi trauma. Itu menunjukkan bahwa ia adalah orang yang jujur pada diri sendiri, mencintai diri, dan pemberani.

Salah satu penanganan yang mungkin diberikan oleh ahli dalam membantu klien menghadapi pengalaman traumatisnya adalah cognitive behavior therapy (CBT). Apa itu CBT?

Berikut adalah beberapa asumsi dasar yang merupakan pijakan dalam proses CBT yang disebutkan dalam Raja (2012):

  1. Pikiran, perasaan, emosi dan reaksi fisik saling berkaitan. Jika kita mampu mengubah salah satunya, kita akan menghasilkan perubahan pada aspek yang lain.
  2. Perubahan terjadi dengan langkah-langkah kecil, bukan dalam sekejap.
  3. Perubahan perilaku adalah sebuah keterampilan. Ini memerlukan latihan/praktik/pembiasaan/benar-benar dilakukan, bukan hanya dipikirkan.
  4. Menilai perilaku kita sendiri sebagai “baik atau buruk” tidak akan mengubah apa-apa. Akan lebih berguna jika kita memikirkan tentang bagaimana caranya agar perilaku kita menjadi lebih sesuai dengan tujuan keseluruhan yang ingin dicapai. Bedakanlah perilaku berdasarkan “bermanfaat atau tidak bermanfaat” atau “menyehatkan atau tidak menyehatkan.”

Dalam proses CBT, klien dan terapis akan bekerjasama dalam percakapan/diskusi yang bertujuan memampukan klien memahami dan menghadapi pikiran-perasaan-perilakunya, serta melakukan penugasan (pembiasaan aktivitas-aktivitas dalam kehidupan sehari-hari), yang diharapkan akan membuat kesejahteraan mentalnya meningkat.

Saya adalah blogger dan penulis lulusan S1 Psikologi Universitas Airlangga. Selain menulis saya juga aktif sebagai asisten psikolog di Pusat Layanan Psikologi BE Psychology.