3 Tokoh Teori Humanistik

Arah kajian psikologi terus berkembang seiring waktu. Hal itu memunculkan aliran-aliran psikologi, yang mana setiap aliran memiliki cara pandang dan penekanan penjelasan yang berbeda dan atau saling melengkapi, dalam memahami psikologi manusia.

Apa Itu Psikologi Humanistik?

Psikologi humanistik adalah salah satu aliran psikologi yang menekankan pada kekuatan dan sisi positif manusia, kesadaran, kehendak bebas (free will), pemenuhan potensi manusia, dan sebuah keyakinan terhadap keutuhan sifat manusia (Schultz & Schultz, 2011).

Gagasan inti dari psikologi humanistik adalah manusia dapat secara sadar dan bebas membentuk hidupnya. Manusia bukan objek, melainkan subjek atas kehidupan.

Schultz & Schultz (2011) menjelaskan bahwa psikologi humanistik adalah aliran psikologi yang merefleksikan ketidakpuasan, yang menyuarakan perlawanan terhadap aspek mekanistik dan materialistik dalam budaya barat pada tahun 1960-an.

Pada masa itu, anak-anak muda menciptakan budaya tandingan yang disebut dengan hippies. Kelompok hippies memiliki pemikiran yang sejalan dengan psikologi humanistik yaitu: berfokus pada personal fulfillment, keyakinan terhadap kesempurnaan manusia, penekanan terhadap masa kini (present) dan kecenderungan terhadap keterbukaan diri (kebebasan untuk menyampaikan pendapat) dan upaya untuk lebih menghargai perasaan daripada penalaran dan akal.

Bagi psikolog humanistik, aliran psikologi yang sudah ada sebelumnya (psikologi behavioral) itu terlalu sempit, dibuat-buat dan tidak alami dalam memahami manusia. Psikologi behavioral yang berfokus pada perilaku yang tampak, tidak manusiawi bahkan membuat status manusia menjadi seperti hewan dan mesin.

Psikolog humanistik menyatakan bahwa manusia lebih kompleks daripada tikus laboratorium atau robot. Manusia juga tidak bisa diobjektifikasi, diukur dan disederhanakan menjadi seperangkat stimulus-respon, sebagaimana yang dilakukan dalam aliran psikologi behavioral.

Behaviorisme bukan satu-satunya target psikolog humanistik. Psikolog humanistik juga menentang kecenderungan deterministik (paham yang menyatakan bahwa sesuatu terjadi karena memang harus terjadi, sebagai akibat dari kejadian sebelumnya, sehingga kita tidak bisa menghindarinya/tidak punya kendali atasnya) dan kurang diakuinya aspek kesadaran dalam aliran psikoanalisis.

Psikolog humanistik juga mengkritisi Sigmund Freud (tokoh utama aliran psikoanalisis), karena ia mengkaji hanya orang-orang yang mengalami psikosis dan neurosis (mengalami gangguan jiwa).

Psikolog humanistik mempertanyakan, jika psikologi hanya berfokus pada gangguan jiwa, bagaimana psikologi akan mampu mempelajari segala hal tentang mental yang sehat, emosi yang sehat dan berbagai kualitas positif lain yang dimiliki oleh manusia? Dengan lebih fokus pada sisi gelap manusia, psikologi telah mengabaikan keunikan pada kekuatan dan kebaikan yang dimiliki oleh manusia (Schultz & Schultz, 2011).

Oleh sebab itu, sebagai respon atas keterbatasan dari aliran sebelumnya yaitu behaviorisme dan psikoanalisis, psikolog humanistik mengajukan gagasan yang mereka harapkan bisa menjadi kekuatan ketiga dalam psikologi. Psikolog humanistik berusaha mempelajari aspek-aspek yang terabaikan pada manusia oleh aliran-aliran psikologi sebelumnya.

Tokoh Psikologi Humanistik

Berikut adalah beberapa tokoh yang menyuarakan gagasan dalam aliran psikologi humanistik.

Abraham Maslow (1908-1970)

Abraham Maslow adalah bapak psikologi humanistik. Ia tertarik untuk mempelajari capaian terbaik yang mampu dilakukan oleh manusia. Maslow mempelajari beberapa orang hebat untuk mengetahui apa yang membuat mental mereka berbeda dari rata-rata orang pada umumnya.

Sekilas Kehidupan Abraham Maslow

Masa kecil Abraham Maslow dilaluinya dengan kurang bahagia. Ia adalah anak yang menderita karena kesepian dan merasa inferior (rendah diri/minder). Keadaan itu lalu membuatnya mencari pelarian dengan cara belajar dan menyibukkan diri bersama buku-buku (Schultz & Schultz, 2011).

Maslow sempat tertarik dengan konsep behavioral Watson yang menyatakan bahwa pendekatan ilmu alam yang mekanistis dapat menjadi jawaban bagi seluruh permasalahan yang ada di dunia. Kemudian sederet pengalaman pribadi yang dialami oleh Maslow membuatnya berpikir bahwa behaviorisme itu terlalu sempit dalam memahami manusia.

Salah satu peristiwa yang oleh Maslow dianggap berpengaruh besar terhadap hidupnya adalah Perang Dunia II. Ia memutuskan untuk mengembangkan kajian psikologi yang akan berfokus pada cita-cita tertinggi manusia. Ia ingin mengembangkan kepribadian manusia dan menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk berperilaku lebih mulia daripada menebar kebencian, prasangka dan peperangan.

Awalnya, upaya Maslow untuk mengembangkan psikologi humanistik berdampak buruk terhadap dirinya. Ia dikucilkan oleh orang-orang dari kelompok psikologi behavior. Gagasan Maslow dianggap tidak lazim dan terlalu jauh melenceng dari behaviorisme (aliran utama psikologi yang diterima pada masa itu).

Mahasiswa di tempat Maslow mengajar saat itu (Brooklyn College) sebenarnya tertarik dengan gagasan baru yang dibawa olehnya. Akan tetapi, rekan-rekan Maslow di fakultas justru mengabaikannya.

Jurnal penelitian Maslow sempat ditolak untuk dipublikasikan hingga akhirnya pada masa 1951-1969 di Universitas Brandeis, ia dapat mengembangkan serta memperbarui teori-teorinya dan mempublikasikannya dalam bentuk buku populer. Ia mendukung sebuah pergerakan baru dengan gagasan-gagasannya dan pada 1967, Maslow terpilih menjadi Presiden American Psychological Association (APA).

Pada masa tersebut Abraham Maslow layaknya seorang selebriti dan seorang pahlawan yang menciptakan gebrakan, sebuah gerakan baru dan sebuah budaya tandingan. Akhirnya, Abraham Maslow mendapatkan sanjungan atau pengakuan, sesuatu yang sangat ia dambakan sedari kecil. Maslow berhasil membayar lunas segala keraguan atau rasa tak percaya diri sewaktu kanak-kanak dulu.

Gagasan Abraham Maslow

Self Actualization

Menurut Maslow, setiap manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk mengaktualisasikan dirinya (self actualization). Ini adalah kebutuhan tertinggi manusia. Self actualization artinya, aktif menggunakan seluruh kualitas dan kemampuan yang kita miliki dan berusaha mengembangkan seluruh potensi diri.

Menurut Maslow, orang-orang yang berhasil memenuhi kebutuhan atau mencapai aktualisasi diri adalah orang yang sehat secara mental atau bebas dari neurosis. Oleh sebab itu, Maslow meneliti karakteristik pada orang-orang yang dianggap berhasil mengaktualisasikan diri itu, supaya kita dapat mempelajarinya.

Maslow melakukan penelitian dengan cara menganalisis biografi dan sumber tertulis lainnya dari orang-orang hebat seperti: fisikawan Albert Einstein, penulis dan aktivis sosial Eleanor Roosevelt, ilmuwan George Washington Carver dan psikolog Max Wertheimer.

Hasil penelitian Maslow menyatakan bahwa orang-orang yang mampu mengaktualisasikan dirinya memiliki kecenderungan karakter sebagai berikut:

  1. Memiliki persepsi yang objektif terhadap realitas (tidak mudah tertipu oleh apa yang terlihat, merasa nyaman dengan ketidakpastian dan permasalahan, tidak suka berprasangka).
  2. Menerima sepenuhnya diri mereka, orang lain dan alam sebagaimana adanya.
  3. Memiliki komitmen dan dedikasi terhadap apa yang mereka kerjakan (bersungguh-sungguh, berusaha melakukan yang terbaik yang mampu dilakukan).
  4. Mengutamakan kesederhanaan dan keaslian dalam bertindak (spontan, tampil apa adanya, tidak banyak berpura-pura atau tidak sibuk pencitraan).
  5. Mandiri, independen dan menjaga privasi (mampu memisahkan diri, mampu menjadi sendiri tanpa merasa kesepian).
  6. Sering mengalami peak experience (pengalaman puncak, keterlibatan yang mendalam, sangat fokus, sangat menikmati proses dalam suatu aktivitas).
  7. Memiliki kepedulian terhadap kemanusiaan.
  8. Resisten terhadap konformitas (tidak mudah dipengaruhi, tidak mudah ikut-ikutan, tidak mengikuti begitu saja kebiasaan masyarakat yang tak penting).
  9. Bersikap kreatif.
  10. Memiliki social interest (mau berinteraksi dengan lingkungan sosial secara baik dan bertanggung jawab supaya dapat memberikan kontribusi/manfaat bagi lingkungan).
  11. Memiliki selera humor yang filosofis (tidak suka lelucon yang bersifat merendahkan orang lain, lebih suka lelucon tak sekedar membuat orang tertawa tetapi yang mengandung informasi atau makna di dalamnya).
Hierarchy of Needs

Hirarki kebutuhan adalah salah satu gagasan Maslow yang sangat terkenal. Menurut Maslow, manusia memiliki sejumlah kebutuhan yang memang harus kita upayakan untuk dipenuhi supaya bisa hidup seutuhnya dan meraih bahagia.

Berikut adalah hirarki kebutuhan menurut Maslow:

  1. Kebutuhan biologis dan fisiologis: manusia butuh tidur, makan, minum dan seks.
  2. Kebutuhan akan keselamatan dan keamanan: manusia ingin dirinya aman, artinya tidak terancam oleh serangan baik fisik maupun emosi, musibah, bencana, dikekang orang lain, kehilangan, dsb.
  3. Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki: manusia punya kebutuhan untuk terlibat dalam kelompok/ingin dianggap ada, ingin dianggap penting, serta butuh dicintai & mencintai.
  4. Kebutuhan akan penghargaan: manusia ingin dihargai orang lain (mendapat penghormatan, status, hadiah) dan punya kebutuhan untuk menghargai dirinya sendiri (contoh: meyakini diri sendiri sebagai orang yang pintar, suka menolong, rajin menabung dll.).
  5. Kebutuhan akan aktualisasi diri: kebutuhan menyalurkan potensi yang dimiliki. Abraham Maslow menyebut bahwa aktualisasi diri adalah, “What a man can be, he must be.”

Lima kebutuhan yang disebutkan di atas adalah gagasan awal yang diungkapkan oleh Maslow. Seiring waktu, teori tersebut diperbarui. Terdapat tiga macam kebutuhan lagi yang ditambahkan yaitu:

  1. Kebutuhan kognitif: kebutuhan untuk mendapatkan pengetahuan, memperluas dan memperdalam wawasan, memenuhi rasa ingin tahu, bereksplorasi, mendapatkan makna, serta kebutuhan untuk memperkirakan/memprediksi apa yang akan terjadi.
  2. Kebutuhan estetik: kebutuhan untuk merasakan keindahan, keseimbangan atau keselarasan.
  3. Kebutuhan transenden: manusia digerakkan oleh keinginan untuk melakukan sesuatu demi sesuatu yang melebihi dirinya sendiri (misalnya untuk memenuhi keyakinan spiritual tertentu, keinginan untuk melayani orang lain, menciptakan keindahan, mengembangkan ilmu pengetahuan dsb.).

Urutan hirarki kebutuhan Maslow dimulai dari yang terendah ke yang tertinggi, setelah diperbarui adalah sebagai berikut: kebutuhan biologis dan fisiologis, kebutuhan keselamatan dan keamanan, kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan akan penghargaan, kebutuhan kognitif, kebutuhan estetik, kebutuhan aktualisasi diri dan kebutuhan transenden.

Kritik terhadap Abraham Maslow

Data dan metode penelitian yang digunakan oleh Maslow dianggap terlalu kecil dan tidak cukup untuk mewakili generalisasi yang ia lakukan. Subjek penelitiannya juga dipilih hanya berdasarkan kriteria subjektifnya tentang kesehatan mental.

Gagasan Maslow memang menarik namun minim bukti empiris. Istilah yang digunakan oleh Maslow juga dianggap ambigu dan tidak konsisten.

Maslow sendiri mengakui bahwa penelitian yang ia lakukan memang belum bisa memenuhi standar penelitian ilmiah. Namun ia mengklaim bahwa tidak ada cara lain untuk mempelajari aktualisasi diri selain dengan cara seperti yang sudah ia lakukan.

Baginya, apa yang sudah ia kerjakan adalah sebuah studi awal dan ia yakin bahwa kesimpulan-kesimpulannya suatu hari nanti akan terbukti.

Carl Rogers (1902-1987)

Carl Rogers sangat dikenal dengan pendekatan dalam terapi psikologi yang disebut person-centered therapy. Rogers juga mengembangkan teori kepribadian dengan faktor tunggal seperti yang dilakukan oleh Maslow dalam teori aktualisasi diri.

Berbeda dengan Maslow, gagasan-gagasan Rogers bukan berasal dari penelitian yang dilakukan kepada orang yang sehat secara psikis seperti yang dilakukan oleh Maslow. Subjek penelitian Rogers adalah klien-kliennya yang mengikuti person centered therapy di pusat konseling universitasnya.

Rogers menyatakan bahwa manusia mampu secara sadar dan secara rasional mengubah pemikiran dan perilakunya dari yang tidak sesuai dengan harapan menuju ke pikiran dan perilaku yang sesuai harapan.

Rogers tidak setuju jika dikatakan bahwa pikiran dan perilaku kita seterusnya dikendalikan oleh dorongan-dorongan tak sadar atau oleh pengalaman di masa lalu/masa kanak-kanak (seperti yang diyakini dalam konsep psikoanalisis).

Menurut Rogers, kepribadian manusia itu dibentuk oleh masa kini, bukan masa lalu serta dibentuk oleh bagaimana kita secara sadar memaknai segala yang kita alami dalam hidup ini.

Sekilas Kehidupan Carl Rogers

Rogers dibesarkan oleh orangtua yang cenderung kaku sehingga ia sulit untuk mengekspresikan dirinya. Ia suka menyendiri dan sering memendam apa yang sebenarnya ia rasakan.

Rogers meyakini bahwa orang tuanya lebih menyayangi kakaknya daripada dirinya. Hal itu membuat Rogers tumbuh dengan perasaan dinomor duakan dan kesepian. Sama seperti kisah hidup Maslow, kesepian membuat Rogers mencari pelarian dengan membaca buku. Ia terus membaca apa saja yang bisa dibaca, termasuk kamus dan ensiklopedi.

Kesendirian membuat Rogers bergantung pada dirinya sendiri, mengerahkan sumber daya yang ada pada dirinya dan cara pandang pribadinya tentang dunia. Kondisi ini kemudian menjadi dasar atas pendekatannya dalam memahami kepribadian manusia.

Pada usia 22 tahun Rogers mengikuti konferensi mahasiswa di Cina. Ia akhirnya bisa melepaskan diri dari pandangan-pandangan konvensional seperti yang diajarkan orang tuanya dan memiliki filosofi hidup yang lebih bebas.

Perbedaan pendapat antara Rogers dengan orangtuanya selain membuat Rogers merasa terbebaskan ternyata juga membuat ia menjadi lemah secara fisik dan emosi. Tidak lama setelah pulang dari Cina, ia jatuh sakit dan harus tinggal di rumah selama satu tahun sebelum akhirnya ia bisa kembali kuliah.

Rogers menerima gelar Ph.D. di bidang psikologi klinis dan pendidikan dari Columbia University. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia menghabiskan sembilan tahun memberikan pelayanan di Lembaga pencegahan kekerasan terhadap anak.

Pada 1940, ia memulai karir akademiknya dan mengajar di Ohio State University, University of Chicago, dan University of Wisconsin. Selama masa itu ia mengembangkan dan memperbarui teori dan metode psikoterapi yang digagas olehnya.

Perlu diperhatikan bahwa pengembangan teori Rogers kebanyakan bersumber dari mahasiswa yang ditangani di pusat konseling kampusnya. Tipe orang yang ditangani oleh Rogers mayoritas adalah orang yang masih muda, cerdas dan memiliki kemampuan verbal yang bagus. Masalah mereka secara umum lebih banyak tentang kesulitan penyesuaian diri daripada gangguan emosi yang parah, seperti subjek Freud atau psikolog klinis lainnya.

Gagasan Carl Rogers

Menurut Carl Rogers, dorongan paling kuat pada diri manusia adalah keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya.

Meski keinginan untuk mengaktualisasikan diri itu sifatnya alami/bawaan, itu juga dapat ditingkatkan atau diturunkan oleh pengalaman masa kanak-kanak dan proses belajar.

Positive Regard

Rogers menekankan pentingnya hubungan ibu-anak dan pengaruhnya terhadap persepsi si anak tentang dirinya. Jika sang ibu memenuhi kebutuhan si anak untuk mendapatkan positive regard (cinta yang tak bersyarat/tulus dari ibu kepada anaknya), anak cenderung tumbuh dengan kepribadian yang sehat.

Sedangkan jika ibu tidak memenuhi kebutuhan anak akan cinta atau memberi anak cinta namun dengan syarat tertentu (tidak menerima anak apa adanya), anak akan menginternalisasi sikap ibunya dan ia hanya akan merasa dirinya berharga pada kondisi tertentu saja (jika dirinya memenuhi standar tertentu saja).

Hal itu akan membuat anak menghindari perilaku yang berisiko menghadapkannya pada penolakan atau kegagalan. Akibatnya, anak tidak bisa mengembangkan dirinya secara optimal. Anak tidak bisa mengekspresikan seluruh aspek yang dimilikinya karena ia telah belajar bahwa sebagian perilaku akan membuatnya mengalami penolakan.

Self Actualization

Sama dengan konsep aktualisasi diri yang dijelaskan oleh Maslow, Rogers juga mengatakan bahwa aktualisasi diri adalah tingkatan tertinggi dari kesehatan mental. Namun ada beberapa kriteria yang berbeda dari orang yang dikatakan sehat secara mental oleh Rogers.

Menurut Rogers, orang yang sehat secara mental atau yang mampu berfungsi dengan optimal adalah orang-orang yang memiliki ciri sebagai berikut:

  1. Bersikap terbuka dan mau menghargai seluruh pengalaman hidupnya.
  2. Memiliki kecenderungan untuk menjalani hidup sepenuhnya di setiap momen.
  3. Lebih mendengarkan dan mengikuti dirinya sendiri daripada opini atau pandangan orang lain.
  4. Memiliki sense of freedom dalam berpikir dan bertindak.
  5. Memiliki kreativitas tinggi
  6. Terus menerus memiliki keinginan untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki (orang yang terus mau belajar dan mau mengembangkan kemampuan).

Dalam bukunya yang berjudul On Becoming a Person (1961), Carl Rogers menekankan pentingnya spontanitas, fleksibilitas dan kemauan manusia untuk terus bertumbuh. Ia menjelaskan bahwa berfungsi sepenuhnya sebagai manusia berarti actualizing bukan actualized. Dengan kata lain, menjadi manusia bukan hanya soal mencapai sesuatu lalu selesai. Menjadi manusia seutuhnya adalah terus menerus berproses, berupaya dan bergerak maju.

Client Centered Therapy

Dalam Davison, dkk. (2014) disebutkan bahwa client centered therapy Carl Rogers dilandasi oleh beberapa asumsi:

  1. Manusia hanya bisa dipahami melalui titik yang menguntungkan dari persepsi dan perasaannya sendiri. Oleh sebab itu, untuk memahami individu kita harus melihat bagaimana cara pandang mereka terhadap peristiwa, bukan peristiwanya.
  2. Manusia yang sehat sadar akan perilakunya.
  3. Manusia yang sehat, secara alami baik dan efektif.
  4. Manusia yang sehat memiliki tujuan dan diarahkan oleh tujuan itu.
  5. Para terapis seharusnya tidak mencoba memanipulasi peristiwa bagi individu. Mereka harus memudahkan pengambilan keputusan secara independent oleh klien.

Menurut Rogers, manusia harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri, bahkan saat mereka mengalami masalah. Ia meyakini bahwa kapasitas alami individu untuk tumbuh dan mengatur diri sendiri akan muncul dengan sendirinya melalui atmosfer terapeutik yang hangat, penuh perhatian, dan penuh penerimaan. Terapis perlu menerima klien apa adanya dan memberikan unconditional positive regard (penerimaan positif tanpa syarat).

Client centered therapy tidak berorientasi pada teknik. Strategi utama dalam pendekatan ini adalah empati. Awalnya, empati ditunjukkan oleh terapis dengan mengulang apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh klien dengan kata-kata klien. Ini dilakukan untuk membuat klien merasa diterima, dihargai dan dipahami seutuhnya (empati primer) (Davison, dkk, 2014).

Kemudian pada empati tingkat lanjut, terapis akan menyodorkan perspektif baru yang lebih produktif yang mencakup cara baru dalam bertindak. Empati tingkat lanjut dikembangkan berdasarkan informasi sebelumnya yang diperoleh dari sesi-sesi sebelumnya, yang mana terapis telah berkonsentrasi untuk menyampaikan pernyataan empatik level primer.

Arthur Wright Combs (1912-1999)

Arthur Wright Combs adalah orang yang memperjuangkan pendidikan dan konseling humanistik. Ia mengusulkan teori yang menggabungkan nilai-nilai humanistik dengan faktor kognitif.

Combs telah menulis lebih dari 150 artikel dan lebih dari 20 buku yang telah diterjemahkan setidaknya ke dalam delapan bahasa. Combs diakui oleh American Psychological Association karena telah berkontribusi memberikan terobosan untuk teori psikologi, reformasi pendidikan dan penelitian dalam praktik kesehatan mental.

Sekilas Kehidupan Arthur Wright Combs

Combs lahir di Newark, New Jersey pada 1912. Ia tumbuh tanpa komputer dan televisi. Pernikahan ibu dan ayah Combs tidak disetujui oleh kakek-neneknya dari pihak ayah. Situasi itu mempengaruhi hubungan ayah dan ibu Combs, terutama hubungan antara ibu Combs dengan mertuanya.

Situasi itu membuat Ibu Combs merasa rendah diri, tidak mampu, dan merasa ditolak oleh mertuanya. Ia kemudian menaruh ekspektasi yang tinggi atas dirinya dan anak-anaknya.

Sebagai seorang anak, Combs bingung dengan ekspektasi, kecemasan dan ketidakkonsistenan ibunya. Seperti ibunya, Combs juga merasa ditolak dan merasa ragu pada kemampuan dirinya sendiri (kecil hati).

Meski demikian, Combs menemukan kesenangan dengan menjadi seorang siswa. Sama seperti ayahnya, Combs adalah siswa yang pintar dan gemar membaca.

Setelah lulus sekolah, Combs kuliah di Cornell University dengan jurusan ilmu agrikultur. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Ohio State University dengan jurusan pendidikan guru, lalu bekerja sebagai guru biologi di SMA.

Saat bekerja sebagai guru, Combs menyadari bahwa dirinya sangat menikmati bekerja dengan siswa. Ia juga menyadari bahwa siswanya memiliki kebutuhan lebih dari yang ia kira sebelumnya. Combs pun memutuskan untuk belajar tentang konseling sekolah di Ohio State University.

Pada masa itu, ia bertemu dan berinteraksi dengan Carl Rogers yang menjadi mentor sekaligus temannya. Combs juga pernah mengikuti sesi konseling bersama Carl Rogers ketika kecemasan yang dialaminya meningkat.

Combs merasakan manfaat yang besar dari konseling itu. Ia jauh lebih bisa memahami sumber-sumber kecemasannya, memperbaiki hubungan dengan orang tuanya dan akhirnya mampu membebaskan dirinya dari ekspektasi tidak realistis dari orangtuanya yang selama ini menekan dan menghambat dirinya.

Setelah menyelesaikan pendidikan dan tugas akhirnya, ia bekerja di Syracuse University. Sejak itu ia mulai menangani klien dan banyak diundang sebagai pembicara.

Sekitar pertengahan tahun 1940 Combs bertemu dengan Donald Snygg (seorang profesor dari New York State University). Snygg memberinya salinan artikel berjudul “Kebutuhan Sistem Fenomenologi dalam Psikologi”.

Setelah membaca artikel itu, Combs merasa seperti disambar petir. Saat itu ia sedang mencari jawaban atas hubungan antara perilaku dan makna, serta pentingnya empati saat bekerja dengan klien. Artikel itu seperti memberinya pencerahan atas apa yang ia cari selama ini.

Combs pun menghubungi Snygg dan mulai bekerjasama. Mereka mengembangkan teori perseptual sebagai penjelasan atas hubungan antara pengalaman dan perilaku manusia. 

Gagasan Arthur Wright Combs

Perceptual Theory

Combs termasuk salah satu ahli yang menawarkan jembatan pada keyakinan yang bertentangan antara kaum behavioris dan humanis. Combs menyadari pentingnya memberikan kerangka teoritis yang mencakup faktor internal dan eksternal sebagai lawan dari perdebatan faktor internal atau eksternal.

Menurut Combs semua perilaku adalah fungsi dari keyakinan individu terhadap apa yang dialaminya (pemaknaan kita terhadap apa yang kita alami) dan pengalamannya di dunia.

Asumsi utama yang mendasari perceptual theory adalah bahwa orang mampu, akan, dan harus bergerak menuju kesehatan jika ada jalannya untuk mereka. Kemampuan mereka untuk mengenali pilihan terhadap kesehatan, diperluas atau dibatasi oleh bidang persepsi (perceptual field) mereka sendiri (Magnuson, 2012).

Bidang persepsi adalah seluruh alam semesta sebagai pengalaman individu selama waktu tertentu, termasuk individu itu sendiri, dan apa yang dimaknai atau diyakini olehnya.

Hal lain yang berpengaruh terhadap perilaku individu adalah self concept. Konsep diri menjadi komponen utama dari kepribadian. Persepsi tentang siapa diri kita, kita pelajari dari berbagai hal yang kita alami. Dari sana terbentuklah persepsi tentang siapa diri kita, apa yang mampu dan tidak mampu kita lakukan, apa yang bisa kita pilih dan tidak, dan apa yang sebaiknya kita lakukan.

Combs menjelaskan bahwa orang akan berperilaku sejalan dengan bagaimana mereka memandang dunia. Perilaku adalah hasil dari bidang persepsi individu yang bersifat dinamis.

Bagaimana individu melihat dirinya dan situasi di luar dirinya akan menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapai olehnya dan perilakunya. Bagi setiap orang, setiap tindakan itu terlihat masuk akal dan penting.

Apabila individu meragukan kemampuan dirinya untuk menghadapi situasi hidupnya, mereka menjadi rentan. Perasaan terancam atau tidak aman yang mereka rasakan berasal dari enam hal:

  1. Persepsi mereka terhadap situasi.
  2. Ketidaktahuan atau kurangnya informasi.
  3. Persepsi yang tidak konsisten tentang diri mereka sendiri.
  4. Situasi-situasi yang menghasilkan dilema.
  5. Banyaknya aspek di dalam diri mereka yang tidak mereka terima.
  6. Kurangnya kemampuan mengenali diri sendiri.

Combs mengatakan bahwa persepsi dan keyakinan kita terhadap situasi dapat diubah agar respon atau perilaku kita saat menghadapi situasi hidup yang sulit juga berubah (Magnuson, 2012).

Psychological Health

Menurut Combs, orang yang sehat secara psikis adalah mereka yang mampu mengaktualisasikan diri atau menjadi diri seutuhnya. Oleh sebab itu, tujuan terapi psikologi yang dilakukan oleh Combs adalah memfasilitasi terjadinya self actualization individu.

Sama dengan pendapat tokoh humanistik lainnya, Combs juga menyatakan bahwa kesehatan (yang direpresentasikan dengan self actualization) lebih mengarah kepada suatu proses daripada hasil. Individu yang mampu mengaktualisasikan dirinya, menurut Combs akan:

  1. Memiliki persepsi bahwa dirinya disukai, dibutuhkan, penting, diterima, berintegritas dan bermartabat.
  2. Menghadapi pengalaman-pengalaman baru dalam hidupnya dengan penerimaan dan rasa percaya diri, bukan dengan ketakutan.
  3. Mampu menjalin relasi dengan orang lain secara positif (Magnuson, 2012).

Hal-hal tersebut akan membuat individu memiliki wawasan dan sumber daya yang memadai, sehingga mampu memaknai hidupnya dengan tepat dan menjadi sehat secara psikis.

Peran Konselor menurut Arthur Wright Combs

Combs menjelaskan bahwa konselor yang baik adalah mereka yang memiliki persepsi bahwa klien adalah orang yang memiliki kemampuan, ramah dan berharga. Sedangkan konselor yang kurang efektif adalah mereka yang meragukan kualitas-kualitas diri tersebut pada kliennya.

Combs juga berpendapat bahwa sangat penting bagi konselor untuk menghargai dan memahami pengalaman kliennya. Empati yang tinggi dan akurat harus dimiliki konselor agar mampu mengeksplorasi pemahaman klien tentang dunia.

Combs menekankan pentingnya kepekaan dan otentisitas dalam memberikan pengalaman terapeutik kepada klien. Hubungan terapeutik yang demikian itu akan membuat klien merasa diterima seutuhnya sehingga ia dapat lebih memahami dirinya dan mampu menemukan sisi lain atau cara pandang alternatif terhadap situasi yang dialaminya maupun lingkungannya.

Combs mengibaratkan konseling seperti menumbuhkan tanaman. Jika diberikan keadaan yang tepat, tanaman akan tumbuh.

Menurut Combs seperti disebutkan dalam Magnuson (2012), proses konseling dapat diarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Apakah teknik ini dapat membantu klien menerima dirinya dan dunianya?
  2. Apakah suasana yang saya (konselor) ciptakan telah mendukung keterbukaan tentang apa yang dialami klien?
  3. Apakah perilaku saya (sebagai konselor) sudah menunjukkan penerimaan dan keterbukaan terhadap berbagai kemungkinan?
  4. Apakah aku (sebagai konselor) sudah cukup menunjukkan kepada klien bahwa ia tidak perlu merasa takut kepada pengalaman hidupnya. 
Guru Efektif

Combs juga melakukan penelitian dalam bidang pendidikan. Ia melakukan penelitian tentang kualitas guru yang unggul dan praktik terbaik untuk mendidik anak muda. Ia dan rekan-rekannya memulai investigasi dengan asumsi bahwa pengetahuan adalah pembeda utama antara guru yang efektif dan tidak efektif.

Hasil penelitian yang mereka lakukan menemukan bahwa hanya sedikit perbedaan antara kedua kelompok itu ditinjau dari pengetahuan yang dimiliki guru. Mereka kemudian menguji hipotesis kedua, yaitu bahwa efektivitas guru dalam mengajar ditentukan oleh metode atau cara mengajarnya. Hasilnya, lagi-lagi ditemukan bahwa faktor itu (metode) tidak bisa membedakan secara signifikan antara guru yang efektif dan tidak efektif.

Setelah melalui proses panjang, Combs dan rekan-rekannya akhirnya menemukan bahwa yang membedakan antara guru yang efektif dan tidak efektif adalah kualitas pribadi mereka. Menurut Combs, self  adalah instrumen yang penting dalam pengajaran.

Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, Combs menyatakan bahwa pengajaran yang baik adalah hasil dari lima atribut utama yang dimiliki oleh guru yang baik, yaitu:

  1. Empathic qualities

Guru yang baik berorientasi fenomenologis. Mereka sangat menyadari persepsi orang lain dan menggunakan pemahaman itu sebagai acuan untuk menempatkan diri (mengarahkan perilakunya sendiri).

  1. Positive self concept

Guru yang baik memiliki konsep diri yang positif. Mereka memandang dirinya sendiri dengan cara yang positif.

  1. Beliefs about other people

Guru yang baik melihat orang lain dengan cara yang positif. Guru yang baik mampu meyakini bahwa orang lain itu mampu (capable), dapat dipercaya, ramah dsb.

  1. Open, facilitating purposes

Guru yang baik bersikap terbuka, berusaha memfasilitasi (memudahkan/membantu) dan mengutamakan proses.

  1. Authenticity

Guru yang baik, tampil sebagai dirinya sendiri (otentik), apa adanya dan tulus.

Karakteristik guru yang efektif seperti yang disebutkan di atas, juga diterapkan pada profesi lain seperti konselor, menteri, perawat dan manajer.

Saya adalah blogger dan penulis lulusan S1 Psikologi Universitas Airlangga. Selain menulis saya juga aktif sebagai asisten psikolog di Pusat Layanan Psikologi BE Psychology.