4 Tokoh Psikologi Kognitif

Berkembangnya aliran psikologi kognitif adalah momen kembali dipertimbangkannya proses mental manusia sebagai salah satu pokok kajian dalam ilmu psikologi. Proses mental, pikiran dan kesadaran, dulu sempat terabaikan dari psikologi karena dianggap tidak ilmiah.

Proses mental tidak dapat diamati, tidak dapat diukur dan tidak terpisah dari pengamatnya (manusia mengamati sesuatu di dalam dirinya sendiri). Hal-hal tersebut membuat mental-pikiran-kesadaran, dianggap sebagai sesuatu yang mengawang, sesuatu yang tidak sejalan dengan semangat keilmuan pada saat itu yang mekanistik dan deterministik.

Ilmuwan psikologi juga berupaya mengikuti kriteria keilmuan tersebut dengan mengarahkan fokus kajian psikologi kepada objek yang tampak, yang bisa diamati, dan terpisah dari pengamatnya, yaitu perilaku (behavior).

Perlu waktu panjang hingga ilmu pengetahuan berevolusi. Para ilmuwan modern akhirnya tidak lagi berupaya keras memisahkan dirinya dari apa yang mereka amati/kaji/teliti. Mereka menempatkan diri sebagai partisipan-observer (pengamat yang ikut terlibat pada apa yang mereka amati).

Mereka juga menyadari bahwa konsep ideal atas pengetahuan yang sebelumnya diyakini, yaitu bahwa pengetahuan diperoleh dari realitas yang objektif, tidak dapat dipertahankan. Pengetahuan yang dianggap objektif, sebenarnya adalah subjektif, karena setiap orang mempersepsi/memaknai informasi dengan caranya masing-masing.

Dengan demikian, proses mental manusia mendapat pengakuan bahwa ia memiliki peran yang penting agar kita mampu memahami dunia. Pergeseran semangat zaman tersebut juga mempengaruhi psikologi untuk kembali menerima pikiran-kesadaran-proses mental, sebagai pokok kajiannya.

Psikologi kemudian didefinisikan kembali, bukan hanya sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia, tetapi juga proses mentalnya.

Jadi, siapa tokoh yang berjasa mengembangkan aliran psikologi kognitif?

Schultz & Schultz (2011) menyebutkan bahwa tidak ada tokoh utama/tunggal dalam psikologi kognitif. Kemungkinan hal itu karena tidak ada psikolog yang bekerja dalam bidang psikologi kognitif, yang memiliki ambisi pribadi untuk memimpin sebuah pergerakan baru. Keinginan mereka sederhana, yaitu bekerja untuk mendefinisikan kembali psikologi.

Sejarah mencatat, terdapat dua orang yang bukan founder psikologi kognitif, namun mereka memiliki kontribusi besar dalam meletakkan dasar bagi kajian psikologi kognitif dalam bentuk pusat penelitian dan buku-buku. Mereka adalah George Miller dan Ulric Neisser.

Berikut adalah informasi penting tentang mereka berdua dan beberapa tokoh lain yang memiliki kontribusi terhadap psikologi kognitif.

George Miller

George Miller adalah tokoh psikologi kognitif yang mendapatkan gelar master dari University of Alabama, jurusan Bahasa Inggris dan wicara pada tahun 1941. Selama di sana, ia juga belajar psikologi dan sempat mengajar mata kuliah pengantar psikologi meski ia tidak pernah secara formal mempelajari itu.

Kemudian Miller pergi ke laboratorium psikoakustik Harvard University untuk meneliti tentang masalah-masalah dalam vocal communication. Pada 1951, ia mempublikasikan buku dalam bidang psikolinguistik berjudul Language and Communication.

Pada pertengahan tahun 1950, setelah menyelidiki tentang teori pembelajaran statistik, teori informasi, dan model pikiran berdasarkan komputer, Miller merasa terkesan dengan kemiripan antara cara kerja pikiran manusia dengan komputer. Sejak saat itu, pandangannya terhadap psikologi menjadi lebih berorientasi kognitif.

Pada 1956 Miller mempublikasikan artikel dengan judul “The Magical Number Seven, Plus or Minus Two: Some Limits on Our Capacity for Processing Information”. Dalam karya tersebut Miller menunjukkan bahwa kapasitas kesadaran kita untuk mengingat angka dalam jangka pendek (atau dalam mengingat kata dan warna) terbatas kira-kira tujuh buah informasi.

Karya tersebut menjadi sesuatu yang sangat penting dan berdampak karena berfokus membahas kesadaran dan pengalaman kognitif, ketika behaviorisme masih mendominasi psikologi pada masa itu.

Bersama dengan Jerome Bruner, Miller membuat pusat penelitian untuk mengkaji tentang pikiran manusia yang disebut dengan Center for Cognitive Studies. Para peneliti di pusat penelitian ini meneliti topik-topik seperti: bahasa, memori, persepsi, pembentukan konsep, pemikiran dan psikologi perkembangan.

Miller kemudian juga mendirikan jurusan cognitive sciences di Princeton University, menjadi Presiden APA pada 1969, dan menerima banyak penghargaan atas kontribusinya dalam mengembangkan psikologi.

Ulric Neisser

Ulric Neisser adalah tokoh psikologi kognitif yang awalnya kuliah di jurusan fisika, Harvard University. Akan tetapi ia merasa tidak suka dengan fisika dan justru merasa terkesan dengan seorang profesor psikologi muda bernama George Miller.

Neisser kemudian memutuskan untuk beralih ke jurusan psikologi dan belajar teori komunikasi dan informasi bersama Miller. Neisser juga menceritakan bahwa pemikirannya dipengaruhi oleh psikologi gestalt. Ia menempuh pendidikan master di Swarthmore College bersama psikolog gestalt bernama Wolfgang Kohler lalu kembali ke Harvard University dan mendapat gelar Ph.D. pada 1956.

Pada masa itu, Neisser sangat tertarik dengan pendekatan psikologi kognitif yang sedang tumbuh. Ia cukup beruntung karena karir akademiknya dimulai dengan bekerja di Brandeis University, yang mana program studi psikologi saat itu dikepalai oleh Abraham Maslow.

Abraham Maslow yang saat itu sedang mengembangkan psikologi humanistik, tidak berhasil membuat Neisser menjadi psikolog humanistik atau pun membuat psikologi humanistik diakui. Meski demikian, Maslow memberi ruang kepada Neisser untuk menyalurkan minatnya kepada psikologi kognitif.

Pada 1967 Neisser menerbitkan buku Cognitive Psychology yang kemudian menjadi sangat terkenal hingga membuat Neisser merasa malu, karena disebut sebagai bapak psikologi kognitif. Buku tersebut berisi tentang siapa dirinya dan ingin menjadi psikolog seperti apa ia.

Pada 1976 Neisser kembali menerbitkan buku berjudul Cognition and Reality yang berisi tentang kekecewaan dirinya terhadap sempitnya psikologi kognitif serta kecenderungan terhadap seting laboratorium daripada seting di dunia nyata untuk mengumpulkan data.

Ia menekankan bahwa hasil penelitian psikologi juga harus memiliki validitas ekologis (harus bisa digeneralisasi dalam kehidupan nyata, bukan hanya berlaku dalam konteks laboratorium). Neisser juga menyampaikan bahwa psikolog kognitif harus bisa menerapkan penemuan mereka untuk memecahkan masalah praktis, membantu orang menyelesaikan permasalahan sehari-hari dalam konteks pekerjaan dan kehidupan.

Jean Piaget

Jean Piaget adalah tokoh psikologi kognitif yang berasal dari Swiss. Piaget mempelopori penelitian sistematis terhadap pembentukan pemahaman pada anak-anak. Ia adalah tokoh penting yang mengungkapkan teori perkembangan kognitif. Piaget merumuskan teorinya dengan melakukan observasi atau pengamatan terhadap ketiga anaknya sendiri, juga observasi dan wawancara dengan anak-anak lainnya.

Piaget awalnya tertarik dengan zoologi dan filsafat sebelum akhirnya tertarik mempelajari psikologi. Di Paris, Piaget sempat memberikan tes membaca kepada siswa di sekolah. Pengalaman itu membuatnya tertarik untuk melakukan eksplorasi tentang proses penalaran pada anak. Dari sana, ia mulai mempublikasikan karyanya dalam bidang psikologi.

Piaget menjelaskan bahwa faktor biologis yang berinteraksi dengan pengalaman, menghasilkan perkembangan kognitif. Menurut Piaget, sama seperti tubuh yang mempunyai struktur yang memampukan kita untuk beradaptasi dengan dunia, kita juga membangun struktur mental untuk menyesuaikan diri dengan dunia (Santrock, 2011).

Piaget menekankan bahwa anak-anak secara aktif membangun pikiran mereka sendiri tentang lingkungan sekitar. Informasi tidak hanya dimasukkan ke dalam pikiran mereka begitu saja, melainkan merekalah yang secara aktif membangun pemahamannya (ada proses mengolah informasi/menalar yang dilakukan oleh anak).

Piaget memandang bahwa anak-anak secara terus menerus menciptakan dan menciptakan kembali realitas, mencapai perkembangan mental dengan menyatukan konsep-konsep sederhana menjadi konsep yang lebih kompleks pada setiap tahap perkembangan.

Piaget berusaha mencari tahu tentang apa yang dipikirkan oleh anak-anak pada tahap tertentu dan bagaimana pikiran anak-anak bisa berkembang. Beberapa konsep penting yang dijelaskan oleh Piaget adalah:

  • Skema (tindakan/perilaku maupun representasi mental yang mengorganisasi pengetahuan).
  • Asimilasi (terjadi ketika seorang anak menggunakan skema yang sudah mereka miliki sebelumnya untuk menghadapi informasi atau pengalaman baru).
  • Akomodasi (terjadi ketika anak menyesuaikan skemanya dengan informasi atau pengalaman baru).
  • Organisasi (adalah pengelompokan tindakan dan pengetahuan di dalam pikiran).
  • Ekuilibrium (kondisi setimbang, ketika konflik kognitif pada anak terselesaikan, terbentuknya pemahaman).
  • Ekuilibrasi (pergeseran anak dari satu tahap ke tahap perkembangan berikutnya).

Piaget menjelaskan bahwa pengetahuan dibentuk dengan proses adaptasi (mencakup asimilasi dan akomodasi) dan organisasi yang terjadi secara terus menerus.

Selain itu, Piaget juga menjelaskan bahwa dalam dua tahun pertama kehidupan, anak-anak berada di sensorimotor stage yaitu tahap yang mana anak belajar dengan menggunakan refleks fisik yang dimilikinya dan menggunakannya untuk mendapatkan kesenangan.

Pada tahap perkembangan sensorimotor, anak menyadari bahwa dirinya adalah entitas fisik yang terpisah dari lingkungannya dan menyadari bahwa objek di sekitarnya juga memiliki eksistensi sendiri yang terpisah dari dirinya. Setelah itu, anak akan memasuki tahap perkembangan berikutnya, yaitu tahap pra operasional hingga mencapai tahap operasional formal. 

Jerome Bruner

Jerome Bruner adalah salah satu psikolog kognitif yang sangat berpengaruh. Bruner terkenal karena kontribusinya terhadap teori pembelajaran kognitif dan psikologi kognitif  dalam bidang psikologi pendidikan.

Bruner belajar psikologi di Duke University kemudian melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di bidang psikologi, Harvard University. Karir akademiknya dimulai sebagai profesor psikologi khususnya di bidang psikologi pendidikan dan kognitif di Harvard University.

Melalui serangkaian eksperimen, Bruner mengidentifikasi bahwa sensasi dan persepsi adalah proses yang aktif, bukan pasif. Bruner menjelaskan bahwa pikiran yang cerdas diperoleh dari mengalami serangkaian pengkodean data. Ketika manusia mengalami sesuatu, maka pengalaman itu menjadi data yang akan membangun pengetahuannya.

Bruner juga melakukan penelitian tentang tahap perkembangan kognitif anak yang terdiri atas tiga tahap yaitu:

  • Tahap enaktif (usia 0-1 tahun)

Pada tahap enaktif anak mengetahui sesuatu melalui tindakan. Anak menyentuh atau menggunakan secara langsung suatu objek tanpa memiliki bayangan atau pemahaman apapun tentang objek itu sebelumnya.

Contohnya, bayi menggoyangkan mainan yang bisa berbunyi dan mendengarkan suaranya. Ia mengenali suara itu sebagai sesuatu yang menyenangkan tanpa memahami bahwa yang sedang berbunyi adalah mainan. Suatu hari, ia mungkin saja menggoyangkan tangannya dan berharap tangannya akan berbunyi. Ia belum paham bahwa untuk menghasilkan bunyi, ia perlu memegang mainan di tangannya.

  • Tahap ikonik (usia 1-6 tahun)

Pada tahap ikonik anak telah memiliki gambaran internal. Ia sudah bisa membayangkan atau memvisualisasikan suatu objek di dalam pikiran. Contohnya, anak mampu membuat gambar bola, boneka, pohon dsb. sesuai dengan bentuk yang dibayangkan olehnya.

  • Tahap simbolik (usia 7 tahun ke atas)

Pada tahap simbolik, anak sudah mampu memahami simbol-simbol dan konsep abstrak. Di tahap ini, informasi sudah dikumpulkan dan membentuk kode atau simbol misalnya dalam bentuk bahasa. Setiap simbol terhubung dengan sesuatu yang direpresentasikan atau diwakili olehnya.

Contohnya, anak memahami bahwa kata ayam adalah simbol bagi hewan berkaki dua yang biasanya disantap sebagai lauk yang sedap. Anak mampu memahami makna di balik kata ayam, meski saat itu tidak ditunjukkan di hadapannya seekor ayam.

Bruner meyakini bahwa semua proses belajar terjadi melalui tiga tahap tersebut. Bruner juga menjelaskan bahwa pembelajaran harus dimulai dengan mencoba secara langsung suatu objek. Ia menekankan pentingnya pengalaman terhadap pembelajaran.

Mencoba atau mengalami sesuatu akan mendorong terjadinya discovery learning. Discovery learning adalah konsep yang dijelaskan oleh Bruner bahwa proses belajar akan lebih bermakna jika seseorang didukung untuk menemukan sendiri informasi, bukan diberikan oleh orang lain.

Konsep ini bukan mengatakan bahwa individu harus benar-benar menemukan suatu informasi yang baru, melainkan menekankan agar individu mampu mencapai pemahaman dengan penalarannya sendiri.

Terdapat dua tipe discovery learning yaitu:

  • Unstructured Discovery

Unstructured discovery timbul dalam seting alami yang mana siswa membangun pemahaman mereka sendiri seperti seorang ilmuwan yang melakukan penemuan unik dalam proyek penelitian.

  • Guided Discovery

Guided discovery terjadi dengan cara guru memberikan gambaran tentang tujuan belajar yang ingin dicapai. Guru menyusun informasi itu sedemikian rupa, sehingga polanya bisa ditemukan, kemudian guru membimbing siswa mencapai tujuan.

Selain discovery learning, Bruner juga menjelaskan konsep spiral curriculum. Bruner meyakini bahwa semua anak mampu memahami informasi yang kompleks. Menurutnya, pelajaran apapun dapat diajarkan secara efektif kepada anak mana pun, di tahap perkembangan manapun.

Hal itu dapat dilakukan dengan menerapkan spiral curriculum, yaitu mengajarkan sesuatu yang kompleks secara bertahap, dengan cara menyusun informasi dimulai dari bentuk yang telah disederhanakan hingga ke bentuk yang lebih kompleks. Suatu pelajaran akan diajarkan dengan tingkat kesulitan yang meningkat secara bertahap.